Uang Tak Bisa Membendung Air

Langit sore di tanah Sumatera tampak seperti memar, ungu kehitaman tertutup awan tebal. Di teras rumahnya, Haris duduk menatap kapak tua dan sepatu bot yang sudah berdebu. Sudah hampir dua tahun ia meletakkan alat-alat itu. Ia memilih berhenti dari pekerjaannya di perusahaan kayu, sebuah keputusan yang dianggap gila oleh teman-temannya. “Kayunya masih banyak, Ris. Kenapa berhenti?” tanya mereka dulu. Haris hanya menjawab dengan diam. Namun dalam hatinya, ia merasa ngeri melihat bagaimana ribuan hektar hutan primer hilang dalam hitungan bulan, digantikan oleh hamparan lahan kosong yang dipersiapkan untuk perkebunan sawit. Ia tahu, setiap pohon besar yang ia tumbangkan adalah satu paku yang dicabut dari fondasi bumi.

“Pak, air sumur kita keruh lagi,” suara istrinya menyentakan lamunan Haris. Ibu sedang sibuk memindahkan barang-barang ke rak yang lebih tinggi. “Hujannya tidak berhenti dari kemarin. Perasaanku kok tidak enak, Pak.” Haris berdiri, menatap ke arah bukit yang menjulang di belakang desa. Dulu, bukit itu adalah pelindung yang rimbun. Kini, permukaannya tampak seperti kulit yang terkelupas. Banyak bagian bukit itu yang gundul dan hanya menyisakan semak-semak rapuh. Di wilayah itu, longsor kecil sudah menjadi peristiwa biasa setiap musim hujan, tetapi Haris tahu titik jenuh tanah sudah sampai pada puncaknya.

Malam pun jatuh dengan sangat berat. Hujan yang turun bukan lagi rintik, melainkan hunjaman air yang seolah ingin meruntuhkan atap seng mereka. Tiba-tiba, suara “Kraakk!” yang memekakkan telinga terdengar dari arah hutan. Disusul oleh raungan gemuruh yang menggetarkan lantai rumah. “Longsor! Keluar! Keluar sekarang!” teriak Haris sambil menyambar tangan Adi, anaknya yang baru berusia sepuluh tahun. Saat mereka membuka pintu, air setinggi pinggang orang dewasa sudah menerjang teras. Bukan lagi air jernih, melainkan lumpur cokelat pekat yang membawa sampah kayu dan batu.

Di kejauhan, jeritan warga bersahutan dengan suara rumah-rumah yang roboh diterjang banjir. Mereka mencoba berlari menuju tempat tinggi, namun mereka terpaku. Jembatan satu-satunya menuju balai desa sudah hanyut. Di sisi lain, lereng bukit mulai merayap turun menutup jalan utama. Mereka terisolasi. Mereka bingung harus mengungsi ke mana, sementara air terus naik dan tanah di bawah kaki mereka terasa tidak stabil. “Bapak, kita mau ke mana? Tidak ada tempat lagi”, tangis Adi pecah di tengah deru hujan. Mereka hanya bisa bertahan di atas sisa pondasi bangunan yang lebih tinggi, saling berpelukan dalam dingin yang menusuk tulang.

Adi menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Ada kemarahan yang jujur di mata anak itu. Ia teringat cerita ayahnya dulu tentang betapa bangganya sang ayah bisa menebang pohon-pohon raksasa untuk membeli mainan dan sekolahnya. “Bapak dulu yang potong pohon di sana, kan?” suara Adi bergetar, bersaing dengan deru hujan. “Bapak bilang itu untuk cari uang. Tapi sekarang lihat, Pak! Uang itu tidak bisa hentikan air ini”. Haris terdiam. Pertanyaan anaknya menghantam dadanya lebih keras daripada hantaman arus sungai. “Pak, mereka semua serakah”, teriak Adi lagi, tangisnya pecah bukan karena takut, tapi karena merasa dikhianati. “Orang-orang besar itu ambil kayunya, mereka ambil uangnya, tapi mereka tinggalkan lumpur ini untuk kita! Kenapa Bapak dan teman-teman Bapak tidak biarkan pohonnya tumbuh? Sekarang kita mau mengungsi ke mana? Semuanya sudah hancur”.

Haris hanya bisa mendekap anaknya erat-erat, air matanya jatuh menyatu dengan air hujan. Ia ingin menjelaskan tentang kebijakan yang salah, tentang izin-izin yang tumpang tindih, atau tentang tuntutan ekonomi yang menjepitnya dulu. Tapi di hadapan kemurnian hati seorang anak yang kehilangan masa depannya karena keserakahan generasi sebelumnya, semua alasan itu terasa hambar. “Bapak minta maaf, Nak…” bisik Haris serak. “Bapak minta maaf.”

Malam itu, di bawah langit Sumatera yang sedang marah, Adi belajar satu hal yang paling pahit, bahwa keserakahan orang dewasa selalu meninggalkan utang yang harus dibayar oleh anak-anak mereka dengan nyawa dan air mata.