Gethuk Sebagai Makanan Khas Magelang


Sumber: foto pribadi

Magelang, sebuah kota yang diapit oleh pegunungan subur dan menjadi rumah bagi Candi Borobudur yang megah, menawarkan lebih dari sekadar pesona sejarah dan pemandangan alam. Kota sejuk ini juga merupakan destinasi kuliner yang kaya rasa, di mana setiap sudutnya menyimpan cita rasa otentik yang memanjakan lidah. Dari hidangan utama yang legendaris serta oleh-oleh khasnya. Magelang membuktikan dirinya sebagai surga bagi para pencinta makanan. Tak lengkap rasanya kunjungan ke sini tanpa membawa pulang oleh-oleh ikonik Gethuk Trio yabg menjadi simbol betapa kayanya warisan kuliner kota ini.

Ragam Makanan Magelang
Magelang menawarkan kekayaan kuliner khas Jawa Tengah yang beragam, di mana penganan manis berbahan dasar singkong seperti Getuk menjadi primadona utama dan identitas kota, terutama varian modernnya seperti Gethuk Trio yang berlapis tiga warna. Selain aneka getuk, Magelang juga memiliki hidangan tradisional yang mengenyangkan, seperti Kupat Tahu dengan kuah manis gurihnya, dan kuliner unik seperti Nasi Lesah yang mirip soto dengan kuah santan encer. Tak lupa, jajanan gurih seperti slondok yang renyah dari singkong, hingga kuliner malam legendaris seperti wedang kacang dan aneka nasi godok atau Magelangan, semuanya wajib dicoba saat berkunjung ke kota ini.

Apa itu Gethuk?
Getuk adalah salah satu makanan ringan tradisional khas masyarakat Jawa, yang dibuat dari bahan utama singkong atau ketela pohon yang memiliki filosofi kesederhanaan. Secara umum, proses pembuatannya melibatkan pengukusan singkong hingga matang, kemudian dihaluskan atau ditumbuk, lalu dicampur dengan pemanis seperti gula pasir atau gula merah, dan seringkali diberi pewarna makanan untuk tampilan yang menarik. Getuk, yang populer di Magelang, Yogyakarta, dan Jawa Timur, disajikan dalam berbagai bentuk, mulai dari Getuk Lindri yang dipotong memanjang dan ditaburi parutan kelapa, hingga inovasi modern seperti Getuk Trio yang berlapis warna.

Sejarah singkat gethuk
Sejarah singkat gethuk dimulai pada masa penjajahan Jepang ketika beras sulit didapat, sehingga masyarakat Magelang beralih menggunakan singkong sebagai bahan pangan pokok pengganti. Mbah Ali Mohtar dari Magelang adalah salah satu yang pertama kali berinovasi mengolah singkong menjadi gethuk dengan menumbuknya hingga halus, yang menimbulkan bunyi ‘tuk-tuk’ sehingga dinamai “gethuk”. Sejak saat itu, gethuk berkembang menjadi berbagai varian dan memiliki makna simbolis tentang kesederhanaan dan kreativitas masyarakat dalam menghadapi krisis.

Proses Pembuatan Gethuk
Pembuatan gethuk trio dimulai dengan mengukus singkong yang sudah dikupas dan dibersihkan hingga benar-benar empuk. Setelah matang, singkong diangkat selagi masih panas dan ditumbuk atau digiling sampai halus dan lembut. Dalam proses ini, singkong dicampur dengan gula pasir, sedikit garam, dan vanili, lalu diaduk hingga semua bahan tercampur rata. Adonan singkong yang sudah halus kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Setiap bagian diberi pewarna makanan yang berbeda: satu bagian diberi warna merah muda, satu bagian tetap putih, dan satu bagian lagi diberi warna cokelat dengan tambahan gula merah atau bubuk cokelat. Setelah itu, masing-masing adonan dipipihkan, lalu ditumpuk menjadi tiga lapisan berbeda warna. Adonan yang sudah ditumpuk kemudian dipotong-potong sesuai selera dan disajikan dengan taburan kelapa parut yang sebelumnya sudah dikukus. Sama seperti gethuk trio, proses pembuatan gethuk lindri diawali dengan mengukus singkong hingga matang dan empuk. Singkong yang masih panas kemudian ditumbuk atau digiling sampai halus bersama gula pasir, vanili, dan sedikit margarin hingga adonan menjadi kalis.

Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian diberi pewarna makanan yang berbeda, seperti merah, hijau, dan kuning. Selanjutnya, adonan yang sudah diwarnai digiling menggunakan cetakan khusus berbentuk lembaran dengan guratan-guratan khas, atau dapat pula digiling manual dan dibuat garis-garis menggunakan alat khusus. Lembaran gethuk yang sudah tercetak digulung atau ditumpuk dan dipotong-potong kecil, lalu disajikan dengan taburan kelapa parut yang sudah dikukus dengan sedikit garam. Ciri khas gethuk lindri adalah tampilannya yang beraneka warna dan bertekstur unik karena digiling sebelum dipotong.

Kenapa gethuk harus dilestarikan?
Penggunaan singkong dalam makanan menunjukkan keterhubungan masyarakat dengan sumber daya alam di sekitar mereka. Gethuk biasanya disajikan dalam acara-acara tradisional, seperti syukuran atau perayaan dan biasanya menjadi camilan sehari-hari. Hal ini menjadikan getuk bagian dari warisan kuliner yang harus dilestarikan. Sehingga dengan terus melestarikannya, kita dapat memberdayakan ekonomi lokal dan memperkenalkan kekayaan gastronomi Indonesia kepada dunia.