Dasar Perbandingan Bahasa

Teori yang bisa diterima dan mampu menjelaskan pertumbuhan bahasa secara menyeluruh sebagai suatu sistem komunikasi adalah teori Hockett-Ascher. Teori Hockett-Ascher bukan merupakan sesuatu yang baru. Keduanya mengakui juga bahwa apa yang mereka kemukakan menggunakan data-data arkeologis, fosil, dan data-data geologis yang telah diselidiki para ahli lain. Mereka hanya sekadar menghubung-hubungkan semua data itu untuk menjelaskan bagaimana pertumbuhan bahasa manusia itu sejak awal mula perkembangannya. Bahasa sesungguhnya diperkirakan baru timbul sekitar 100.000-40.000 tahun yang lalu.

Bahasa memiliki ciri-ciri kesemestaan tertentu. Kesemestaan bahasa mencakup:

  1. Kesamaan dalam bentuk dan makna. Bahasa memiliki bentuk tertentu yang dikaitkan dengan maknanya yang khas untuk memudahkan referensi.
  2. Tiap bahasa memiliki perangkat unit fungsional terkecil yaitu fonem dan morfem. Walaupun jumlah fonem itu kecil dan berbeda dari bahasa ke bahasa, terdapat kenyataan yang menarik bahwa tiap bahasa memiliki perangkat yang terkecil untuk membedakan makna kata, dan gabungan dari bunyi yang sangat terbatas ini menghasilkan perlambang yang tak terbatas jumlahnya. Berkisar sampai lima puluh buah fonem, tetapi jumlah ini sanggup menghasilkan ribuan morfem, yaitu satuan terkecil yang mengandung makna.
  3. Tiap bahasa di dunia memiliki kelas-kelas tertentu yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, kata ganti orang, dan kata bilangan.

Kesamaan Bentuk
Linguistik Bandingan Historis juga melandaskan bentuk-bentuk kata yang sama antara berbagai bahasa dengan makna yang sama, diperkuat lagi dengan kesamaan-kesamaan unsur tata bahasa, misalnya bahasa-bahasa tersebut harus diturunkan dari suatu bahasa proto yang sama. Relasi gramatikal yang dapat menunjang hipotesis relasi historis tersebut misalnya:
Inggris: good better best; drink drank drunk
Jerman: gut besser beste; trinken trank trunken

Kemiripan bentuk makna dapat terjadi karena tiga faktor, yaitu:

  1. Karena warisan langsung (inheritance) oleh dua bahasa atau lebih dari suatu bahasa proto yang sama. Bentuk yang sama tersebut dinamakan bentuk kerabat (cognate).
  2. Faktor kebetulan (by chance). Misalnya kata ‘mata’ dalam bahasa Indonesia dan mati dalam bahasa Yunani; kata ‘badh’ dalam bahasa Didinga yang berarti jahat dan kata ‘bad’ dalam bahasa Inggris dengan makna yang sama.
  3. Faktor pinjaman (borrowing). Suatu kemiripan bentuk makna terjadi karena suatu bahasa aseptor menyerap unsur tertentu dari sebuah bahasa donor akibat kontak dalam sejarah.
    Penetapan Kata Kerabat
    Asumsi mengenai kata-kata kerabat yang berasal dari sebuah bahasa proto didasarkan pada beberapa kenyataan berikut.
    Gloss
    tebu
    hiu
    tuba
    pandan
    padi
    beras
    anak
    Melayu
    təbu
    hiyu
    tuba
    pandan
    padi
    bəras
    anak
    Aceh
    təbe
    ye
    tuba

pade
bəröh

Korespondensi yang teratur antar bahasa dapat dijelaskan sebagai akibat perubahan bunyi yang teratur antara bahasa-bahasa kerabat. Perubahan pada bahasa-bahasa kerabat sejauh yang dicatat dalam naskah-naskah tua, kemudian dirumuskan, sehingga dapat mencakup prahistori bahasa.

Korespondensi yang teratur antar segmen sebagai akibat perubahan fonetis yang teratur dapat muncul dalam situasi yang berbeda-beda:
(1) antara bentuk-bentuk beruntun (suksesif) dari kata yang sama dalam satu bahasa dalam tingkat perkembangan yang berlainan:
Inggris Kuno sticca nama sonu mona brid hros
Inggris stick name son moon bird horse
Latin ripa mũtãre fata amica
Spanyol riba mudar fada amiga
(pantai) (berubah) (nasib) (kawan)

Referensi
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama halaman 32-38