Tanah yang mengingat nama

Sejak banjir itu, Parman tidak pernah lagi tidur nyenyak.

Setiap kali matanya terpejam, ia mendengar suara kayu patah dan tanah yang bergerak pelan—seperti napas panjang seseorang yang menahan marah.

Desa Bukit Sari kini tinggal separuh. Separuh lainnya terkubur bersama kenangan: surau kecil, kebun kopi, dan rumah kayu milik ibunya. Semua hilang dalam satu malam ketika hujan tak mau berhenti dan bukit di belakang desa runtuh seperti tubuh renta yang kehilangan penopang.

Parman selamat karena malam itu ia berjaga di pos ronda. Ironis, sebab ia adalah salah satu orang yang ikut membuka jalan menuju bukit itu lima tahun lalu.

“Ini demi pembangunan,” kata mandor waktu itu.

“Cuma sedikit pohon,” kata mereka.

“Tidak akan berdampak apa-apa,” katanya pada dirinya sendiri.

Kini, kalimat-kalimat itu terasa seperti ejekan.

Setiap pagi Parman menyusuri sisa desa. Ia membantu apa pun yang bisa ia lakukan: mengangkat puing, membagikan nasi, mengantar relawan. Namun rasa bersalah selalu berjalan di belakangnya, setia seperti bayangan.

Suatu sore, ia bertemu Lila—anak perempuan berusia sepuluh tahun yang kehilangan ayahnya saat longsor. Lila duduk di tepi sungai yang airnya masih keruh, memandangi sepasang sandal hanyut tersangkut di batu.

“Om,” kata Lila pelan, “kata Ayah, tanah itu hidup. Kalau disakiti, dia akan mengingat.”

Parman terdiam.

Ia ingat ayahnya sendiri pernah berkata hal serupa, dulu sekali, sebelum hutan di bukit berubah menjadi jalur tanah merah dan suara mesin.

“Kalau begitu,” tanya Parman, “menurut Lila, tanah marah sama siapa?”

Lila mengangkat bahu. “Ayah bilang, tanah tidak marah. Dia cuma lelah.”

Malam itu, hujan kembali turun, meski tidak sederas sebelumnya. Parman berdiri di depan tenda pengungsian, menatap bukit yang kini tampak seperti luka terbuka. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyalahkan hujan. Ia tidak menyalahkan sungai.

Ia menyalahkan diamnya sendiri bertahun-tahun lalu.

Beberapa minggu kemudian, ketika sebagian warga mulai pindah, Parman memilih tinggal. Ia bergabung dengan kelompok kecil yang menanam kembali pohon di lereng bukit—pekerjaan yang sunyi, lambat, dan tidak menjanjikan apa-apa selain harapan.

Tangannya kotor oleh tanah.

Namun kali ini, ia tidak merasa bersalah.

Saat menanam bibit terakhir hari itu, Parman berbisik pelan, seolah berbicara pada sesuatu yang lebih tua darinya,

“Kalau tanah mengingat nama, semoga ia juga ingat usaha.”

Angin berembus ringan Dan untuk pertama kalinya sejak bencana, Parman tidur tanpa mimpi buruk.