Hijau daun hutan berganti coklat hamparan tanah
Tingginya pohon berganti rendahnya mesin pemotong
Akar yang menancap kuat kini tak lagi hebat
Sejuknya hembusan angin kini tak lagi tertolong
Di langit malam, hujan merangkai kisah
Membawa deras nestapa bukan rintik bahagia
Deras pekat air coklat, datang tanpa iba
Menyapu bersih apa yang dilaluinya
Ia menyerang tak sendiri, melawan manusia
Membawa lumpur, batu, dan kayu sebagai senjata
Menghancurkan apa yang didepan mata
Membalas kerusakan yang dibuatnya
Teriakan dan tangisan mulai terdengar
Menghiasi nestapa akibat perbuatannya sendiri
Dada berdegup kencang, terkejut akan pembalasan
Kantuk mulai pergi dan rasa takut mulai menghiasi
Alam tak lagi diam, ia menangis atas lukanya
Ia membalas rasa sakit pada dirinya
Ia datang dengan perih dan air mata
Mengamuk dan memusnahkan semuanya
Hei manusia!, bangunlah dari mimpi
Demi lembaran kertas kau telah merusak bumi
Memusnahkan hutan yang lestari
Menghancurkan keseimbangan diri kami
Gemuruh tangisanmu bukan salah kami
Hancurnya megah bangunanmu bukan salah kami
Hilangnya ratusan kehidupan juga bukan salah kami
Kami hanya membalas apa yang kau beri
Tajam mata pisaumu terasa mengikis
Cukup sudah perih ku terima
Kau adalah penyebab kami menangis
Adakah nurani yang kau berikan?
Siapakah yang salah diantara kita?
Apakah kami yang membalas luka?
Atau, engkau yang menjadi penyebab luka?
Luka yang kau terima, sama dengan perih yang kami rasa