Deiksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata atau kontruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan (Alwi et al, 2003). Bentuk-bentuk deiksis yang ditemukan bervariatif. Bentuk-bentuk tersebut dikelompokkan menjadi enam, yaitu bentuk deiksis persona, spasial, temporal, wacana, sosial, dan numeral. Setiap jenis deiksis memiliki bagian-bagian tertentu, seperti bentuk deiksis persona memiliki tiga bagian, yaitu persona pertama, kedua, dan ketiga. Begitu pula bentuk deiksis yang lain juga memiliki bagian-bagian tertentu.
Wijaya (1996) mengemukakan bahwa tindak tutur merupakan tindakan komunikasi. Berkomunikasi berarti mengekspresikan sikap tertentu dan bentuk sikap ditampilkan sesuai dengan bentuk tindak tutur. Sebagai contoh, ketika kita meminta maaf, maka kita mengungkapkan penyesalan, dan kita akan mengucapkan terima kasih ketika seseorang membantu kita.
Stalnaker (dalam Yule. 1996) berpendapat bahwa praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan. Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah Levinson (dalam Nababan, 1987: 48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna
Grice (dalam Soeseno, 1993: 30) mengemukakan bahwa implikatur ialah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Sesuatu yang berbeda tersebut adalah maksud pembicaraan yang tidak dikemukakan secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah maksud, keinginan, atau pun ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi. Implikatur juga diartikan sebagai maksud yang tersembunyi di balik tuturan (Pranowo dalam Pangesti Wiedarti, 2005:178). Grice (dalam Mulyana, 2005:12) menyatakan bahwa implikatur ada dua macam, yaitu implikatur konvensional (conventional implicature) dan implikatur percakapan (conversation implicature).
REFERENSI
Riza, L. N., & Santoso, B. W. J. (2017). Deiksis pada Wacana Sarasehan Habib dengan Masyarakat. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(3), 273-285. https://doi.org/10.15294/seloka.v6i3.20258
Andreanus, J. (2015). Tindak Ujar Ekspresif Dalam Film Freedom Writer Karya Erin Gruwell Suatu Kajian Pragmatik. Jurnal Elektronik Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, 3(5).
Yuniarti, N. (2016). Implikatur percakapan dalam percakapan humor. Jurnal Pendidikan Bahasa, 3(2), 225-240.
Karim, K., Maknun, T., & Abbas, A. (2019). Praanggapan Dalam Pamflet Sosialisasi Pelestarian Lingkungan Di Kabupaten Wakatobi. Jurnal Ilmu Budaya, 7(2), 241-247.