Takdir yang ditandatangani

Allahu Akbar teriak itu pecah
saat sungai lupa jalan pulang
tanah kehilangan akar dan arah
di bumi yang kian terbuang

Hujan dituduh sebagai salah
padahal keputusan yang menang
izin, tanda tangan, peta yang lelah
dibutakan demi keuntungan panjang

Ini bukan murka dari langit
hujan hanya pemicu semata
hutan dijual, bukit disayat sedikit
keserakahan disulap jadi takdir bernama

Perempuan berlari membawa doa
anak di dada, takut di tubuh
alam runtuh lebih dulu pada mereka
sebelum rumah benar-benar luluh

Saat tanah ambruk dan nyawa hanyut
negara sibuk menghitung prosedur
rakyat mencatat kehilangan yang menggunung
di antara janji dan bantuan yang mundur

Bantuan terlambat, lapar memaksa
bertahan hidup disebut kriminal
padahal hutan dan masa depan dirampas
jauh sebelum bencana jadi final

Sumatera tak runtuh oleh alam
ia jatuh oleh keputusan manusia
darah mengalir tanpa pernah disadari kelam
di kaki mereka yang merasa tak berdosa