Mie instan pertama kali muncul pada tahun 1958 di Jepang oleh Momofuku Ando, seorang pengusaha asal Taiwan. Pada awalnya, penemuan mie instan ini muncul dari kebutuhan makanan praktis dan terjangkau setelah Perang Dunia II. Momofuku Ando terinspirasi untuk menciptakan makanan yang lebih praktis bagi masyarakat Jepang yang saat itu mengalami krisis pangan akibat Perang Dunia. Akan tetapi, pada saat itu Jepang kekurangan sumber daya untuk membuat makanan, hingga sampai akhirnya Amerika memberikan bantuan berupa sumbangan tepung terigu dengan harapan dapat membantu masalah krisis pangan di Jepang.
Namun pada saat itu, sumbangan tepung terigu yang diberikan oleh Amerika tidak digunakan untuk membuat roti, melainkan digunakan untuk membuat mie yang dijual di gerobak, dan hasilnya cukup memuaskan karena masyarakat Jepang menyukainya. Melihat banyaknya masyarakat yang cukup menyukai hasil ciptaannya, Ando mulai melakukan eksperimen kecil di gudang belakang rumahnya di Kota Ikeda, Osaka. Sampai akhirnya di tahun 1958, Momofuku Ando mulai berhasil membuat ramen instan yang dapat diseduh dengan menggunakan air panas. Produk pertama ramen instan ini dinama dengan Mie Chikin oleh Momofuku Ando.
Awalnya mie instan buatan Momofuku Ando dikemas menggunakan kantong plastik untuk melindungi mie dari debu dan kotoran, namun tidak sampai di sana saja, Ando mulai mengembangkan kemasan mie instan dengan menggunakan sterofoam, hingga muncul lah Cup Noodle di tahun 1971.
Hingga saat ini, mie instan menjadi makanan yang sangat populer karena kemudahan dan kepraktisan. Walaupun awal munculnya mie instan digunakan sebagai makanan orang Jepang saat kritis pangan, mie instan bukanlah makanan pokok. Hal ini dikarenakan kandungan gizi dalam mie instan tidak seimbang dan kurang sebagai makan pokok, sayangnya masih banyak orang yang menganggap jika mie instan dapat digunakan sebagai makan pokok sehari-hari.
Dalam mie instan sendiri mengandung gizi tinggi karbohidrat, lemak, dan garam, tetapi rendah protein, vitamin, mineral, dan serat. Meskipun begitu, untuk menjadi makan pokok, mie instan perlu dikonsumsi bersama bahan makanan lain seperti sayuran, telur, atau daging.
Bagi beberapa orang juga, mie instan digunakan sebagai lauk dan dimakan dengan nasi yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan. Hal ini dikarenakan kedua makanan tersebut mengandung karbohidrat yang tinggi sehingga tubuh cepat kenyang namun kekurangan nutrisi lain seperti protein, lemak, vitamin, dan serat. Selain itu, kebiasaan ini dapat meningkatkan gula darah secara drastis, memicu risiko diabetes, serta menyebabkan penumpukan lemak yang berujung pada obesitas.
Meskipun kerap kali dijadikan sebagai makanan pokok, nyatanya mie instan tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Banyak dampak buruk muncul akibat seperti peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan fungsi ginjal, dan masalah pencernaan karena kandungan natrium, lemak, karbohidrat sederhana, serta kurangnya serat dan vitamin. Selain itu, zat pengawet dan aditifnya dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang, seperti akumulasi zat pada organ vital dan potensi hiperaktivitas pada anak.
Untuk menghindari dampak buruk dari mie instan, yang dapat dilakukan adalah mengurangi konsumsi mie instan secara berlebihan. Alangkah baiknya mengonsumsi mie instan seminggu dua kali. Selain itu menambahkan sayuran dan protein pada mie instan juga dapat dilakukan untuk menambah gizi.
Selain melakukan hal-hal tersebut, mengganti mie instan dengan mie yang lebih sehat juga dapat dilakukan. Pengganti mie instan yang lebih sehat meliputi penggunaan mie dari sayuran seperti zucchini atau pakcoy, mie instan sehat yang diperkaya sayuran seperti bayam atau kunyit, serta mie shirataki yang rendah kalori dan karbohidrat. Selain mie, pilihan lain termasuk pasta yang diperkaya serat dan mineral, telur rebus atau goreng, sup sayuran, serta lauk protein seperti tahu dan tempe.

