Cerita anak “SEPEDA IMPIAN”

E-BOOK BUKU CERITA
Pada suatu hari, ada seorang anak yang sedang berjalan menghampiri gerobak mie ayam di pinggir trotoar. Anak itu bernama Rima, seorang anak SD yang sekarang duduk di bangku kelas 3. “Prok, prok, prok, prok” bunyi hentakan kaki Rima yang teburu-buru membawa kresek merah menuju grobak mie ayam. “Bawa apa itu nak ?” Tanya Pak Maman Penjual Mie ayam. “Bawa mie buat persediaan di sini pak.” Jawab rima sambil menghela nafas “Iya, makasih ya nak. Apakah kamu tidak berangkat ke sekolah hari ini ?” Seru pak maman. “Sama-sama pak. Hari ini Rima berangkat ke sekolah, tapi mampir dulu kesini mengantarkan mie untuk bapak.” Jawab rima sambil tersenyum.

Setelah menggantarkan mie untuk bapaknya, Rima pun bergegas berangkat ke sekolah jalan kaki. Rima terlihat sangat terburu-buru karena jalanan sudah ramai orang-orang yang mau berangkat bekerja. “Teng, teng, teng” bunyi bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi. Rima pun segera lari menuju gerbang sekolah. Terlihat disana gerbang mau di tutup oleh pak satpam. “Pak, pak, tunggu dulu saya belum masuk kelas.” teriak Rima ke pak satpam dari pinggir jalan, “Buruan masuk nak, ucapara bendera sudah mau di mulai” jawab pak satpam dengan tegas. “Iya pak, terima kasih ya.” Jawab rima. “Iya nak, sama-sama” jawab pak satpam

Rima segera lari ke kelasnya untuk meletakkan tas dan segera ikut baris ke lapangan untuk mengikuti upacara bedera. “Anak-anak disini ibu akan menyampaikan bahwa mulai minggu depan ada peraturan baru bahwa yang terlambat masuk kelas pada saat jam upacara tidak boleh masuk sebelum upacara selesai. Apakah kalian mengerti ?” amanat dari Ibu Eni selaku Kepala Sekolah SD Maju Jaya. “Baik bu.” Jawab murid-murib dengan kompak. “Bagus, ibu harap kalian mendengarkan dan menerapkan ini dengan baik ya.” jawab Bu Eni sambil mengacungkan jempolnya.

Setelah upacara selesai, semua murid-murid kembali ke kelas karena pelajaran akan segera dimulai. “Selamat pagi anak-anak.” Seru Bu Wina dengan lantang. “Selamat pagi bu gur.” Jawab murid-murid dengan semangat. “Apakah kalian sudah mengerjakan PR yang ibu berikan minggu lalu ?” Tanya Bu Wina. “Sudah bu.” Jawab murid-murid dengan kompak. “Baik kalau begitu sekarang kalian kumpulkan tugas di meja ibu sekarang.” ucap Bu Wina sambil menuliskan materi yang akan dijelaskan hari ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya pulang sekolah. Setelah pulang sekolah Rima mampir ke warung bapaknya. “Bapak, rima pulang.” Seru rima sambil mencium tangan bapaknya. “Kok mampir ke warung nak ?” jawab Pak Maman. “Iya pak, tadi sekalian lewat mampir mau bantu bapak disini.” Jawab rima dengan nada tertawa. “Lebih baik kamu pulang dulu, makan ganti baju istirahat. Nanti kalau sudah, Rima boleh mampir kesini.” Perintah Pak Maman kepada Rima. “Iya pak, Rima pulang dulu kalau begitu.” Jawab Rima

Pada saat perjalanan pulang, Rima melihat sepeda yang di tata di depan toko, rasanya ia ingin memiliki dari salah satu sepeda tersebut. “Wah. Kapan ya aku punya sepeda seperti itu.” ucap Rima dari dalam hati. “Adek mau liat-liat sepeda ya ?” Tanya pemilik toko sepeda kepada Rima. “Oh tidak pak.” Jawab Rima dengan gugup. Sesampainya di Rumah, Rima masih memikirkan tentang Sepeda yang dijual di toko tadi. Keinginannya memiliki sepeda sebenarnya sudah lama, namun tabungannya selama ini masih belum cukup untuk membelinya. Tiba-tiba ada Gadis, teman Rima yang selalu mengajaknya bermain di rumah. “Kring-kring-kring-kring” bunyi bel sepeda onthel milik Gadis. “Rima, Rima ayo main!” teriak Gadis memanggil Rima di halaman depan rumah. “Hari ini Rima ingin membantu bapak jualan di warung dis.” Jawab Rima. “Yah, padahal gadis mau ajak Rima keliling desa buat naik sepeda.” Jawab gadis dengan nada kecewa.
“Hummm, bagaimana kalau kita sepedaan dulu setelah itu nanti aku antar kamu ke warung bapak ?” Tanya Gadis. “Iya boleh.” Jawab Rima

Setelah bermain cukup lama Rima dan Gadis pun datang ke warung mie ayam. Kemudian Rima menemui bapaknya yang sedang sibuk mengantarkan pesanan ke pelanggan. “Gadis, sudah makan belum ? Bapak buatkan mie ayam untuk kamu dan rima ya?” Tanya pak Maman. “Tidak usah pak, tadi gadis sudah makan sebelum kesini.” Jawab gadis. “Nak, hari ini kamu tidak usah bantu bapak ya. Kamu pergi bermain bersama Gadis saja.” Seru pak Maman. “Hummmm, tapi pak….” Jawab Rima dengan nada pelan.

Kemudian, rima pun melanjutkan bermain di sekitaran warung bapaknya berjualan. Melihat Rima bermain menggunakan sepeda milik Gadis, Pak Maman merasa kasihan melihat Rima karena belum bisa membelikan sepeda untuk anaknya. “Rima, sepedanya gantian ya. Gadis mau pakai sepedanya.” Seru Gadis sambil teriak ke Rima. “Iya, sekali putaran lagi Gadis.” Jawab Rima. Setelah selang 1 jam-an Rima dan Gadis bermain sepeda di sekitar warung Pak Maman akhirnya mereka pulang ke rumah.

Pagi harinya, pada berangkat ke Sekolah Rima terlambat masuk karena bangunnya kesiangan. Sedangkan, jarak ke Sekolah dari Rumahnya sekitar dua puluh menit. Rima pun bercerita pada bapaknya saat menemani bapaknya berjualan di warung. “Pak, tadi Rima ke sekolah terlambat masuknya.” Seru rima dengan lesu. “Terus gimana nak?” Tanya Pak Maman kaget. “Tadi Rima masih bisa masuk ke kelas pak, cuman ada tambahan tugas waktu pulang sekolah.” Jawab Rima. “Apakah ada yang sedang kamu pikirkan nak ? Kelihatannya seperti lesu sekali.” Tanya Pak Maman. “Tidak ada kok pak, Rima baik-baik saja.” Jawab Rima kepad Pak Maman

Warung Pak Maman terlihat ramai pembeli, namun ada hal yang ingin Rima sampaikan kepada ayahnya. Namun, Rima membantu Pak Maman berjualan terlebih dahulu karena banyak pembeli. “Pak saya pesan Mie Ayaman 2 di bungkus ya.” Seru pembeli". Iya pak, nanti saya siapkan, ini antri ya pak. " Jawab Pak Maman. “Pak, saya pesan mie ayam 2 dimakan disini sama minumnya es teh 2 ya pak.” Seru salah satu pelanggan seti Mie Ayam Pak Maman. “Siap mbak, akan saya buatkan pesanan seperti biasanya .” Jawab Pak Maman. Kemudian, Rima mencoba berbicara kepada Pak Maman untuk minta dibelikan sepeda baru. “Pak, boleh enggak kalau Rima minta di belikan sepeda baru ?” tanya Rima dengan lembut. “Sebenernya bapak mau membelikan kamu sepeda nak, tapi uang bapak belum ada.” Jawab Pak Maman dengan nada pelan. “Maaf ya pak, Rima jadi minta dibelikan aneh-aneh.” Jawab Rima dengan nada lesu. “Tidak kok nak, bapak tau kamu pasti membutuhkan sekali sepeda .” Kata Pak Maman. “Rima ingin ke sekolah, ke warung bapak menggunakan sepeda pak.” Kata Rima dengan lembut. “Iya nak, besok bapak belikan sepeda baru ya.” Seru Pak Maman sambil tersenyum

Sesampainya di rumah Rima berpikir untuk menyisihkan uang sakunya untuk menambahkan kekurangan uang bapaknya untuk membelikannya sepeda baru. Setiap hari Rima di sekolah membawa bekal nasi untuk menghemat uang jajannya di sekolah. “Rima, ayo ke kantin.” Seru Bella sambil menepuk pundak Rima. “Hari ini aku enggak ke kantin, aku bawa bekal Bel.” Jawab Rima. “Tumben sekali kamu bawa bekal, biasanya ikut jajan ke kantin ?” Tanya Bella. “Iya, hari ini di bawakan bekal sama ibu heheheh.” Jawab Rima sambil tersenyum. “Rima, hari ini ikut bapak yuk ke toko Sepeda.” Ucap Pak Maman.

Beberapa bulan kemudian, Pak Maman ingin mengajak Rima untuk pergi ke jalan-jalan. Dalam hatinya, Rima merasa ini hanya mimpi kalau keinginannya memiliki sepeda baru segera terwujud. “Rima, hari ini ikut bapak yuk jalan-jalan.” Ucap Pak Maman. “Bapak mau ngajak Rima jalan-jalan kemana ?” jawab rima dengan penuh semangat. “Bapak mau ajak kamu jalan-jalan melihat sepeda.” Jawab pak maman dengan tersenyum. “Bapak mau membelikan sepeda untuk Rima ?” Tanya rima sambil memeluk Pak Maman. “Iya, bapak mau beli sepeda. Kamu mau kan mengantarkan bapak ke toko sepeda ?” Tanya Pak Maman. “Mau pak, Rima mau ikut dan mengantarkan bapak pergi jalan-jalan.” Jawab rima sambil tersenyum

Sesampainya di toko sepeda, Rima sangat senang sekali karena akhirnya ia dapat membeli sepeda impiannya. “Bapak, ayo kita masuk pilih-pilih sepedanya.” Seru Rima sambil tergesa-gesa sambil menarik tangan Pak Maman masuk ke toko sepeda. “Iya nak, pelan-pelan ya jalnnya.” Jawab Pak Maman sambil tersenyum. “Mari pak, mau cari sepeda untuk siapa ?” Tanya penjaga toko sepeda. “Untuk anak saya bu.” Jawab Pak Maman. “Adek mau cari sepeda yang mana ? bisa dilihat-lihat sampil memilih dulu dek.” Tanya penjaga toko sepeda kepada Rima

Kemudian rima memutuskan memilih sepeda warna merah sesuai dengan warna kesuakaanya. Rima senang sekali, akhirnya ia memiliki sepeda baru. Sesampainya di rumah, Rima pun segera mencoba sepeda barunya untuk di coba di halaman depan rumah. Rima juga bisa menggunakan sepedanya untuk berangkat ke Sekolah dan menemui bapaknya di warung untuk membantu berjualan dengan naik sepeda sudah tidak berjalan kaki lagi. “Terima kasih ya pak, sudah membelikan Rima Sepeda baru.” Jawab Rima penuh haru sambil memeluk bapaknya. “Iya sama sama nak. Bapak juga senang melihat kamu menggunakan sepeda itu”. “Rima sayang sekali sama bapak” ujar Rima. “Bapak juga sayang sama Rima, Rima anak hebat” jawab Pak Maman

Kemudian Rima juga menyampaikan kepada Pak Maman kalau selama ini ia manabung dengan menyisihkan uang jajannya di sekolah untuk bisa membeli sepeda impiannya. “Pak, sebenarnya rima sudah mengumpulkan uang dari hasil menanbung untuk membeli sepeda. Meskipun uangnya tidak terlalu banyak.” Seru Rima sambil menggenggam tangan Pak Maman. “Kamu menabung Rima ?” Tanya Pak Maman. “Iya pak, Rima setiap hari bawa bekal makanan. Sehingga jarang jajan di sekolah.” Jawab Rima. “Bapak senang sekali nak, usaha kamu sangat mulia. Bapak senang mendengarnya.” Seru Pak Maman kepada Rima. “Rima ingin memberika uang ini kepada bapak.” Seru Rima sambil memberikan celengan Ayam kepada Pak Maman. “Uang ini kamu simpan saja, tidak perlu kamu berikan untuk bapak.” Seru pak maman sambil mengenggam tangan Rima. “Tapi ini Rima berika untuk bapak dengan ikhlas.” Seru Rima dengan suara lembut. “Tidak perlu nak, uang ini kamu simpan saja.” Seru Pak Maman kepada Rima

Beberapa hari kemudian, Rima menghampiri Gadis di rumahnya untuk bermain sepeda bersama-sama di taman dekat rumah. “Kring…Kringgg…Kringgggggg.” Bunyi bel sepeda Rima. “Gadis ayok main.” Seru Rima memanggil Gadis dari luar Rumah. “Wah, sepedamu baru ya Rima ?” Tanya Gadis. “Iya, kemarin Bapakku yang membelikan.” Jawab Rima. “Kita mau main kemana ?” Tanya Gadis. “Bagaimana kalau bermain di taman saja.” Seru Rima kepada Gadis"Ayo kita berangkat." Seru Gadis dengan suara lantang. “Kring…Kringg…Kringggggg.” Bunyi bel sepeda Rima dan Gadis dibunyikan secara bersamaan.