Stres di usia remaja

Stres adalah perubahan reaksi tubuh ketika menghadapi ancaman, tekanan, atau situasi yang baru. Ketika menghadapi stres, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kondisi ini membuat detak jantung dan tekanan darah akan meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, serta otot menjadi tegang. Stres dapat di rasakan atau di derita oleh semua kalangan usia, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Dalam hal ini dapat berdampak bagi kesehatan mental dan juga kesehatan fisik yang di alami oleh beberapa orang yang menderita stres.

Gejala atau tanda stres dapat dibedakan menjadi 4 yaitu gejala stres yang pertama adalah gejala emosi misalnya mudah gusar, frustasi, suasana hati yang sering berubah, sulit menenangkan pikiran, bingung, depresi. Yang kedua adalah gejala fisik misalnya lemas, pusing, mual, diare, nyeri otot, gangguan tidur, tubuh gemetar, telinga berdenging, dan sulit menelan. Yang ketiga ialah geja kognitif misalnya sulit fokus, sering lupa, pesimis, dan cenderung berpandangan negatif. Dr. Celestinus mengatakan bunuh diri selalu dikaitkan dengan masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Bunuh diri juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada usia 15-29 tahun.

Mengapa remaja mudah untuk stres? Pada umumnya stres di sebabkan karena banyak faktor, mulai dari dalam diri sendiri, dalam keluarga, pekerjaan bahkan disebabkan oleh pendidikan, pada saat seseorang menderita stres mereka cenderung tertekan sehingga mengakibatkan kesehatan mentalnya terganggu.

Remaja sering mengalami stres dalam kehidupan sehari-hari, salah satu faktor yang muncul yaitu tugas yang tidak sedikit yang di berikan oleh dosen di tiap mata kuliah, batas pengumpulan yang saling bertubrukan menyebabkan remaja sulit untuk mengatur tidur nya, bahkan mereka rela untuk begadang demi menyelesaikan tugas nya, ada juga yang bangun pagi untuk mengerjakan tugas secepat mungkin. Terlalu sering begadang bisa mengakibatkan tertekan, mudah gelisah dan pola makan tidak teratur. Remaja yang mengalami stres cenderung mengungkapkan keluh kesah kepada orang terdekat, seperti keluarga, teman, atau bahkan kepada pasangan. Adapun remaja yang lebih memendam sendiri semua yang dia rasakan dan tidak ingin semua orang tau bahwa dia sedang merasakan stres yang berlebihan dan berujung dia menangis, bahkan yang lebih parah mereka bisa melakukan bunuh diri.

Pada 10 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh yayasan Emotional Health For All (EHFA) menemukan bahwa tingkat bunuh diri di Indonesia mencapai empat kali lipat dari angka yang dilaporkan. Dilansir pada laman resmi Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (INASP), terdapat 670 jumlah kasus bunuh diri yang resmi dilaporkan. Selain itu, terdapat lebih dari 303 persen kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan, data tersebut diperoleh berdasarkan perbandingan data kepolisian.

“Berdasarkan penelitian terbaru, kami menemukan bahwa setidaknya kasus bunuh diri di Indonesia sejumlah empat kali lipat lebih tinggi dari angka yang dilaporkan,” sebut Presiden dan Pendiri EHFA. Sandersan menjelaskan, saat ini hanya ada sekitar 4.400 psikolog dan psikiater yang ada di Indonesia. Jumlah ini sangat kurang apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada di Indonesia saat ini, sehingga menyebabkan kurang efektifnya penanganan kesehatan mental.

Apa peran Orangtua dalam membantu Mengatasi Stres dan Depresi pada Remaja?

  1. Mempelajari apa itu stres
    Orang tua bisa membantu mengatasi stres, dengan cara mengetahui terlebih dahulu apa itu stres dan bagaimana cara penanganan nya.

  2. Berkomunikasi dengan remaja
    Komunikasi sangat penting dalam hubungan berkeluarga, ketika orang tua menyadari adanya perubahan yang menunjukkan gejala stres, sebaiknya ajak untuk mengobrol atau berbicara agar remaja mau untuk bercerita apa yang sedang dia rasakan. Perbuatan ini dapat membantu anak untuk mengetahui bahwa dia tidak mengahadapi semuanya sendiri.

  3. Membantu menghadapi masa-masa sulit
    Ketika remaja mengalami stres, maka tidak dipungkiri jika gejala-gejalanya mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebagai orangtua, penting peran Anda untuk membantu sang anak melewati masa-masa sulitnya. Salah satu caranya dengan membantu anak berperilaku hidup sehat.

1 Like