Air datang tanpa aba-aba.Tidak ada sirene, tidak ada peringatan yang benar-benar terdengar jelas dan tidak ada suara apapun. Hanya hujan yang sejak sore jatuh lebih deras dari biasanya, lalu berubah menjadi suara gemuruh yang membuat tanah bergetar hebat. Saat itulah Satria tahu, bahwa malam itu desanya tidak akan baik-baik saja dan akan terjadi sebuah bencana.
Ia sedang duduk di ruang tengah ketika air mulai merembes dari bawah pintu rumahnya. Awalnya hanya setipis jari, lalu setinggi mata kaki, dan dalam hitungan menit berubah menjadi arus cokelat yang membawa banyak lumpur dan potongan potongan kayu. Ibunya menjerit panik, ayahnya berusaha menyelamatkan surat-surat penting, sementara Satria menggendong adiknya yang terus menangis tanpa henti karena ketakutan.
“Ke luar! Cepat!” teriak ayahnya.
Mereka keluar rumah saat air sudah setinggi pinggang orang dewasa. Satria masih sempat menoleh ke belakang melihat rumah papan yang dibangun ayahnya bertahun-tahun lalu tampak goyah dan tidak kuat, seperti orang tua yang kelelahan menahan beban beban. Dalam gelap dan hujan, mereka berjalan tertatih tatih menuju jalan raya, berharap ada tempat yang lebih tinggi untuk berlindung.
Malam itu, desa mereka tenggelam. Di posko pengungsian, Satria duduk bersandar pada dinding sekolah dasar yang kini berubah fungsi menjadi posko darurat. Lantainya dingin, bau lumpur bercampur dengan bau keringat dan air hujan. Di sekelilingnya, orang-orang banyak yang menangis, terdiam, atau saling menyalahkan. Ada yang kehilangan rumah,ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan ternak, bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga.
Satria menyalakan ponselnya yang hampir kehabisan baterai itu. Ia menonton sebuah video yang dibagikan berkali-kali di grup warga. Judul video itu membuat dadanya sesak yang berjudul “Bencana Sumatera, Salah Siapa?”
Ia ingin tertawa pahit.
“Salah siapa?” gumamnya pelan. “Kalau rumahku sudah hanyut, pertanyaan itu rasanya datang terlambat.”
Esok paginya, ketika hujan mulai reda, Satria kembali ke desanya. Jalanan dipenuhi lumpur setinggi betis. Rumah-rumah rata dengan tanah, perabotan berserakan,hewan ternak banyak yang mati dan batang-batang kayu besar yang menyumbat aliran sungai. Rumahnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya pondasi miring dan potongan kasur yang tersangkut di pagar tetangga. Ibunya menangis tertahan. Ayahnya hanya diam, menatap kosong, seolah seluruh tenaganya habis bersama runtuhnya rumah itu.
“Dulu di hulu masih hutan,” kata seorang tetangga pelan.
“Sekarang sudah jadi kebun semua.”
Kalimat itu terngiang di kepala Satria. Ia teringat bagaimana bukit hijau perlahan gundul, bagaimana sungai makin dangkal dan keruh setiap tahun, dan bagaimana warga hanya bisa pasrah karena keputusan-keputusan besar selalu dibuat jauh dari desa mereka. Beberapa hari kemudian, bantuan datang. Ada mie instan, selimut, beras dan janji-janji pemulihan. Pejabat datang sebentar, berfoto, lalu pergi. Satria berdiri di kejauhan, tak tahu harus marah atau lelah atau harus bagaimana. Baginya, bantuan itu penting, tetapi tidak cukup untuk mengembalikan rumah, kenangan, dan rasa aman yang hilang.
Malam itu, di tenda pengungsian, Satria kembali menonton video itu. Kali ini ia mematikannya sebelum selesai. Ia akhirnya mengerti bahwa sebagai korban langsung, ia tidak hanya ingin tahu siapa yang salah, tetapi siapa yang mau bertanggung jawab dan mencegah agar ini tidak terulang. Ia tidak ingin adiknya tumbuh dengan ketakutan setiap kali hujan turun.Satria menatap langit malam yang kini lebih tenang. Di balik lelah dan sedih, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika suatu hari ia punya suara, ia akan menggunakannya. Agar bencana tidak lagi hanya menjadi angka berita, dan korban tidak lagi sekadar cerita singkat yang mudah dilupakan.Karena bagi Satria, banjir bukan sekadar peristiwa alam.Ia adalah kehilangan yang nyata.Dan korban seperti dirinya adalah saksi hidup dari kesalahan yang terlalu lama dibiarkan
