Alam yang Dilukai, Manusia yang Membayar

Malam itu hujan turun tanpa jeda, memukul atap seng seperti peringatan yang tak sempat diterjemahkan. Sungai di belakang rumah Rahma berubah menjadi arus cokelat pekat, membawa batang kayu, lumpur, atap rumah, dan suara teriakan yang saling bersahutan. Malam ketika air meluap, Rahma terbangun oleh getaran tanah dan jeritan orang-orang yang berlari tanpa sempat menyelamatkan apa pun.

Bukit yang dulu hijau kini hanya bayangan gelap. Tidak ada lagi akar yang menahan, tidak ada lagi rimbun yang menyerap air. Dalam hitungan menit, tanah runtuh membawa lumpur, batang kayu, dan kenangan. Rumah tetangga lenyap lebih cepat daripada doa selesai diucapkan. Rahma berlari tanpa tahu ke mana, hanya mengikuti arus manusia yang sama-sama kehilangan arah.

Pagi datang bersama bau lumpur dan tangis yang tidak disembunyikan. Jalan putus, jembatan hilang, persediaan makanan menipis, dan bantuan tak kunjung datang. Hari berganti dengan perut kosong. Di gudang beras milik negara, pintu akhirnya jebol oleh tangan-tangan gemetar, bukan karena rakus, tetapi karena lapar. Tidak ada sorak, tidak ada tawa hanya wajah-wajah lelah yang tahu mereka sedang melanggar hukum demi bertahan hidup.

Rahma teringat hutan rimbun, basah, dan sejuk yang dulu menutup bukit . Ia ingat suara gergaji, truk-truk kayu yang berlalu, dan janji kesejahteraan yang tak pernah benar-benar datang. Kini, yang tersisa hanyalah lumpur dan kehilangan.

Saat matahari akhirnya muncul di balik awan, Rahma berdiri memandang desa yang porak-poranda. Ia tak tahu bagaimana memulai lagi. Namun ia tahu satu hal, jika tanah terus diperlakukan seperti barang dagangan, maka setiap hujan akan selalu membawa ancaman. Alam tidak pernah mengkhianati manusia. Manusialah yang lebih dulu meninggalkannya. Bencana ini bukan sekadar hujan deras, pikirnya. Ini adalah cerita panjang tentang alam yang dilukai dan akhirnya manusia yang harus membayar.