Di lereng Bukit Barisan, berdirilah sebuah desa kecil bernama Aek Loba, Sumatera Utara. Desa itu dikelilingi hutan lebat yang selama puluhan tahun menjadi pelindung kehidupan warganya. Sungai Aek Loba mengalir di bawah desa, memberi air bagi sawah, kebun kopi, dan ternak warga. Pak Rahman, petani kopi tua, yang tinggal bersama istrinya Bu Siti, dan cucu mereka, Budi. Pak Rahman duduk di depan rumah kayunya memandang hutan lebat yang membentangi sungai. “Hutan ini penjaga kita” katanya suatu pagi pada Bu Siti. “ia menahan hujan, menjaga tanah, dan melindungi kita tanpa pernah meminta imbalan.”
Budi sering bermain di tepi sungai sepulang sekolah. Ia suka mendengarkan cerita kakeknya tentang masa lalu, ketika hujan masih utuh dan sungai tak pernah meluap. Dulu, kata Pak Rahman, suara binatang liar masih terdengar dan air sungai selalu jernih.
Tetapi beberapa tahun belakangan, truk-truk besar datang membawa pekerja, membuka lahan untuk kebun sawit baru. “Katanya untuk lapangan kerja,” gumam Pak Rahman pada istrinya. “Tapi kenapa hutan kita yang dikorbankan?” Perusahaan besar dari kotak punya izin resmi, katanya. Pemerintah bilang itu untuk ekonomi. Warga desa mendapat upah harian, tapi hanya sementara.
Pak Rahman terdiam sesaat, ia tahu kemajuan yang dijanjikan tidak selalu sejalan dengan keselamatan. “Pohon-pohon itu yang menahan air,” gumamnya saat melihat sekeliling. “kalau semua ditebang, sungai, akan mencari jalannya sendiri”
Selain perkebunan sawit, aktivitas tambang illegal juga mulai muncul di hulu sungai. Tanah digali tanpa kendali meninggalkan lubang-lubang besar yang menganga. Awalnya, perubahan itu tak terasa mencolok. Namun, saat musim hujan tiba, sungai mulai sering meluap meski hujan tak terlalu deras. Longsor kecil terjadi di lereng bukit, membawa tanah dan ranting ke aliran sungai.
“Ini bukan kebetulan,” kata Bu Siti dengan nada cemas. “Alam sedang memberi peringatan.” Pak Rahman teringat tayangan di ponsel nya tentang banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatera. Dalam berita itu, bencana selalu disebut sebagai musibah alam, seolah-olah manusia tak punya peran apapun.
Saat itu curah hujan ekstrem. Siklon tropis datang, hujan turun deras berhari-hari. Tanpa akar pohon yang kuat menahan tanah, lereng-lereng longsor. Sungai Aek Loba yang biasanya tenang, kini mengamuk. Air coklat bercampur lumpur dan gelondongan kayu besar hanyut deras, menerjang apa saja di depannya.
Malam itu, Pak Rahman terbangun oleh suara gemuruh. “Banjir bandang!” teriak tetangga. Mereka berlari ke tempat tinggi, tetapi rumah-rumah kayu banyak yang tak kuat. Pak Rahman buru-buru membangunkan Bu Siti dan Budi. “cepat, ke bukit tinggi!” Mereka lari dalam gelap, air sudah setinggi lutut. Budi menangis memeluk neneknya saat melihat rumah mereka tersapu. Gelondongan-gelondongan itu, bekas pohon yang di tebang, menjadi senjata mematikan yang menghancurkan sawah, menabrak jembatan, rumah, dan menelan nyawa.
Satu gelondongan besar menghantam rumah Pak Rahman, sehingga dinding nya jebol. Bu Siti terpeleset, terseret arus. “Bu! Siti!” jerit Pak Rahman, tapi air terlalu kuat. Dia pegang Budi erat-erat, naik ke bukit sambil berdoa. Pagi harinya, desa seperti telah terjadi perang. Rumah-rumah hilang, sawah tertimbun lumpur. Korban banyak, ratusan orang hilang dan meninggal.
Pak Rahman selamat dengan Budi, tapi Bu Siti belum ditemukan. Dia duduk di pengungsian sementara, mata kosong memandang sungai yang kini tenang seolah tak pernah menyimpan amarah. Relawan datang membawa makanan dan selimut. Salah satunya, seorang gadis muda bernama Sari, aktivis lingkungan. “Ini bukan cuma hujan, Pak,” katanya. “Deforestasi ini.. hutan hilang, air tidak ada yang menahan. Perusahaan sawit dan tambang mendapat untung, tapi kita yang rugi.”
Pak Rahman mengangguk pelan. “Salah siapa ini? pemerintah yang memberikan izin longgar? atau kita yang diam saja?” Sari menjawab, “Semua punya andil, tapi sekarang kita bisa mengubahnya. Mari tanam pohon lagi.” Beberapa minggu kemudian, setelah banjir surut, war kamu alay membersihkan desa. Pak Rahman mengikuti program reboisasi dari pemerintah dia juga mengajak Budi untuk menanam bibit pohon di lereng gundul. “Ini untuk nenekmu, Nak,” katanya sambil menepuk bahu cucunya. “dan untuk masa depan kita.”
Desa Aek Loba tak sama lagi. Banyak yang kehilangan keluarga, rumah, dan mata pencaharian. Tapi dari tragedi itu, mereka belajar dan tumbuh kesadaran baru. Pak Rahman berharap, bencana ini menjadi pelajaran bahwa alam bukan musuh, melainkan korban dari keserakahan manusia.