Diatasi, Mengatasi atau Mengatasnamakan

Andira Cahyani seorang presenter muda berusia 23 tahun yang memulai kariernya sebagai reporter di salah satu media TV berita yang kini tengah ramai diperbincangkan. Menjadi narasumber yang terpercaya tentunya menjadikan Andira untuk melakukan pekerjaanya secara profesional. Bukan hanya menyampaikan sebuah berita, tetapi terselip sebuah kunci bagaimana nasib seseorang.

Hari ini, Andira melangkah menuju bantaran yang luas menapaki tanah yang berlendir setelah tiga jam yang lalu berkutat dengan laptop di meja dan perbincangan yang panjang bersama menatap power poin yang ditampilkan akhirnya menghasilkan keputusan. Kamis 25 November lalu telah terjadi bencana yang tak diinginkan di pulau sumatra. Melihat dengan kepala sendiri jejak peradaban yang musnah bukan tanpa sengaja tetapi dengan tergeletaknya berbagai glondongan kayu yang terbawa arus banjir, ya… hanya segelondongan kayu itu sudah biasa namun tak bisa dibiarkan biasa begitu saja sampai menumpuk ratusan atau ribuan yang bernomer, mungkin kayu itu ingin menunjukan jenazahnya kepada keluarganya agar mudah dicari setelah diberi nomer, mungkin saja tapi itu hanya terdapat dalam cerita anak tk yang sedang berimajinasi bahwa pohon, hewan, bahkan benda matipun dapat berbicara.

“Andira kamu mau spot dimana ?” kata Bang Jo, partner kerja Andira.

“Kalau saja kamera Abang dapat menangkap segalanya dan bukan hanya lensa mataku saja, Aku pasti akan mengapresiasikannya”

“Yah, kau memang benar. Tapi sayangnya kameraku tak seindah penglihatanmu.”

Mereka kembali melangkahkan kaki menyusuri tempat-tempat pengungsian atau posko kesehatan melihat raut wajah mereka dan perkataan mereka yang tidak pernah habis menggungkap kesedihan yang menderu.

“Bagaimana ini, persediaaan menipis banyak korban berdatangan dan kemungkinan masih banyak yang belum terselamatkan, belum lagi terputusnya logistik antar daerah.” kata seorang petugas.

“Tak apa, kita masih harus fokuskan pemerataan penyediaan bahan makanan terlebih dahulu, kita rawat para korban yang datang semoga bantuan dari pusat segera tersalurkan.” Timpal petugas lain.

Andira yang mendengar hanya bisa membayangkan perkataan yang berlalu lalang petugas khawatir dan ketakutan. perkataan pertama yang memberikan jawaban dan perkataan kedua yang meragukan “semoga” mereka berharap, tetapi hanya sekedar berharap. Di dalam pengungsian terdapat banyak orang yang pastinya kehilangan Andira tak berani menanyakan siapapun yang menimpa disini melihat dari kondisi yang menyedihkan tetapi iya harus tau bagaimana perasaan yang mereka rasakan bukan sebagai penglipur lara tetapi sebagai pembagi duka mereka, itulah tugasnya.

setelah berkeliling dan mencari siapa yang bersedia ia wawancarai. Apakah seorang bapak-bapak yang tengah duduk di kayu dan memandangi langit, tidak. Dia baru kehilangan istri dan anak dalam kandungannya atau seorang gadis remaja yang tampak tanggung usianya,lagi-lagi tidak dia hanya bisa menggeleng dan mengangguk. Andira kemudian mendatangi seorang ibu-ibu yang nampak giat memasak untuk para pengungsi dan benar saja beliau tidak keberatan untuk diwawancarai.

“Baik bu, perkenalkan saya Andira yang disini akan mewawancarai ibu mengenai bagaimana perasaan ibu atas kejadian yang baru saja dialami, saya tidak akan memaksakan ibu bercerita semuanya, jika dirasa menyakitkan tak perlu dijawab tak mengapa, saya memahami.”

Ibu Marsinah sempat menghela napas sebentar walau dengan tersenyum tetapi sorot matanya yang kosong, Dia wanita kuat.

“Jujur ya mbak, saya tidak bisa berbicara lancar, tetapi yang bisa saya ungkapkan bagaimana rasanya seorang ibu yang kehilangan anak dan suaminya mungkin tak perlu saya jabarkan, saya merasa sudah ikhlas apapun kondisi anak saya sekarang yang masih belum ketemu tetapi saya cuma mempertanyakan apa yang telah saya perbuat hingga jadi seperti ini, jika saya ada salah bisakah saya saja yang dihukum Tuhan bukan keluarga saya, bukan orang-orang tak bersalah itu… saya yakin mbak, manusia punya kesalahan tetapi tidak mempertanggungjawabkan kesalahan itulah yang merugikan.”

Bulir air menetes dari kedua pelupuk matanya, segera Andira usap bagai merangkul kesedihan yang ia rasakan, menangis bersama sebagai wanita yang peka perasaanya nya tak terbayang dirinya mampu menceritakan keadaan yang telah dialaminya, Dia wanita kuat.

Rekaman sudah jadi, semua pemberitaan dan wawancara korban juga elah ia lakukan. Seandainya saja Andira bisa dia akan berlama-lama disini ikut mendengarkan berbagai keluh kesah mereka, merasaakan kehilangan, dan mengharapkan sebuah kepastian yang belum datang. Tetapi ia harus kembali untuk menanyakan sebuah pesan kepada seluruh dunia tentang sebuah kesalahan seseorang atau bahkan sekelompok yang merugikan orang lain. Menuntut mereka yang tidak mempertanggung jawabkan kesalahan yang ada tetapi ia kembali ditampar sebuah kata “kau hanya seorang jurnalis.”Lalu mengapa? seorang jurnalis juga bisa menjadi pertolongan bagi nasib mereka walau secara pasif.

“Baik Andira, Aku tau keinginan mu membantu mereka sangatlah besar tetapi ingat kata pimpinan bahwa kita hanya perlu menanyakan kepada mereka tanpa adanya tuntunan, mengerti!” Bang Jo menuturkan dengan bijak mungkin karena tau sifat ku hanya dia yang bisa menampung keinginanku.

“Baiklah kita lihat bagaimana tanggapan mereka” Kata Andira dengan ketus.

Di depan istana yang tampak megah tersebut, sudah banyak jajaran orang memegang lensa kamera, microfon, atau pun alat yang berguna bagi mereka sekarang. Andira berkesempatan masuk paling depan karena telah mempersiapkan beberapa pertanyaan kepadaAnggota Komisi DPR RI tersebu.

“Bu bagaimana tanggapan ibu mengenai banjir yang telah melanda Sumatera ibu?… apakah ada pihak terkait mengenai pengalihan lahan dan pembalakan liar? Bagaimana dengan nasib para korban yang mederita kerugian yang besar” Kata Andira mengebu-gebu.

“ya… ini lagi dipikirkan bagaimana kedepannya harus kita tuntut tuh yang melakukan pembalakan liar di hutan, jadi kita harus mencari tau siapa pelakunya”jawab bu puji selaku Anggota DPR RI tersebut masih dengan pembawaan tenang.

“Terus Bagaimana dengan nasib korbaqn bu? sekarang mereka membutuhkan bantuan, terus kapan kasus ini bisa tuntas hanya mengandalkan pertanggungjawaban yang belum tau siapa pelakunya, apakah pemerintah hanya mencari dan bukannya membantu korban ?…” Tnya Andira lagi yang sudah kelewat jengkel atas jawaban itu-itu saja.

“iya..iya.. kami sedang berproses harap bersabar” jawaban yang lagi-lagi kurang memuaskan sesuai dengan tindakan.

Bang Jo yang melihat Andira semakin mengejar Bu puji tersebut menarik Andira agar tak mengikuti beliau lagi masuk kedalam mobil mewah tersebu

“Sudahlah kau sudah hebat dalam menanyakan tadi".” lagi-lagi Bang Jo menenagkan.

“Kau tak lihat, sebagus apa pertanyaan yang ku lemparkan dan seburuk apa jawaban beliau!.” Andira berseru.

“iya-iya, tenangkan dirimu kita harus akan mewawancarai lagi, tetapi kali ini dengan forum tertutup.” Bang Jo menyarankan.

mungkin kali ini Bang Jo benar, dalam forum diskusi ini dapat lebih tajam lagi memberikan pertanyaan tanpa bisa mengelak, ini kesempatan yang emas. ketika akan masuk telepon dari Andira berdering. Andira lupa bahwa telepon tak bernomor tersebut milik seorang petugas yang ia berikan nomer teleponnya agar dapat mengkabari kondisi sekarang dari sana. Andira meminta izin sebentar sebelum masuk dan menjawab telepon. Kemudian, terdengar dari seberang sana petugas yang dengan napas tersenggal-sengal berusaha berbicara dengannya.

“Hallo … maaf karena mengganggu pekerjaan Anda tetapi bisa- kah kami minta tolong-kepada… Anda… agar meminta kepada pemerintah pusat mengirimkan bantuan kondisi sangat kritis sekali.”

Setelah mendengarkan dan menyanggupi permintaannya Andira kembali masuk kedalam yang tengah melakukan wawancara, kali ini kepada menteri pertahanan dan pembangunan Andira kembali bertanya

“Pak bagaimana nasib para korban sekarang yang tengah di landa kekrisisan akibat dari bencana tersebut, pak apa selama ini pemerintah hanya diam saja?kenapa mereka tidak membantu ataupun menanyakan kabar korban disana? kenapa pemerintah pusat tidak langsun turun tanggan?” Kata Andira berderet-deret.

“Iya ini lagi di usahakan kita akan segera memasok bantuan setelah persetujuan dari pak presiden hanya beliau yang bisa memutuskan kita disini hanya bisa membantu bagaimana ini bisa terjadi dan memperbaiki kedepannya, baiklah sesi tanya jawab sudah berakhir saya pamit undur diri.”

SIAL,SIAL,SIAL… Hanya kata itu yang mampu mengungkapkan kekesalannya saat ini. Bagaimana para pejabat disini yang hanya mementingkan sebuah prosedur dan proses yang lambat tersebut sementara disana orang-orang tengah mengais timbunan tanah untuk mereka hidup, bagaimana mereka dapat setenang ini Andira sangat frustasi sekali dai melihat semuanya dia dekat dengan semua jejaring tetepi dia tidak dapat menggubah apapun di bawah pemerintahan ini. Dia gagal, sekarang bagaimana nasib semua orang yang mengharapkannya dapat menggubah nasib mereka.

“Tak apa, kamu sudah melakukan yang terbaik” Kata Bang Jo lagi.

“Kita hanya butuh mereka yang berbaik hati mungkin bukan dari kalangan ini tetapi kita tidak mengharapkan satu-satunya yang ada kan?" Tambahnya lagi.

Andira tak tau apa yang dia pikirkan tetapi Dia akan mengikuti apa yang akan direncanakannya. Ternyata semua yang ia rekam diunggah ke dalam semua media sosialnya bahkan saat mereka tiba di pengungsian bukan hanya rekaman berita yang kaku dan datar tetapi aktivitas mereka semua. Tak lama algoritma kemanusiaan berdatangan dari semua penayangan, video mereka laku di jejaring sosial bahkan ada seorang influencer terkenal yang tengah melakukan live lalu menyumbangkan dana sosialnya segera selam 24 jam, Andira merasa senang akan bantuan kemanusiaan yang tak dia sangka dari seseorang yang tak berpengaruh tersebut. setelah mengetahui dia sendiri yang mengantarkan bantuan tersebut Andira berinisiatif untuk melakukan wawancara dengannya sekaligus ucapan terima kasih yang diberikan. Kini Andira kembali ke sana dan bertemu dengan Bang Irwan influencer sekaligus relawan kita. Melihat betapa bahagianya para korban dengan air mata kebahagiaan bukan kesedihan lagi dan betapa hebatnya Bang irwan menggalakan dana tersebut. Setelah berkesempatan berhadapan langsung dan bertanya Bang Irwan juga menjawab dengan sukarela.

“Makasih banyak Bang, Makasih karena telah peduli kepada banyak korban” Andira terharu sehingga ingin meneteskan air mata

“Terima kasihlah untuk orang Indonesia karena Saya hanya sebagai perantara saja”.kata Bang Irwan yang membuat Andira terpaku akan jawabannya.

“Bang kau memang sangat baik membantu semua orang disini, tetapi bagaimana tanggapan Anda mengenai bencana ini , siapa yang pantas mempertanggungjawabkan semua kekacauan ini?” Ucap Andira

“Kita sekarang janganlah menyalahkan siapa-siapa dulu, kita fokus disini untuk membantu korban, memulihkan mereka, memperbaiki yang ada. sebab para pelaku pasti akan meninggalkan kebusukan mereka. semtara disini mereka akan membusuk kalau tak segera ditangani, sebaiknya fokus pada mereka dulu”

“Baigaimana tanggapan Abang saat pemerintah hanya diam saja mengatasi hal ini?”

“Mungkin saya tidak tau apa yang mereka lakukan sekarang tetapi pastinya masih banyak orang bik di negeri kita jadi kita harus bersatu bukan terpecah belah saat ini banyak orang membutuhkan kita semua terlepas siapa kita yang terpenting pasti semua akan menerima pembalasannya kelak”

Andira begitu puas dengan jawaban Bang Irwan selalu menenagkan bahkan perkataan dan tindakannya selaras membuat dia berpikir ternyata masih banyak orang baik di negri ini dan Adira jadi dapat menyimpulkan bahwa kesalahan harus kita perbaiki terlepas dari siapa yang telah berbuat tetapi membantu lebih diutamakan daripada menghukum seseorang akhirnya dia mengerti sekarang.