Atara Healing dan Lari dari masalah: Sibuk Bukan Bearti Sembuh

Istilah healing belakangan ini semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Setiap kali merasa lelah, stres, atau kecewa, banyak orang memilih pergi ke tempat yang ramai atau sekadar berjalan tanpa tujuan. Malioboro, salah satu ikon Kota Yogyakarta, kerap menjadi pilihan untuk mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Malioboro menawarkan suasana yang unik. Lampu jalan yang hangat, pedagang kaki lima, serta musik jalanan menciptakan kesan hidup dan akrab. Bagi sebagian orang, berada di tempat seperti ini memberi rasa nyaman, seolah masalah bisa dilupakan sejenak. Namun, di balik itu muncul pertanyaan: apakah kegiatan tersebut benar-benar bagian dari healing, atau justru bentuk lari dari masalah?

Healing sejatinya adalah proses menyembuhkan diri, baik secara fisik maupun emosional. Proses ini tidak selalu berarti harus pergi jauh atau menghindari kenyataan. Healing justru menuntut keberanian untuk mengenali perasaan, menerima keadaan, dan perlahan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

Sebaliknya, lari dari masalah sering kali ditandai dengan upaya terus-menerus menghindari kenyataan. Seseorang terlihat sibuk, sering bepergian, atau selalu mencari keramaian agar tidak perlu berhadapan dengan pikiran dan perasaan sendiri. Dalam jangka pendek, cara ini memang terasa menenangkan, tetapi tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Berjalan di Malioboro bisa menjadi healing jika dimaknai sebagai waktu jeda untuk menenangkan pikiran. Namun, aktivitas tersebut berubah menjadi pelarian ketika digunakan semata-mata untuk menunda penyelesaian masalah. Kuncinya terletak pada kesadaran diri: apakah kita sedang memberi ruang untuk pulih, atau justru terus menghindar?

Melalui pengalaman sederhana di Malioboro, kita diajak untuk lebih jujur pada diri sendiri. Tidak apa-apa merasa lelah dan mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Namun setelah itu, kita tetap perlu kembali menghadapi kenyataan. Dengan demikian, healing bukan lagi sekadar tren, melainkan proses bertumbuh menuju pribadi yang lebih kuat dan bijak.