Awan menyapu pesisir dengan sapu hujan yang tak pernah lelah,
menyaksikan jejak air di wajah desa-desa,
menangis lebih deras dari sungai yang meluap.
Siapa yang harus dipanggil ketika langit jatuh?
Orang orang berdiri di atas tanah yang retak,
bertanya dengan senja yang mendung:
“Salah siapa derasnya ini?”
Bukan hanya angin yang berteriak lewat pepohonan,
tapi suara-suara yang bergema di lorong politik,
di ruang-ruang penuh meja dan undang-undang yang lupa merawat tanah, hutan, dan anak-anaknya.
Ada tumpukan duka di setiap rumah,
air membawa serta kenangan dan harapan, menjadi kenangan lumpur di pojok kamar, rak-rak kosong, sejarah yang tak pernah diminta.
