Tempe Alakatak: Rupa Tak Kalahkan Rasa

image

Tempe alakatak, begitulah orang-orang menyebutnya. Makanan ini merupakan makanan khas dari Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, tepatnya Sukoharjo bagian selatan.

Langka, itulah kata yang tepat menggambarkannya. Hal itu tak lepas dari sedikitnya penjual sekaligus pembelinya. Makanan yang dari segi rupa kurang menarik ini biasanya dijual oleh ibu-ibu paruh baya --baca nenek-nenek–. Soal rupa itu pula yang membuatnya sepi pembeli, apalagi pembeli generasi milenial. Meski begtu, soal rasa boleh diadu dengan makanan kekinian.

Daun jati menjadi baju kebesaran tempe alakatak. Tempe benguk/ tempe koro menjadi bahan utama pembuatannya. Bahan itu dihaluskan, direbus, dan ditambah kelapa serta pewarna kuning dari kunyit. Mi pentil dengan warna kuning dan putih menambah meriah tempe alakatak.

Apabila kawan mijil berkunjung ke Sukoharjo, tempe alakatak dapat ditemui di pasar-pasar tradisional. Selain itu, kawan mijil dapat juga menjumpainya di pasar pasaran yang jatuh di hari Minggu Legi dan atau Rabu Pahing. Irma H.Gz20

Mi pentil: Mi yang berbahan dasar tepung singkong ‘gaplek’.
Pasar pasaran: pasar yang buka pada hari pasaran, terdiri dari lima: pahing, pon, wage, kliwon, legi.

Setuju banget kalau daun Jati disebut ‘baju kebesaran’ Tempe Alakatak. Pohon jati sendiri adalah pohon yang langka. Banyak diburu orang.

Mungkin kalau di luar negeri, ini jadi makanan mewah karena faktor daun Jati yang dipakai. Zaman sekarang kebanyakan makanan dibungkus pakai plastik. Hasil kimia.