Informasi Mengenai Relasi Antarmakna Leksikal yang Perlu Kalian Ketahui

20220708_212102_0000

Relasi antarmakna memanifestasikan perpikiran manusia. Manifestasi perpikiran manusia diutarakan dalam wujud relasi kesamaan makna, kelawanan makna, kecakupan makna, dan kejaminan makna. Melalui bahasa, manusia bertujuan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan sikap. Maka dari itu, ulasan dan analisis mengenai relasi antarmakna leksikal wajib diterima sebagai suatu ulasan mengenai perpikiran manusia pengguna bahasa. Menurut Parera (2004: 60) relasi antara satu makna dengan makna yang lain secara leksikal dibagi atas sinonim/sinonimi, antonym/antonimi, penjaminan makna, hipermini dan hiponimi, homonimi, dan polisemi.

Relasi antarmakna yang pertama adalah sinonim. Menurut Kridalaksana (dalam Suwandi, 2022: 123-124) sinonim adalah wujud bahasa yang memiliki kemiripan atau kesamaan dengan wujud lain; kesamaan tersebut berlaku untuk kata, kelompok kata, atau kalimat, meskipun biasanya yang dikatakan sinonim hanya kata saja. Contoh:

  • Kemarin malam kakek Kia tutup usia .
  • Kemarin malam kakek Kia menghembuskan nafas terakhir.

Frasa tutup usia dan menghembuskan nafas terakhir merupakan sinonim karena memiliki makna yang sama, yakni meninggal dunia.

Relasi antarmakna yang kedua adalah antonim. Antonim ini merupakan kebalikan dari sinonim, apabila sinonim merupakan persamaan makna, maka antonim adalah perlawanan makna. Kridalaksana (dalam Suwandi, 2022: 128-129) menjelaskan bahwa antonimi adalah perbandingan makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan; sedangkan antonim merupakan leksem yang berpasangan secara antonimi. Contoh:

  • Produk yang dijualnya sangat mahal.
  • Produk yang dijualnya sangat murah.

Kata mahal dan murah adalah antonim, yakni memiliki makna yang berlawanan.

Relasi antarmakna yang ketiga adalah penjaminan makna. Apabila kita menyebutkan “apel”, maka terdapat jaminan bahwa apel adalah buah. Namun, apabila kita menyebutkan “buah”, maka belum terdapat jaminan makna bahwa buah adalah apel. Dari penjelasan singkat tersebut, dapat diartikan bahwa penjaminan makna, yakni sebagai berikut: sebuah pernyataan X menjamin makna dari pernyataan Y jika kebenaran pernyataan Y merupakan akibat kebenaran dari pernyataan X.

Relasi antarmakna yang keempat, yakni hipernim dan hiponim. Hiponim merupakan kata yang berada di jajaran bawah atau kata yang memiliki makna spesifik. Sedangkan hipernim merupakan kata tingkat atas yang menaungi hiponim atau biasa diketahui dengan kata yang memiliki makna generik (Suwandi, 2022). Contoh:

  • Hiponim: bunga
  • Hipernim : tumbuhan
  • Hiponim: unggas
  • Hipernim: Hewan

Dari contoh tersebut, hiponim bunga dinaungi oleh hipernim tumbuhan, dan hiponim unggas dinaungi oleh hipernim hewan.

Relasi antarmakna yang kelima adalah homonimi dan homonim. Menurut Kridalaksana (dalam Suwandi, 2022) memaparkan bahwa homonimi merupakan relasi antara kata yang ditulis dengan yang dilisankan dengan cara yang sama, namun memiliki makna yang berbeda. Sedangkan homonim merupakan kata yang mengalami homonimi dengan kata lain. Contoh:

Kata “abu”. Kata tersebut dapat memiliki makna yang berbeda, yakni abu yang berarti sisa pembakaran, dan abu yang berarti bapak.

Contoh lain adalah kata “genting”. Kata tersebut memiliki perbedaan makna, yakni genting yang bermakna atap, dan genting yang bermakna suasana tegang atau mendesak.

Dari contoh tersebut, kata abu dan kata genting merupakan kata yang dilisankan dan ditulis dengan cara yang sama dan memiliki makna yang berbeda.

Relasi antarmakna yang terakhir adalah polisemi. Menurut Suwandi (2022: 138) menjelaskan bahwa polisemi merupakan penggunaan wujud bahasa seperti kata, frasa, dan sebagainya yang memiliki makna ganda atau makna beragam. Contoh:

  • Tangan kanan Dita dioperasi karena mengalami patah tulang.
  • Dita diamanahi menjadi tangan kanan dari Ibu Guru.

Berdasarkan contoh tersebut, frasa tangan kanan memiliki makna yang berbeda. Pada contoh 1, tangan kanan yang dimaksud adalah tangan bagian kanan. Sedangkan pada contoh 2, tangan kanan yang dimaksud adalah orang kepercayaan.

Contoh lain dari polisemi, yakni:

  • Kepala perpustakaan itu akan datang pukul 12 siang.
  • Mimi merasa pusing setelah kepalanya terbentur tembok.

Berdasarkan contoh tersebut, kepala pada contoh 1 berarti pemimpin perpustakaan. Sedangkan kepala pada contoh 2 berarti anggota tubuh, yakni kepala

Dari semua penjelasan di atas dapat diketahui hubungan-hubungan antara makna satu dengan makna yang lain, seperti sinonim/sinonimi, antonim/antonimi, penjaminan makna, hipermini dan hiponimi, homonimi, dan polisemi.

Referensi:

Parera, J. D. (2004). Teori semantik . Jakarta: Erlangga.

Suwandi, S. (2022). SEMANTIK: Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa.

1 Like