Bagaimana Empat Macam Penggunaan Bahasa Menurut Charles Morris? Yuk, Simak Ulasannya!

Halo Kawan Mijilions! Bagaimana kabarnya nih? Semoga sehat selalu, ya!

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “bahasa”. Eksistensi bahasa dalam kehidupan manusia sangatlah erat kaitannya dengan kegiatan komunikasi. Bahasa digunakan sebagai sarana dalam menyuarakan isi hati dan pikiran sang penutur kepada lawan tutur. Keberadaan bahasa di tengah masyarakat dapat membentuk sebuah kebudayaan yang kemudian mengalami tahap pengembangan. Fungsi utama dari bahasa yakni digunakan sebagai alat untuk menjalin interaksi dengan manusia lainnya. Bahasa juga memegang peranan penting dalam pembelajaran bahasa itu sendiri. Adapun ilmu yang memberikan pemahaman mengenai bahasa dapat disebut dengan ilmu linguistik. Ilmu ini berusaha membedah bahasa dengan cara menelaah dan mengkajinya dalam lingkup yang umum. Linguistik terbagi menjadi beberapa cabang, salah satu diantaranya yakni semantik.

Semantik berasal dari bahasa Yunani yakni semantikos (memberi tanda). Cabang linguistik ini adalah studi yang mengulik tentang makna atau arti yang terdapat di suatu kode, bahasa, serta macam representasi lain (Nafinuddin, 2020). Semantik memiliki kedudukan yang sederajat dengan cabang linguistik linguistik lainnya, seperti dengan morfologi, sintaksis, dan fonologi. Lebih jauh, dapat kita pahami bahwa semantik juga meneliti hubungan antar tanda linguistik dengan hal yang menjadi penandanya. Dari aspek objek kajian, semantik menjadikan satuan bahasa yang dapat menyatakan sebuah makna menjadi objek utama. Mengacu pada pendapat Ekowardono (dalam Nasution, 2022), bahasa yang memiliki makna meliputi klitik, frase, leksem, kata, kalimat, kalusa, serta wacana. Selain itu, ada pula satuan bahasa yang menyatakan makna namun tidak memiliki makna yang disebut dengan morfem.

Dengan mempelajari semantik secara menyeluruh, kompetensi bahasa yang dimiliki tentu akan meningkat. Hal tersebut bersesuaian dengan fungsi utama semantik sebagai suatu ilmu bahasa. Manfaat lain yang diperoleh ketika seseorang mengkaji teori semantik secara paripurna adalah kemudahan dalam mengolah bahasa menjadi kalimat yang bersifat informatif. Adapun kegunaannya untuk calon guru terutama guru Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu membantu serta memudahkan dalam mengajarkan mengenai makna yang terdapat dalam suatu bacaan atau teks kepada peserta didik, mengingat teks merupakan salah satu aspek penting yang kini menjadi metode pembelajaran dalam kurikulum pendidikan terbaru. Dalam mempelajari semantik, kita akan dihadapkan mengenai pembedaan penggunaan bahasa serta tujuan penggunaan bahasa tersebut.

Lalu, apa saja sih macam penggunaan bahasa?

Seorang filsuf berkebangsaan Amerika bernama Charles Morris membagi penggunaan bahasa menjadi empat macam, diantaranya yakni 1). informatif, 2). valuatif, 3). incitif, 4). dan sistemik. Penjabaran dari masing-masing macam tersebut yakni sebagai berikut:

  1. Informatif, bahasa ini bersifat rasional serta menjelaskan mengenai yang telah lampau, masa sekarang, dan yang akan datang. Interpretasi yang ditimbulkan oleh sign bahasa yang digunakan ialah apa adanya baik pada pembaca maupun pendengar.
  2. Valuatif, bahasa ini menimbulkan perasaan serta emosi tertentu pada pembaca atau pendengar. Bahasa valuatif menekankan bentuk perasaan dalam pemberian informasi. Sikap serta pendirian yang mengutamakan sesuatu juga merupakan karakteristik bahasa valuatif. Contohnya: puisi, cerita fiktif, serta retorika tertentu.
  3. Incitif, bahasa ini menimbulkan aksi atau tindakan, berbeda dengan macam penggunaan yang lain. Bahasa incitif memberikan keberanian melalui rangsangan tindakan sehingga dapat menghasilkan interpretasi dalam bentuk tindakan. Penggunaan bahasa incitif dapat ditemui dalam bidang moral, tata bahasa, agama, dan hukum.
  4. Sistemik, bersifat spekulatif, mengatur, dan memberi pikiran kritis. Bahasa sistemik menata kembali apa yang telah dicapai oleh tiga fungsi bahasa lainnya. Bahasa ini dapat ditemui di bidang kritikal, kosmologikal, metafisikal, dan propagandistik.

Beberapa macam penggunaan bahasa tersebut mengandung tujuan yang memiliki modus tertentu, seperti formatif, preskriptif, apraisal, dan designatif (Charles Morris, 2004). Adanya modus bahasa tersebut mengacu pada cara suatu tujuan bahasa dicapai dengan baik. Modus designatif lebih merujuk pada data yang bersifat empiris. Sementara itu, modus appraisal memberikan suatu nilai personal dan bersifat pribadi. Selanjutnya, modus preskriptif mengemukakan mengenai tujuan bahasa yang ingin dicapai oleh penulis atau pembaca. Terakhir, modus formatif mengacu pada keinginan penulis dalam menata apa yang telah dicapai oleh modus lainnya.

Kategori tujuan serta penggunaan bahasa tersebut akan memberikan kemungkinan dalam menganalisis suatu wacana dengan lebih terarah. Pada akhirnya, semua valuasi, informasi, serta incitif akan disatukan dalam bentuk tulisan yang disusun oleh modus formatif secara tertata. Tulisan ilmiah merupakan contoh penerapan berbahasa yang memiliki sifat sistemik dan disusun sedemikian rupa membentuk suatu pola tertentu.

REFERENSI

Nafinuddin, S. (2020). Pengantar semantik (pengertian, hakikat, jenis). Pengantar Semantik, 1–21. https://doi.org/10.31219/osf.io/b8ws3

Nasution, P. (2022). Modalitas Dalam Bahasa Minangkabau. Jurnal Ekonomi Bisnis Dan Teknologi, 2(1), 228–234. http://jurnalsora.stba.ac.id/index.php/jurnal_sora/article/view/58

Parera, J. D. (2004). Teori semantik. Erlangga.