Cakap dan Cakep dalam Bermedia Digital guna Menyongsong 'Society' 5.0

Konon katanya, dunia ini memasuki era society 5.0. Artinya apa sih? Artinya, sebuah era yang memaknai masyarakat sebagai sebuah konsep yang terpusat pada manusia guna memberikan solusi penyeimbang atas permasalahan sosial dan kemajuan ekonomi melalui sistem integrasi antara dunia maya dan fisik.

Lalu bagaimana dengan kita? Iya! Kita! :thinking:

Apakah kita kiranya sudah menjadi bagian dari society 5.0? Atau…? Jangan-jangan…? :thinking: :thinking:

Yap! Tentunya kita tak perlu meresahkan hal itu.

Yang pasti kita upayakan dan optimalkan sumbangsih kita guna mewujudkan dan menjadi bagian dari society 5.0.

Emmm… caranya? :thinking:

Yoi! Betul! Dengan cara cakap dan cakep dalam bermedia digital! :grinning:

Bagaimana sih cakap bermedia itu?
Setidaknya terdapat enam hal yang perlu kita ketahui dan lakukan guna cakap dalam bermedia digital agar cakep bermedia digital. Enam hal tersebut meliputi (1) kebiasaan –habits– bermedia digital yang positif, (2) kecakapan digital, (3) budaya digital yang positif, (4) etika digital, (5) keamanan digital, dan (6) jurnalisme digital. Berikut ini paparannya.

Pertama , kebiasaaan --habits-- bermedia digital yang positif. Artinya apa sih, buat cakap bermedia, mesti kita awali dari diri kita dengan cara bermedia digital yang positif. Ada positif, tentunya ada negatif. Pun dalam bermedia digital. Namun, mesti kita wajib berkomitmen pada sendiri untuk membangun kebiasaan bermedia digital yang positif.

Kedua, kecakapan digital. Kebiasaan digital yang positif, tentu perlu ditopang oleh kecakapan digital. Kecakapan digital sendiri merupakan suatu kompetensi (mengakses, menyeleksi, memahami, menganalisis) media digital yang kita gunakan, baik perangkat kerasnya ‘hardware’ dan juga perangkat lunaknya ‘software’.

Ketiga, budaya digital yang positif. Kebiasaan bermedia digital yang positif dan kecakapan digital tentunya penting untuk didukung oleh budaya digital yang positif. Budaya digital di sini, dapat kita maknai dalam konteks sosio-kultural, baik dalam lingkup maya maupun fisik. Akan lebih bagus lagi, apabila kita dapat menjadi “agen” guna mencipta budaya digital yang positif.

Keempat, etika digital. Penting untuk kita ketahui dan sadari, dalam bermedia digital pun itu ada etikanya. Kog gitu sih? Iya pastinya, sebab dalam bermedia digital, yang kita hadapi ialah manusia bukan robot. Meski kita tak bisa menutup mata juga, ada --banyak-- “akun-akun robot” dalam bermedia digital. Meski begitu, kita seyognyanya mengedepankan etika humanis dalam bermedia digital.

Kelima, keamanan digital. Selain etika digital, kita juga wajib tahu mengenai keamanan digital. Keamanan digital kerap dikaitkan dengan data pribadi kita dalam bermedia digital. “Privasi menjadi barang mahal saat ini!” Barangkali itu kalimat yang pas menggambarkan kondisi kita saat ini. Bagaimana tidak, dengan mudahnya kita dapat melihat seseorang ketika bermedia digital “membagikan” data-data yang sifatnya pribadi, seperti nama, nomor identitas pribadi, alamat, nomor hp, dll. Emang gak boleh? Boleh-boleh saja sih, tapi hal itu kurang baik dan seyogyanya jangan dilakukan dalam perspektif keamanan digital. Mengapa? Hadirnya data-data pribadi tersebut meningkatkan kerawanan terhadap kejahatan digital, mulai dari misal nomor WA ke­-hack, bahkan sampai rekening bank pun bisa terkuras habis. Dan penting untuk diingat, keamanan digital di sini tak hanya menyangkut data pribadi kita saja ya, namun juga data pribadi orang lain. Artinya apa? Kita jangan mudah juga membagikan data pribadi orang lain ketika bermedia digital.

Keenam, jurnalisme digital. Apakah kita semua seorang jurnalis? Tentunya bukan! Namun, setiap kita yang bermedia digital memiliki potensi menjadi seorang jurnalis, meski juranlis untuk diri sendiri, he he he. Kog gitu? Pastinya, sebab dari up date ‘pembaruan’ status ketika bermedia digital, secara tidak sadar dan tak langsung kita sedang melaporkan apa yang kita ketahui, apa yang kita lakukan, dan apa-apa yang lain. Penting untuk kita ingat, jangan karena mengejar like dan komen, apa-apa kita status-in.

Kalau keenam hal tersebut dapat kita pahami dan lakukan, itu tandanya kita cakap dalam bermedia digital. Kalau sudah cakap, itu tandanya kita sudah jadi cakep dalam bermedia digital. Kalau sudah cakap dan cakep… itu tandanya, selamat datang dan menjadi bagian society 5.0.

Saya @ayips UNTIDAR, salam literasi :heart: