Oleh: Tiara Khoirunnisa
Di bawah langit Sumatera yang pernah rimbun,
Akar-akar perkasa dulu memeluk bumi dengan santun.
Ia adalah spons raksasa, penyerap duka dan air mata langit,
Sebelum gergaji-gergaji datang, membawa nafsu yang menjerit.
Satu demi satu, paru-paru hijau itu ditumbangkan,
Diganti barisan sawit dan lubang tambang yang diagungkan.
Katanya demi ekonomi, katanya demi pertumbuhan,
Namun mereka lupa, tanah yang telanjang tak punya pertahanan.
Lalu hujan turun pemicu yang biasa saja,
Namun bagi bukit yang luka, ia adalah malaikat maut yang bekerja.
Air tak lagi meresap, ia menghantam dengan brutal,
Membawa lumpur, batu, dan dendam alam yang fatal.
Tiga ratus nyawa berpulang dalam senyap,
Tertimbun di bawah rumah yang hilang dalam sekali sekejap.
Di manakah negara saat tanah mulai bergeser?
Di manakah mereka saat tangis anak-anak mulai menyebar?
Angka-angka statistik dibacakan di meja-meja kayu,
Namun status “Bencana Nasional” masih terasa kaku dan layu.
Bantuan tersendat, jalan terputus, perut kian kosong,
Hingga nurani kalah oleh lapar, dan gembok gudang dibongkar sombong.
Perempuan memikul beban di atas lumpur yang mengering,
Menjaga nafas keluarga di tengah dunia yang makin miring.
Sebab bagi mereka, alam bukan sekadar peta atau komoditas,
Tapi detak jantung yang kini dirampas oleh ketamakan tak terbatas.
Jika pohon terus dianggap barang dagangan,
Dan sungai hanya kanal bagi limbah dan keuntungan,
Maka bencana ini bukanlah takdir yang datang tiba-tiba,
Melainkan hukuman bagi manusia yang memperkosa ibunya sendiri, Alam Semesta.
Sumatera tidak sedang marah,
Ia hanya sedang runtuh, karena fondasinya telah dijarah.
