Pernahkah kamu melihat seorang remaja Ketika belajar sambil mendengarkan musik di Spotify, membuka sepuluh tab di laptop, dan sesekali melirik notifikasi TikTok? Nah bagi generasi yang lebih tua, pemandangan ini mungkin terlihat aneh dan sulit dimengerti. Namun, untuk Generasi Z, inilah cara mereka menghidupkan dunianya.
Generasi Z atau biasa disingkat Gen Z , mereka yang lahir diantara tahun 1997 hingga 2012. Gen Z itu bukan sekadar generasi yang hanya “melek teknologi”. Mereka adalah penduduk asli digital yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet. Kondisi ini membawa pergeseran besar dalam cara otak mereka memproses informasi, yang pada akhirnya memberi tantangan besar bagi sistem Pendidikan kita.
Bagi Gen Z, duduk diam selama dua jam dan mendengarkan ceramah satu arah terasa seperti siksaan. Mereka terbiasa dengan konten singkat, padat, dan visual. Itulah mengapa platform seperti YouTube, Reels, atau TikTok menjadi “guru” favorit untuk belajar. Bukan lagi cara monoton yang ada di dalam kelas.
Mungkin kamu juga merasakan Ketika belajar melalui video tutorial 3 menit jauh lebih masuk ke otak daripada membaca buku 30 halaman. Ini itu bukan karena malas, tetapi karena Gen Z sangat menghargai efisiensi waktu. Mereka ingin tahu secara cepat dan tepat. Gen Z itu suka cara instan.
Dahulu, sekolah adalah satu-satunya sumber ilmu. Sekarang? Ilmu ada di genggaman tangan kamu. Tantangan bagi dunia pendidikan adalah ketika guru bukan lagi satu-satunya pemegang otoritas informasi.
Gen Z bisa dengan mudah melakukan cross-check informasi yang diberikan di kelas melalui mesin pencari. Di sini, peran pendidik perlu bergeser: dari sekadar “pemberi tahu” menjadi “fasilitator” atau teman diskusi yang membantu kamu memilah mana informasi yang benar dan mana yang hoaks.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang dididik dengan mental “tahan banting” yang kaku, Gen Z sangat peduli pada aspek psikologis. Bagi mereka, ruang belajar yang aman bukan hanya soal gedung yang kokoh, tapi juga suasana yang mendukung kesehatan mental.
Metode belajar yang terlalu menekan justru bisa membuat mereka menutup diri. Mereka mencari hubungan yang lebih manusiawi dengan pengajar—hubungan yang berbasis empati, di mana mereka merasa didengar dan dimengerti sebagai manusia, bukan sekadar angka di buku nilai.
Meski hebat dalam multitasking, tantangan terbesar Gen Z adalah kedalaman (depth). Karena terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat, terkadang muncul kesulitan saat harus melakukan observasi mendalam atau riset yang membutuhkan waktu lama.
Dunia pendidikan kita saat ini sedang berdiri di persimpangan jalan. Kita tidak bisa memaksa burung rajawali untuk belajar dengan cara kura-kura berjalan. Generasi Z adalah generasi yang cerdas dengan caranya sendiri. Tantangannya bukan pada kemampuan kamu untuk belajar, melainkan pada keberanian dunia pendidikan untuk mengubah cara mengajar. Mari kita ciptakan ruang belajar yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga memeluk jiwa.