Takbir pecah di antara hujan dan teriakan,
doa berserakan bersama langkah yang panik.
Air naik tanpa menunggu kesiapan,
rumah ditinggalkan dalam gelap dan dingin,
dan Sumatera terbangun oleh ketakutan.
Hutan tak runtuh sekaligus,
ia menghilang helai demi helai.
Akar dilepas dari tanahnya,
bukit dibiarkan belajar jatuh,
hingga hujan datang bukan lagi rahmat.
Bencana ini dirajut dari waktu yang panjang,
dari rapat, tanda tangan, dan kelengahan.
Lereng dikerjakan tanpa jeda,
alur air dipaksa mengalah,
hingga runtuh menjadi konsekuensi.
Di Sumatera, rumah-rumah terisi lumpur di dalamnya,
meja, kasur, dan kenangan tertimbun senyap.
Gelondongan kayu mengalir bersama air,
menabrak dinding, menyeret ladang,
meninggalkan diam yang berat.
Saat air belum surut dan jalan terputus,
semua insan menanti bantuan dengan sabar yang rapuh.
Perut lapar tak mengenal prosedur,
manusia berlomba bertahan apa pun caranya,
bukan karena nurani hilang, tetapi karena hidup dipertaruhkan.
Maka ketika banjir dan longsor datang bersamaan,
kita tak lagi bisa menunjuk hujan semata.
Sebab air, lumpur, dan gelondongan kayu telah bicara,
menjadi saksi dari pilihan manusia,
meninggalkan tanya yang tak bisa lagi disangkal.