Langit Sumatera runtuh dalam diam,
hujan turun bukan sekadar air,
ia membawa duka dari gunung yang retak,
dari sungai yang lupa caranya pulang.
Tanah bergeser pelan,
seperti hati yang terlalu lama menahan luka,
rumah-rumah rebah tanpa sempat berpamitan,
menyisakan nama-nama di ingatan alam.
Tangis anak-anak larut bersama lumpur,
doa para ibu terapung di antara puing,
malam datang tanpa cahaya,
kecuali harap yang masih berdenyut di dada.
Wahai Sumatera,
engkau tak hanya tanah dan pepohonan,
engkau adalah pelukan yang terluka,
namun tetap setia menumbuhkan kehidupan.
Di balik banjir dan longsor yang mencabik sunyi,
kami belajar tentang kehilangan,
dan tentang bangkit dari reruntuhan, dari air mata, dari doa yang tak pernah berhenti.