Tentang Sebuah Keikhlasan

Tahun 2020 merupakan tahun terberat sekaligus tahun terbaik selama 19 tahun aku terlahir di dunia. Di tahun ini, aku merasakan apa yang namanya kegagalan. Yap, kegagalan terbesar yang pernah aku alami. Gagal masuk PTN. Mungkin, bagi sebagian orang hal itu adalah hal yang wajar, tetapi tidak untukku. Aku memiliki ambisi itu sejak masih duduk di bangku SD. Selalu terbayang bahwa aku akan diterima seleksi masuk PTN tepat di tahun aku lulus SMA. Nyatanya ada rencana yang lebih baik yang sudah tuhan persiapkan untukku.

Ditolak di SNMPTN, SBMPTN, serta kondisi keluarga yang berada pada bagian bawah roda kehidupan ditambah turunnya ekonomi karena pandemi mengharuskanku untuk mengambil keputusan gap year. Di masa gap year, aku berniat fokus belajar untuk mempersiapkan SBMPTN tahun berikutnya. Namun, menjadi pengangguran bukanlah hal yang mudah. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh tetangga, teman, dan saudara yang harus aku jawab.

Bagian terbaiknya adalah aku memiliki banyak pengalaman baru. Aku mengisi kekosongan waktuku dengan mengajar pendidikan Al-Qur’an atau mengaji di masjid dan membantu tetangga-tetangga yang masih SD untuk mengerjakan tugas sekolahnya setiap hari. Menjadi suatu kebahagian bahwa aku dapat membawa manfaat bagi orang di sekitarku.

Selain itu, aku mendapat tawaran untuk bekerja di salah satu apotek milik tetangga yang saat itu sedang krisis karyawan. Ah iya, aku merupakan lulusan SMA IPS yang tentu saja akan sangat sulit untuk masuk ke dunia farmasi. Beruntungnya, orang-orang baik ada di sekitarku. Awalnya aku hanya diberi pekerjaan yang berkaitan dengan keuangan dan pembukuan, seiring berjalannya waktu aku mulai belajar mengenai obat-obatan. Bersyukur karena aku dapat belajar gratis mengenai obat-obatan dan mengerti sedikit tentang dunia kerja.

Terhitung sudah tujuh bulan aku menjalani aktivitas dengan bekerja, mengajar, dan belajar secara berulang. Tiba saatnya pendaftaran UTBK-SBMPTN, ujian yang aku tunggu-tunggu. Sempat kebingungan saat aku harus memilih program studi, antara pilihan yang realistis atau idealis. Setelah beribadah dan diskusi dengan orang tua, aku memutuskan untuk memilih program studi yang realistis sekaligus idealis, yaitu Ilmu Administrasi UNS di pilihan pertama dan Sosiologi di pilihan kedua. Aku memilih dua program studi ini karena aku sudah tertarik dengan ilmu sosial dan politik sejak masih SMA.

Aku memilih UNS atas saran dari kedua orang tua dan keluarga terdekat, alasannya karena dekat dengan rumah mungkin. Tidak seperti tahun 2020, aku egois memilih program studi dan Perguruan Tinggi Negeri yang aku inginkan tanpa berdiskusi dengan orang tua. Nyantanya, sesuatu yang direstui oleh orang tua akan menjadi jalan yang mudah bagiku. Aku dimudahkan dalam mengerjakan soal UTBK dan optimis mendapatkan nilai yang bagus sehingga lolos SBMPTN. Benar sekali, aku lolos SBMPTN pada tahun 2021, di program studi yang tidak aku sangka. Program studi yang memiliki daya saing tinggi Ilmu Administrasi Negara. Padahal aku hanya belajar sekitar 1-2 jam setiap hari. Sedangkan dulu, aku yang belajar dari pagi hingga larut malam pun tidak membuatku lolos SBMPTN. Semoga saja menjadi mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UNS adalah hal terbaik yang tuhan berikan kepadaku.

Aku menyadari bahwa segala hal yang kita inginkan tidak selamanya menjadi hal yang terbaik untuk kita. Sekeras apa pun kita berusaha, jika itu bukan untuk kita maka tidak akan menjadi milik kita. Kita hanya perlu menyerahkan segala hal kepada tuhan, diiringi dengan doa, ibadah, dan usaha dengan ikhlas karena tuhan mengerti apa yang terbaik untuk kita.

1 Like

Mungkin ini berkah waktu ngajar ngaji. Jarang anak muda yang mau mengajar ngaji.

Kalau cowok-cowok kampus pada tahu cerita ini, mungkin banyak yang KEPO.