Cerita Anak "Ketamakan Membawa Celaka"

Dongeng “Ketamakan Membawa Celaka”
karya Devi Rahmaningtias
image
sumber gambar : www.istockphoto.com

Dahulu kala, disebuah hutan hiduplah seekor rubah bernama Foks. Ia dikenal sebagai rubah yang licik dan juga rakus. Ia suka mencuri tanaman dan buah-buahan milik petani di perkebunan sekitar hutan. Hal tersebut tentu membuat para petani menjadi resah dan terus berjaga di perkebunannya. Mereka bahkan memasang jala mengelilingi perkebunan agar foks tidak dapat menyelinap masuk dan mencuri buah di perkebunan milik mereka.

Suatu hari, Foks yang tengah duduk lemas di bawah pohon menahan rasa laparnya, tiba- tiba melihat segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya sambil membawa buah anggur diparuh mereka masing- masing. Foks pun bergegas berdiri dan berlari menghampiri burung- burung itu, “Hai burung, dari mana kalian mendapatkan buah anggur yang segar itu” tanya Foks kepada burung.

“Hai Foks, kami mendapatkan buah anggur ini dari perkebunan milik petani di seberang sana, petani itu sangat baik hati dan dermawan sehingga ia membiarkan kami mengambil buah anggur ini dari kebunnya” jawab burung

Mendengar hal tersebut, Foks sangat senang dan bergembira. Ia segera pergi ke perkebunan anggur yang dimaksud oleh burung. Saat itu sedang musim kemarau, aliran air di sungai yang menghubungkan antara hutan dan kebun anggur itu tidak mengalir deras sehingga dan Foks bisa dengan leluasa melintasi sungai tersebut tanpa harus berenang. Sesampainya diperkebunan, Foks segera memetik anggur itu satu persatu, kemudian memakannya. Setelah dirasa kenyang Foks segera meninggalkan kebun itu dan kembali ke hutan.

Pagi harinya, Foks kembali pergi ke perkebunan itu untuk mengambil buah anggur lagi. karena sifatnya yang rakus dan tamak, Foks terus menerus bolak- balik hampir setiap hari ke perkebunan itu untuk menyantap buah di kebun itu. Hingga pada akhirnya, petani pemilik kebun anggur yang dermawan mulai marah. Petani mulai mengetahui ulah Foks yang sering datang ke kebunnya untuk mencuri buah anggur miliknya. Akibat ulah Foks tersebut, burung- burung pun ikut terkena getahnya, kini mereka juga tak diperbolehkan makan buah anggur di kebun milik petani itu.

Meskipun begitu, Foks tidak pernah kehabisan akal, ia masih saja mencari makan di kebun milik petani itu, meski sudah dengan penjagaan yang ketat, Foks selalu berhasil meloloskan diri dari petani. Suatu ketika, saat itu sedang musim penghujan, air sungai yang biasa ia sebrangi untuk menuju ke perkebunan petani kini mengalir dengan deras, Foks yang tak bisa berenang, kebingungan dan mecari akal bagaimana caranya agar ia bisa kembali ke kebun anggur milik petani disebrang sana, sementara hari sudah mulai gelap dan ia belum menyantap makanan apun dari pagi.

Sesampainya di pinggir sungai, ia melihat Bafelo sedang bersantai di pinggiran sungai. Bafelo merupakan seekor kerbau yang telah lama berteman dengan Foks. Ia terkenal sebagai perenang yang handal di hutan itu. Foks mempunyai sebuah ide yang cemerlang. Foks kemudian menghampiri Bafelo untuk merayunya,
“Hai Bafelo temanku, sudah lama tak jumpa denganmu, mengapa kau terlihat pucat sekali, apakah kau belum makan? Tanya Foks kepada Bafelo.
“Hai Foks, kau benar, seharian ini aku belum makan sama sekali tidak ada satupun yang bisa kusantap di hutan ini” jawab Bafelo lemas.
“Kalau begitu, ayo ikut aku ke kebun anggur milik tuanku yang telah diberikan kepadaku disebrang sana, makanlah sepuasnya disana hingga kau kenyang” ajak Foks kepada Bafelo.
“Wah kau baik sekali Foks, apakah tidak apa- apa jika aku memakan anggur yang ada di kebun itu?” tanya Bafelo ragu.
“Kau ini seperti dengan siapa saja, aku inikan temanmu Bafelo” ucap Foks.
“Baiklah kalo begitu, ayo tunggu apa lagi perutku sudah sangat lapar Foks” jawab Bafelo.
“Tapi Bafelo….air sungai ini sedang meluap aku tidak bisa berenang menyebranginya untuk sampai ke kebun anggur itu” ucap Foks dengan putus asa berusaha merayu Bafelo.
“Kalau begitu naiklah ke pundakku biar aku yang berenang menyebrangi sungai ini” jawab Bafelo.

Foks merasa sangat girang sekali, tipu muslihatnya berhasil membawanya ke kebun anggur itu lagi. Sesampainya di kebun anggur, Foks dan Bafelo bergegas menyantap satu persatu anggur yang ada di kebun itu, hingga tak terasa hampir seluruh anggur di kebun habis di tangan mereka berdua. Para petani yang melihat kejadian itu sengaja bersembunyi untuk menjebak Foks dan Bafelo. “Rupanya kau berdua yang menghabiskan anggur- anggurku selama ini, kemari kau! tak kan kulepaskan lagi kau kali ini” teriak petani sambil berlari mengejar Foks dan Bafelo sembari membawa jala untuk menangkap mereka.

Bafelo yang tak tahu apa- apa segera lari meninggalkan Foks. Sedangkan, Foks yang berada di belakang Bafelo berusaha menyelamatkan diri dari petani dan mencoba mengejar Bafelo ”Bafelo…tunggu aku…aku tidak bisa berenang! jangan tinggalkan aku” teriak Foks.

Bafelo yang sedang panik, tak mengubrisnya dan tetap berlari dengan cepat. Hingga sampailah ia di pinggir sungai. Tak berpikir lama, Bafelo segera meloncat ke sungai, dan mulai menyebrangi sungai itu. Namun, baru setengah perjalanan Bafelo berenang, tiba- tiba muncullah Foks dan berkata “Bafelo, apakah kau tega meninggalkanku disini?”. Meskipun Bafelo pada akhirnya mengetahui bahwa Foks hanya memanfaatkan dirinya, tetapi Bafelo tidak tega melihat temannya itu kesulitan. Ia pun berkata kepada Foks “Cepat Foks, cepat naik ke pundakku jika kau masih ingin selamat!”. Foks pun segera melompat ke pundak Bafelo. Namun, naas Foks yang saat itu kekenyangan tak mampu melompat hingga ke pundak Bafelo.

Akhirnya Foks pun terjatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus sungai yang begitu derasnya. Meskipun Bafelo melihat kejadian itu, namun ia tak sanggup menolong Foks. Ia segera melanjutkan berenang dan menyelamatkan dirinya sendiri dari kejaran para petani yang sudah hampir mendekat.

tamat