Tangis Pilu Sumatera

Di bawah kumpulan awan yang hitam,
Sumatera menjadi tokohnya,
rintik air jatuh tanpa jeda,
membuat sang sungai marah.

Hutan yang dulu hijau pekat,
kini hanya tersisa warna coklat,
pohon ditebang dengan bangga,
tak menyisakan apa-apa.

Tanah retak bagaikan kaca,
meleleh bagaikan mentega,
perlahan menghantam dunia,
menutup apapun yang ada di depan mata.

Kumpulan batang berdatangan,
menusuk satu persatu jiwa,
air keruh mengguyur semuanya,
raga menghilang entah kemana.

Alam menangis tak tertahan,
meluapkan segala amarah,
jadi, ini semua salah siapa?
tak ada yang tahu, Tuhan.