Di Mana Langit Tak Lagi Biru?
Di tanah Andalas, raung harimau berganti deru mesin
Hutan yang dulu rimbun, kini meranggas jadi abu kelabu
Bukit Barisan meneteskan air mata lumpur ke pemukiman
Menimbun mimpi-mimpi di bawah reruntuhan yang sunyi.
Salah siapa?
Tanya itu terbang bersama asap yang mencekik paru-paru
Apakah salah awan yang enggan menahan bebannya?
Atau salah tanah yang tak lagi sanggup memeluk akar?
Atau salah hujan yang turun tanpa permisi?
Bukan, alam hanya cermin dari apa yang kita tanam
Tanya pada tangan yang mencoret peta demi tambang
Tanya pada pena yang menukar hijau dengan lembar saham
Tanya pada kita yang diam, melihat pohon roboh satu per satu.
Sumatra sedang menjerit dalam diamnya yang megah
Banjir bukan sekadar air, tapi luapan luka yang tak tersembuh
Longsor bukan sekadar tanah, tapi runtuhnya martabat alam
Bencana ini adalah surat cinta yang dibalas dengan luka.
Tak perlu menunjuk telunjuk ke langit yang tinggi
Lihatlah telapak tangan kita yang berlumur kepentingan
Karena bencana bukan sekadar takdir yang buta
Ia adalah anak kandung dari keserakahan yang kita pelihara.