Ikatan Tiga Tahun

Ini sepenggal kisahku dari beratus-ratus kisah yang terjadi semasa aku menimba ilmu di pondok pesantren.

Sebuah kisah yang dimulai dari pertama kali aku keluar dari MTs, aku memutuskan untuk melanjutkan bersekolah di sebuah daerah Brebes, di sana aku melanjutkan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan atau biasa kita singkat SMK. Berhubungan sekolahku jaraknya lumayan jauh dari rumah, aku memutuskan untuk mondok karena memang dari awal aku diharuskan sekolah harus dibarengi dengan mondok. Kalau kata orang tuaku, “Biar seimbang antara dunia dan akhirat, jangan kejar dunianya saja.” Ibu berkata demikian, maka dari itu aku sebagai anak menurut kata orang tua saja karena aku yakin apa yang dikatakan oleh orang tua itu pasti yang terbaik untuk anaknya.

Kisahku dimulai dari awal masuk pondok.

Pertama kali aku menjalani hariku terasa berat karena sudah terbiasa di rumah bisa bermain ke sana-sini bareng teman-temanku apalagi tidak boleh membawa handphone, itu merupakan hal yang paling berat yang harus aku sanggupi, karena aku termasuk orang yang bisa lepas dari benda kecil itu.

Pada hari berikutnya sampai sekitar satu bulan aku masih sering menangis dan merasa tertekan karena kegiatan terlalu padat, peraturan yang begitu banyak dan ketat, apalagi aku orang yang tipe apa-apa semaunya sendiri tiba-tiba harus diikat oleh banyak aturan, tapi aku mencoba sabar dan ikhlas untuk menjalaninya, karena aku percaya jika kita menjalani dengan ikhlas dan mau menerima pasti semuanya akan terasa mudah dan ringan. Sampai pada akhirnya aku merasa betah di pondok dan mulai terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang harus aku jalani semasa di pondok, aku sudah mulai mau bergabung dengan teman-teman, dan aku juga sudah mulai akrab dengan beberapa ustadzah yang ada di pondok. Sampai suatu ketika dimana aku naik ke kelas dua di pondok atau kelas XI di SMK, aku diundang oleh ustadzahku, aku merasa bingung dan khawatir apakah aku membuat kesalahan sampai-sampai aku dipanggil ustadzah untuk menghadap beliau, tapi alhamdulillah ternyata semua pradugaku tidak benar dan maksud dari ustadzahku memanggilku ternyata karena aku diutus untuk menjadi anggota pengurus pondok, karena akan ada pergantian pengurus yang masa jabatannya memang sudah mau selesai.

Singkat cerita dalam hari itu aku diberi beberapa penjelasan mengenai mengapa ustadzah mempercayai aku untuk menjadi bagian dari pengurus pondok, pada waktu itu aku sangat bingung karena aku ragu untuk menerima amanah yang menurutku sangat berat, tapi mau menolak pun justru tambah tidak enak, agak-agaknya aku merasa sangat tidak sopan kalau ingin menolak, akan tetapi aku mengingat suatu hal yang pernah dikatakan oleh kakak-kakak kamar. Mereka pernah bilang, “Pasti kamu nanti akan jadi bagian dari pengurus, nanti kalo kamu terima jadi pengurus kita nggak mau deket-deket sama kamu lagi, pengurus kan pasti suka caper ke ustadzah dan suka banyak omong, apalagi suka ngatur-ngatur pasti,” dia berkata seperti itu. Pada saat itu pun aku meminta kepada ustadzahku untuk memberikan waktu untuk berpikir apakah aku harus menerima atau menolaknya, dan alhamdulillah ustadzahku pun mengizinkanku untuk berfikir terlebih dahulu, setelah itu aku berpamitan kepada beliau untuk kembali ke kamar. Setelah kembali ke kamar, aku diwawancarai dengan berbagai macam pertanyaan oleh teman-teman kamarku, itu memang seperti tepat dugaanku, aku pun menjawab dengan sejujur-jujurnya, karena jujur aku juga masih bimbang untuk menerima dan masih ragu apa aku bisa mengemban tugas seberat itu, tapi respon mereka diluar pradugaku, alhamdulillah mereka mendukung semua keputusan yang akan aku ambil. Setelah aku renungkan dan dipikirkan matang-matang, aku menerima perintah dari ustadzahku, dan aku menjalani hari-hariku dengan baik, serta banyak sekali pembelajaran-pembeajaran dan ilmu-ilmu yang aku dapat dari mondok selama tiga tahun tersebut walaupun perjalanannya tidak semulus ekspetasi-ekspetasiku, tapi alhamdulillah aku bisa bertahan sampai lulus selama tiga tahun.

Itulah sepenggal kisahku mengenai perjalananku selama menimba ilmu di pondok pesantren. Ini sepenggal kisahku dari beratus-ratus kisah yang terjadi semasa aku menimba ilmu di pondok pesantren.

Sebuah kisah yang dimulai dari pertama kali aku keluar dari MTs, aku memutuskan untuk melanjutkan bersekolah di sebuah daerah Brebes, di sana aku melanjutkan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan atau biasa kita singkat SMK. Berhubungan sekolahku jaraknya lumayan jauh dari rumah, aku memutuskan untuk mondok karena memang dari awal aku diharuskan sekolah harus dibarengi dengan mondok. Kalau kata orang tuaku, “Biar seimbang antara dunia dan akhirat, jangan kejar dunianya saja.” Ibu berkata demikian, maka dari itu aku sebagai anak menurut kata orang tua saja karena aku yakin apa yang dikatakan oleh orang tua itu pasti yang terbaik untuk anaknya.

Kisahku dimulai dari awal masuk pondok.

Pertama kali aku menjalani hariku terasa berat karena sudah terbiasa di rumah bisa bermain ke sana-sini bareng teman-temanku apalagi tidak boleh membawa handphone, itu merupakan hal yang paling berat yang harus aku sanggupi, karena aku termasuk orang yang bisa lepas dari benda kecil itu.

Pada hari berikutnya sampai sekitar satu bulan aku masih sering menangis dan merasa tertekan karena kegiatan terlalu padat, peraturan yang begitu banyak dan ketat, apalagi aku orang yang tipe apa-apa semaunya sendiri tiba-tiba harus diikat oleh banyak aturan, tapi aku mencoba sabar dan ikhlas untuk menjalaninya, karena aku percaya jika kita menjalani dengan ikhlas dan mau menerima pasti semuanya akan terasa mudah dan ringan. Sampai pada akhirnya aku merasa betah di pondok dan mulai terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang harus aku jalani semasa di pondok, aku sudah mulai mau bergabung dengan teman-teman, dan aku juga sudah mulai akrab dengan beberapa ustadzah yang ada di pondok. Sampai suatu ketika dimana aku naik ke kelas dua di pondok atau kelas XI di SMK, aku diundang oleh ustadzahku, aku merasa bingung dan khawatir apakah aku membuat kesalahan sampai-sampai aku dipanggil ustadzah untuk menghadap beliau, tapi alhamdulillah ternyata semua pradugaku tidak benar dan maksud dari ustadzahku memanggilku ternyata karena aku diutus untuk menjadi anggota pengurus pondok, karena akan ada pergantian pengurus yang masa jabatannya memang sudah mau selesai.

Singkat cerita dalam hari itu aku diberi beberapa penjelasan mengenai mengapa ustadzah mempercayai aku untuk menjadi bagian dari pengurus pondok, pada waktu itu aku sangat bingung karena aku ragu untuk menerima amanah yang menurutku sangat berat, tapi mau menolak pun justru tambah tidak enak, agak-agaknya aku merasa sangat tidak sopan kalau ingin menolak, akan tetapi aku mengingat suatu hal yang pernah dikatakan oleh kakak-kakak kamar. Mereka pernah bilang, “Pasti kamu nanti akan jadi bagian dari pengurus, nanti kalo kamu terima jadi pengurus kita nggak mau deket-deket sama kamu lagi, pengurus kan pasti suka caper ke ustadzah dan suka banyak omong, apalagi suka ngatur-ngatur pasti,” dia berkata seperti itu. Pada saat itu pun aku meminta kepada ustadzahku untuk memberikan waktu untuk berpikir apakah aku harus menerima atau menolaknya, dan alhamdulillah ustadzahku pun mengizinkanku untuk berfikir terlebih dahulu, setelah itu aku berpamitan kepada beliau untuk kembali ke kamar. Setelah kembali ke kamar, aku diwawancarai dengan berbagai macam pertanyaan oleh teman-teman kamarku, itu memang seperti tepat dugaanku, aku pun menjawab dengan sejujur-jujurnya, karena jujur aku juga masih bimbang untuk menerima dan masih ragu apa aku bisa mengemban tugas seberat itu, tapi respon mereka diluar pradugaku, alhamdulillah mereka mendukung semua keputusan yang akan aku ambil. Setelah aku renungkan dan dipikirkan matang-matang, aku menerima perintah dari ustadzahku, dan aku menjalani hari-hariku dengan baik, serta banyak sekali pembelajaran-pembeajaran dan ilmu-ilmu yang aku dapat dari mondok selama tiga tahun tersebut walaupun perjalanannya tidak semulus ekspetasi-ekspetasiku, tapi alhamdulillah aku bisa bertahan sampai lulus selama tiga tahun.

Itulah sepenggal kisahku mengenai perjalananku selama menimba ilmu di pondok pesantren.