Faktor Logika dan Emotif Dalam Makna

image

Hakikatnya, secara kronis bahasa mengidap ragam kekurangan, salah satu yang cukup menonjol ialah kekaburan makna. ‘Kata’ pun secara khusus menjadi biang keladi atas hal tersebut. Tak pelak, karena hal itu banyak tokoh memberi “kritik”, mulai dari Plato, Schiller, Valery, Camus, Voltaire, hingga Byron. Meski begitu, terdapat tokoh yang justru mendukung kekurangan bahasa --baca kata-- tersebut, semisal Wittgenstein yang menganalogikannya dengan hasil foto yang mana foto yang kabur mau tidak mau, suka tidak suka, menjadi hal yang justru kita perlukan juga (Ullmann, 2011).

Berpijak pada uraian tersebut, menurut kamu, apa dan bagaimanakah faktor logika dan emotif yang ada pada makna dalam konstruksi bahasa?

Referensi
Ullmann, (S). 2011. Pengantar Semantik . Cetakan ketiga. Diadaptasi oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1 Like

Faktor logika dan emotif sangat berpengaruh pada makna konstruksi bahasa. Ullmann (2014:144) menungkapkan bahwa salah satu sumber kekaburan adalah sifat pokok kata itu sendiri. Kecuali nama diri atau nomina yang mengacu pada sesuatu yang unik. Selain itu, kata juga memiliki berbagai penafsiran makna secara emotif dan berdasarkan pada logika manusia. Ditegaskan Ullmann (2014:152) bahwa kata-kata tidak memiliki sifat homogen, bahkan secara sederhana dapat memiliki berbagai ‘wajah’ dengan menyesuaikan berbagai konteks, situasi, dan kondisi di mana kata itu digunakan serta bergantung pada kepribadian penutur bahasa tersebut.

Selain dua faktor di atas, pengaruh logika dan emotif dalam kontruksi bahasa adalah kekurangjelasan batas-batas di luar bahasa sehingga menyebabkan kekaburan dalam pemaknaan bahasa tersebut. sumber lain yang turut mempengaruhi konsep makna emotif suatu kata disebut dengan overtone emotif. Overtone emotif itu sendiri terdiri dari faktor konteks, slogan, elemen evaluasi, derivasi emotif, dan nilai emotif. Faktor konteks, setiap kata termasuk kata yang paling umum dalam konteks tertentu mungkin dikelilingi oleh unsur emotif (Ullmann, 2014:152-158).

Logika dan emotif berperan dalam menentukan makna dalam suatu bahasa tertentu. Kenapa demikian? Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan berekpresi yang sudah dipastikan akan mempengaruhi orang lain sebagai mitra tutur. Dalam berbahasa seseorang sudah dipastikan menggunakan logika dan juga menggunakan emosi yang akan mempengaruhi konsep makna dalam konstruksi sebuah bahasa.

Daftar Pustaka

Ullmann, (S). 2014. Pengantar Semantik . Cetakan ketiga. Diadaptasi oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1 Like

Kekaburan makna dan bahasa apabila ditelusuri akan bersumber dari beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor sifat “umum” kata yang bila ditelusuri akan berakar dari budaya. Apabila kita bandingkan berbagai bahasa yang berbeda, maka dapat ditemukan bahwa terdapat bahasa yang tidak memiliki istilah umum dari suatu konsep. Contohnya penduduk Tasmania yang tidak memiliki istilah khusus untuk ‘pohon’ tetapi memiliki nama masing-masing untuk tiap variasi ‘pohon’ (Ullman, 2014). Selain itu, kekaburan makna juga dapat berasal dari kekurangakraban penutur dengan hal atau benda yang diacu oleh kata tersebut. Faktor tersebut sangat bervariasi dan bergantung pada pengetahuan dan minat masing-masing individu. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk kekaburan makna tersebut dilatarbelakangi oleh faktor logika dan emotif dari penggunaan bahasa dan hal tersebut berkaitan erat dengan budaya, pengetahuan, dan minat penutur. Pada intinya, bahasa tidak hanya merupakan sarana komunikasi, tetapi juga alat untuk mengekspresikan emosi dan mempengaruhi orang lain. Maka dari itu unsur komunikatif dan emotif akan selalu terkandung dalam sebuah ujaran.

Referensi:
Ullman, S. (2009). Pengantar Semantik. terj. Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1 Like

Menurut Ullman (2014: 152) kata-kata yang digunakan selama ini tidak memiliki sifat homogen, bahkan kata dapat memiliki berbagai makna dengan melihat konteks dan kondisi di mana kata dipakai. Kekaburan makna tidak akan terjadi apabila dibarengi dengan susunan kalimat dalam kata yang jelas. Hal tersebut diperkuat pendapat Suwandi (2008: 71) yang menjelaskan bahwa makna konstruksi merupakan makna yang terjadi dalam kebahasaan dan memiliki hubungan dengan penggnaan kalimat atau kelompok kata yang ada didalam sebuah kata dalam kajian kebahasaan. Menurut Ullman (2014) bentuk kekaburan makna dapat terjadi karena dilatarbelakangi oleh faktor logika dan emotif dari penggunaan bahasa yang memiliki keterkaitan dengan budaya, minat penutur, dan pengetahuan. Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, namun digunakan sebagai alat ekspresi emosi. Hal tersebut menandakan bahwa unsur logika dan emotif akan selalu ada dalam sebuah percakapan dan kajian kebahasaan.

Daftar Pustaka:
Suwandi, S. (2008). Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa.
Ullman, S. (20014). Pengantar Semantik. terj. Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1 Like

Logika dan emotif memang sangat berperan dalam menentukan makna dalam suatu bahasa. Dalam konsep makna bahasa juga factor emotif dalam makna memiliki hubungan konteks dengan bahasa. Faktor Penyebab Perubahan Makna salah satunya faktor Emotif kata emotif merupakan ragam kata yang dapat menimbulkan emosi subjektif suatu individu atau kelompok. Kata ini mampu menciptakan perasaan positif dan negatif pada seseorang melalui sentuhan pancaindranya (penglihatan, sentuhan, rasa, aroma, dan pendengaran. Bahasa tidak hanya wahana komunikasi, tetapi juga alat untuk mengekspresikan emosi dan untuk memengaruhi orang lain. Tiap bahasa mempunyai nilai emotif. Selain itu, tiap bahasa bermaksud untuk mengomunikasikan sesuatu. Jika seseorang memang benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk dikatakan maka dia tidak mengatakan apa-apa. Ogden dan Richards (dalam Aminuddin, 2011) membedakan dua penggunaan bahasa sebagai berikut:

  • Simbolik dan refrensial digunakan pada pernyataan (statement), Perekaman (recording), dukungan (support), organisasi dan komunikasi dari refrensi-referensi.
  • Emotif digunakan untuk mengekspresikan atau melepaskan perasaan dan sikap. Emotif factor konteks setiap kata termasuk kata paling umum dalam konteks tertentu mungkin dikelilingi oleh unsure motif, misalnya kata tembok. Tembok secara leksikal diartikan sebagai dinding dari batu atau batako, namun akan berbeda makan jika kata tembok diaplikasikan dalam kalimat “Ia terjerat di balik ratusan tembok yang berkeretak dalam panas.” Kata tembok dalam kalimat tersebut bisa menjadi lambang keterkungkungan baik secara fisik maupun mental.

Daftar Pustaka

Aminuddin. 2011. Semantik Pengantar Studi tentang Makna. Sinar Baru Algensindo, Bandung.

1 Like