Salah satu tradisi budaya khas Kota Magelang adalah Grebeg Gethuk, yang diadakan untuk memperingati hari jadi kota. Tradisi ini melibatkan arak-arakan yang membawa gethuk, makanan khas Magelang yang dibuat dari singkong. Berbagai bagian masyarakat, seperti seniman, pelajar, dan perangkat daerah, berpartisipasi dalam prosesi yang meriah ini dengan mengenakan pakaian adat serta menampilkan kesenian tradisional. Selain melestarikan budaya lokal, Grebeg Gethuk juga menjadi acara hiburan.
Makanan ini dibuat dari singkong yang dikukus, dihaluskan, lalu dicampur dengan gula serta kelapa parut. Dahulu, gethuk menjadi makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat karena bahan-bahannya mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Seiring waktu, gethuk berkembang menjadi makanan khas yang membanggakan warga Magelang. Oleh karena itu, gethuk dipilih sebagai simbol utama dalam tradisi Grebeg Gethuk.
Grebeg Gethuk pertama kali diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil bumi yang melimpah, terutama singkong sebagai bahan utama pembuatan gethuk. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi acara tahunan yang memiliki makna mendalam untuk melestarikan budaya dan identitas daerah. Acara ini mengajak masyarakat untuk mencintai dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Rangkaian acara Grebeg Gethuk diawali dengan arak-arakan budaya yang menampilkan berbagai kesenian lokal, seperti tari-tarian tradisional, musik gamelan, dan kostum khas Magelang. Setelah itu, gunungan gethuk yang dibuat dari ribuan potong gethuk diarak mengelilingi kota dengan iring-iringan yang meriah. Gunungan tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang telah menunggu di sepanjang jalan. Suasana menjadi sangat ramai dan meriah dengan penuh semangat kebersamaan.
Kemeriahan Grebeg Gethuk tidak lepas dari persiapan yang matang dan makna filosofis di baliknya. Gunungan gethuk yang menjulang tinggi, terdiri dari dua macam gethuk—gethuk utuh dan gethuk tumpeng—memiliki arti mendalam. Gethuk utuh yang diletakkan di bagian bawah melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan, sementara gethuk tumpeng di bagian atas merupakan simbol dari gunung sebagai tempat suci yang menghubungkan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Pembagian gunungan gethuk kepada masyarakat juga melambangkan kemakmuran dan rasa syukur yang dibagikan kepada semua orang, tanpa memandang status sosial.
Persiapan acara Grebeg Gethuk biasanya dimulai berminggu-minggu sebelumnya. Berbagai kelompok masyarakat, dari pelaku UMKM hingga sanggar seni, terlibat aktif dalam proses ini. Para pembuat gethuk bergotong royong menyiapkan ribuan potong gethuk, memastikan semua bahan baku berasal dari petani lokal. Hal ini tidak hanya menjaga kualitas gethuk, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat Magelang. Setiap detail dalam acara, mulai dari rute arak-arakan hingga pemilihan penampil kesenian, direncanakan dengan cermat untuk memastikan Grebeg Gethuk berjalan sukses dan memberikan kesan yang mendalam bagi para pengunjung, baik lokal maupun wisatawan.
Tujuan utama dari Grebeg Gethuk adalah untuk menjaga budaya tradisional dan memperkenalkan masyarakat kepada kuliner Magelang. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga serta meningkatkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Dari segi pariwisata, Grebeg Gethuk juga bertujuan untuk menarik wisatawan agar mengenal dan mengunjungi Kota Magelang.
Tradisi Grebeg Gethuk memiliki nilai sejarah dan kebersamaan selain kemeriahan budaya. Tradisi ini melibatkan masyarakat luas, menguatkan identitas Magelang sebagai kota budaya. Akibatnya, Grebeg Gethuk harus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya agar tidak punah dan tetap menjadi kebanggaan masyarakat.

