Tersudut Pada Sebuah Pilihan

Pilihan masa depanku dimulai ketika semester akhir 3 SMA, saat itu sudah bermunculan pendaftaran universitas-universitas . Melihat-lihat jurusan saintek sepertinya dalam hatiku kurang tertarik, aku lebih tertarik pada jurusan soshum, itu yang aku ketahui sejak awal. Padahal kenyataannya aku ini saat SMA masuk di IPA yang sudah terbiasa dengan biologi,fisika,kimia. Mungkin aku lebih tertarik ke soshum karena aku merasa sudah bosan menghitung, menghafal rumus, begitulah pelarianku menghindari saintek.

Pada saat itu, aku memilih kuliah di politeknik negeri di kotaku jurusan D3 Akuntansi atau D3 komputerisasi akuntansi. Dari mulai seleksi pmdk sampai jalur mandiri aku ditolak. Orang tua ku pun sangat setuju aku memilih kuliah di disitu, tapi sayang sekali Tuhan masih ingin aku berusaha lagi. Letak politeknik negeri madiun itu sangat dekat dengan rumahku dan itu alasan terbesar orang tua ku sangat mendukungku kuliah disitu. Orang tua ku bisa dibilang cukup sedih karena mereka berharap sekali aku bisa kuliah disitu dan masih bisa dekat dengan mereka. Aku pun merasa telah mengecewakan mereka tapi mau bagaimana lagi garis sudah ditentukan.

Tapi tak semudah itu aku menyerah, aku mendaftarkan diri di Poltekkes jurusan D3 ahli gizi. Tepat sekali, yang aku daftar kali ini sangat bertentangan dengan keinginanku yang tertarik di soshum. Selain itu aku juga mendaftarkan diri di jurusan D3 perbankan. Saat tiba hari pengumuman aku cukup kecewa karena ditolak padahal saat itu aku benar-benar berharap karena pada waktu itu kesempatan dan peluang pendaftaran semakin menipis. Tibalah hari dimana aku merasa bingung karena melihat ternyata aku diterima di Poltekkes Jogja. Tak tahu bagaimana harus mengekspresikan diriku saat itu, aku senang tetapi disisi lain aku merasa bimbang.

Hal ini merupakan salah satu alasan aku merasa tersudut harus menentukan jalan tujuanku kedepannnya. Aku bilang ke orang tuaku dan aku mendapat dua jawaban yang berbeda. Ayah ku yang berkata tidak apa-apa dan lebih menyarankan sesuai dengan keinginanku sedangkan ibuku berkata lain, ibuku tidak menyetujui aku kuliah di Jogja. Ibuku memintaku untuk kuliah dekat dengan rumah agar tetap bisa berkumpul dengan keluarga dan bisa membantu ibuku. Aku benar-benar merasa tak tahu dan disudutkan diantara dua pilihan karena pada saat itu masih belum ada lagi yang membuka pendaftaran. Setelah berpikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk tetap berada disisi kedua orang tuaku dan tidak melanjutkan proses registrasi.

Ternyata dibalik keputusanku itu, Tuhan masih berbaik hati memberikan aku kesempatan. PSDKU UNS Madiun membuka pendaftaran dan tentunya aku memilih jurusan D3 akuntansi sesuai keinginanku. Ini adalah kemungkinan terakhir aku bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Jika kali ini aku tidak diterima lagi tidak bisa dielakkan aku akan masuk ke perguruan tinggi swasta di daerahku. Menjelang hari-hari pengumuman aku hanya bisa berserah, meminta restu dari kedua orang tuaku semoga kesempatan terakhirku ini tidak mengecewakan mereka. Rasanya seperti berada di ujung jurang pilihannya cuma ada dua jatuh atau selamat. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba aku langsung melihat pengumuman dan ternyata aku diterima. Dan aku merasa senang sekali sangat bersyukur ternyata Tuhan sebaik itu memberikan jalan untukku. Aku masuk di jurusan D3 akuntansi dan lokasi nya tak jauh juga dari rumahku. Sangat sesuai dengan kemauanku dan orang tua ku. Setelah itu aku bertekad untuk tidak mengecewakan kesempatan ini dan harus membanggakan kedua orang tuaku.