Andalas dalam Dekapan Kelam

Dahulu, punggung Andalas adalah hamparan hijau yang suci,

di mana rimba bernapas tanpa cemas,

dan sungai-sungai mengalirkan bening air mata dewa.

Namun tangan-tangan yang lapar mulai memahat luka,

menukar rimbun rahim bumi dengan keping-keping yang fana.

Kami rampas jantung hutan, kami gunduli mahkota gunung,

atas nama megah yang kami sebut dengan kemajuan.

Akar-akar yang dulu memeluk tanah kini tercabut,

meninggalkan tebing-tebing telanjang yang kehilangan pegangan.

Alam yang tidak segera bereaksi membuat kami berpikir,

pada saat semua ini sirna apa alam akan tetap diam?

Hujan datang membawa rindu,

tanah yang selalu menyambut dengan penolakan halus,

kini tak lagi mampu mendekap kami dalam perlindungan,

ia luruh dalam murka,

menyeret dendam yang terkubur dalam lumpur yang pekat.

Saat lidah lumpur menelan desa,

bukan lagi suara mesin yang terdengar,

bukan lagi suara kebahagiaan kami,

bukan lagi suara tawa kami saat menerima lembaran-lembaran berharga,

Melainkan suara tangisan,

jeritan,

dan bahkan…

suara kami menyebut asma Tuhan seolah-olah menyalahkan takdir?

Ah…

Sungguh dangkal telaga nalar kami.

Hutan yang rimbun kini bersimpuh,

menyeret kampung-kampung ke dalam perut bumi yang lapar,

meninggalkan sunyi yang panjang di sela-sela bebatuan.

Lihatlah air tenang yang dulu kami khianati dengan limbah,

kini ia datang menagih hutang dengan gelombang setinggi langit.

Gelombang itu bukan lagi air,

ia adalah puing dan barisan nisan tanpa nama yang berlari di atas buih.

Dinding-dinding kapur luruh seperti butiran doa,

menelan suara kami di antara gemeretak kayu dan tangis yang mendidih.

Di bumi Andalas, kami mengubur harapan bersama dengan lumpur yang mengeras.

Bukan alam yang kejam, melainkan sabarnya yang telah habis,

oleh mesin-mesin yang tak henti mengoyak perut bumi.

Andalas kini bersimbah duka,

bukan karena takdir,

tapi karena tangan-tangan yang tak pernah merasa cukup.

Kami baru tersadar bahwa harta tidak bisa dibawa mati,

sekalipun sekadar terseret arus,

dan beton tak bisa menahan amarah bumi yang dikhianati.

Bencana ini adalah surat cinta yang ditulis dengan tinta darah,

mengingatkan bahwa saat manusia kehilangan rasa syukur,

alam akan menjemput kembali ketenangannya dengan cara yang paling hancur,

dengan kata lain,

bencana ini adalah saksi bahwa keserakahan manusia terhadap alam,

melenyapkan siapapun yang berada di jalurnya,

bahkan makhluk yang tidak bersalah sekalipun.