Fungsi Sintaksis Dalam Bahasa Indonesia dan Pelesapannya Dalam Kalimat Majemuk

Dalam berkomunikasi yang baik tentunya diperlukan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh pendengar maupun penutur kalimat. Di dalam cabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang bahasa secara terperinci, terdapat salah satu ilmu yang mengkaji tentang hubungan antarkata dan kalimat dalam tuturan yang disebut sintaksis. Ramlan (1996:21) mengatakan bahwa sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Beberapa unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup ilmu sintaksis sendiri adalah frasa, klausa, dan kalimat. Dalam kalimat perlu diperhatikan antara kategori sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran sintaksis.

Setiap bentuk kata yang terdapat dalam sebuah kalimat termasuk dalam kategori frasa atau kata tertentu, yang dimana masing-masing bentuk tersebut memiliki kategori, fungsi, dan peran sintaksis tersendiri. Fungsi dari sintaksis banyak yang menyebutnya sebagai fungsi gramatikal. Fungsi-fungsi tersebut meliputi subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K). Pada fungsi sintaksis tidak memiliki makna atau arti tertentu melainkan perlu diisi makna tertentu yaitu peran. Dalam struktur sintaksis ada yang berpendapat bahwa tidak harus selalu berurutan antara subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) sehingga menjadi SPOK. Dalam fungsi sintaksis, predikat (P) berperan sebagai pusat makna. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Verhaar (Oka dan Suparno, 1996:215) fungsi-fungsi sintaksis tidak memiliki makna tertentu, tetapi harus diisi makna tertentu, yakni peran. Berdasarkan hal diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu peran dari sintaksis adalah sebagai pengisi fungsi-fungsi (subjek, predikat, objek, dan keterangan). Selain memiliki fungsi, tentunya sintaksis juga memiliki peran dan kategori. Hubungan kategori sintaksis dengan fungsi sintaksis sebagai pengisi fungsi sintaksis dari segi kategori kata maupun bentuk kata. Kategori sintaksis sendiri terdiri dari nomina, verba, ajektifa, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, dan pronomina. Verhaar (2006:170) mengungkapkan kategori sintaksis adalah apa yang disebut kelas kata, seperti nomina, verba, ajektifa, adverbia, preposisi, dan sebagainya.

Pelesapan Fungsi Sintaksis Dalam Kalimat Majemuk
Fungsi sintaksis dapat direalisasikan dalam kalimat majemuk, dimana menggunakan salah satu cara yaitu pelesapan. Pelesapan disebut juga dengan elipsis. Pelesapan atau elipsis yaitu penghilang unsur tertentu dari satu kalimat atau teks (Alwi, 2003:414). Ada beberapa alasan mengapa fungsi suatu subjek dalam sintaksis perlu dilesapkan, yaitu sebagai berikut:
• Pelesapan subjek dilakukan karena subjek yang terdapat pada kedua klausa yang digabungkan merupakan sama.
• Subjek yang dilesapkan tersebut berupa subjek klausa yang dimana posisinya sesudah konjungsi koordinatif.
• Letak dari klausa di dalam konstruksi koordinatif tidak dapat dibalik.
Apabila fungsi suatu subjek dapat dilesapkan, tentunya fungsi dari predikat juga dapat dilesapkan. Fungsi predikat dilesapkan karena beberapa alasan, yaitu
• Pelesapan predikat karena adanya kesamaan pada predikat dari kedua klausa yang digabungkan.
• Predikat yang menjadi sasaran pelesapan merupakan predikat klausa yang letaknya sesudah konjungsi koordinatif.
• Predikat yang dilesapkan memiliki sifat acuan yaitu anaforis.

Sebelum menginjak lebih jauh pada beberapa contoh pelesapan kalimat majemuk, tentunya terlebih dahulu perlu memahami apa itu kalimat majemuk. Kalimat majemuk adalah suatu kalimat yang terdiri atas proses penggabungan dua klausa atau lebih yang mempunyai kedudukan sama atau setara. Pada umumnya kalimat majemuk terbagi atas kalimat majemuk setara (koordinatif) dan kalimat majemuk bertingkat (subordinatif). Perbedaan dari kedua kalimat majemuk ini biasanya terletak pada konjungsi yang menghubungkan kedua klausa tersebut. Berikut ini contoh pelesapan pada kalimat majemuk.

Pelesapan Subjek
(1) Korban kecelakaan langsung pulang karena tidak mengalami luka parah.
Kalimat (1) mengalami pelesapan. Dimana kalimat tersebut dapat dipulihkan menjadi “korban kecelakaan langsung pulang karena korban tidak mengalami luka parah”
(2) Aku mengetahui kepergiannya namun tidak mengetahui tujuan kepergiannya.
Kalimat (2) diatas terdiri atas dua klausa berupa klausa bebas dan terikat. Klausa pertama merupakan klausa bebas, yaitu aku mengetahui kepergiannya dan klausa kedua merupakan klausa terikat yaitu tidak mengetahui tujuan kepergiannya. Kalimat (2) tersebut terjadi pelesapan berupa pelesapan subjek.

Pelesapan Predikat
(3) Tadi aku mengerti yang dijelaskan namun saat ini malah tidak mengerti.
(4) Aku tak tahu dia melihatnya atau tidak.
Kalimat (3) dan (4) terjadi pelesapan, dimana predikatnya mengacu secara anaforis. Kalimat tersebut dapat diubah sebagai berikut.
(3) Tadi aku mengerti yang dijelaskan namun saat ini (aku) malah tidak mengerti
(4) Aku tak tahu dia melihatnya atau (dia) tidak melihatnya.

Pelesapan Objek
(5) Rangga tampak menatap dan terus memperhatikan Lisa.
(6) Polisi itu mengancam lalu menembak pelaku kejahatan.
Kalimat (5) dan (6) terjadi pelesapan objek pada klausa pertama. Kalimat diatas memiliki objek yang sama pada kedua kalimat. Kalimat tersebut dapat diubah menjadi:
(5) Rangga tampak menatap Lisa dan terus memperhatikan Lisa.
(6) Polisi itu mengancam pelaku kejahatan lalu polisi itu menembak pelaku kejahatan.

Referensi
Alwi, H. dkk. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Ramlan. (1996). Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono.

Sangadah, S. & Mukhlish, M. (2014). Pelesapan fungsi sintaksis dalam kalimat majemuk bahasa indonesia. Caraka, 1 (1), 49-56.

Verhaar, J.W.M. (Bekerja sama dengan Fr. B. Alip dkk). (2006). Asas-Asas linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.