Hutan itu tidak runtuh dalam satu malam.
Ia dikikis perlahan, batang demi batang, nyanyian burung yang perlahan menghilang diganti dengan suara mesin yang riuh berisik. Truk-truk kayu keluar masuk perbukitan Tapanuli hampir setiap hari, meninggalkan lereng-lereng telanjang dan tanah yang tak lagi punya penyangga.
Warga desa pernah menolak. Mereka tidak terima hutan yang selalu dijaga, tiba-tiba ingin dirampas oleh orang asing.
Mereka berkumpul di balai, menghadang jalan setapak yang biasa dilalui alat berat, mengirim surat, dan menyuarakan keberatan. Mereka bilang hutan itu bukan sekadar deretan pohon, melainkan penahan air, warisan nenek moyang, dan sumber kehidupan.
Namun, suara mereka seakan angin lalu bagi orang-orang suruhan perusahaan itu.
“Ini sudah ada izinnya,” kata orang-orang perusahaan.
“Bapak Ibu, semua aman, ini demi kepentingan ekonomi negara. Bapak Ibu juga nanti yang akan merasakan keuntungannya,” celoteh seorang lelaki berbadan besar yang berdiri di atas mobil pengangkut kayu.
Aman di atas kertas.
Di lapangan, sungai mulai keruh, bukit retak perlahan, dan hujan tak lagi punya tempat untuk ditahan. Warga melihat tanda-tanda itu setiap hari, tapi tak punya kuasa untuk menghentikan penebangan yang terus berjalan.
Di hutan yang perlahan kehilangan akarnya itulah Yeri, Mahen, dan Rimba tumbuh dan bermain. Hutan di perbukitan Tapanuli adalah tempat kami belajar percaya. Bukan pada manusia, melainkan pada tanah, pohon, dan sungai yang mengalir turun menuju sungai yang selama ini terasa jinak. Tanpa pernah menyangka bahwa suatu hari,hutan yang sama akan menelan salah satu dari mereka.
Kami hampir setiap sore menyusuri jalur yang sama. Hafal akar yang bisa dipijak, tahu pohon tempat berteduh, dan mengenal sungai kecil di hulu daerah aliran sungai yang bermuara ke Teluk Sibolga. Hutan adalah halaman bermain kami.
“Kalau hujan turun, kita tunggu di bawah pohon besar itu,” kata Rimba suatu sore sambil menunjuk lereng bukit.
“Airnya cepat surut.”
Mahen terkekeh. “Kamu yakin banget hutan ini aman.”
“Hutan nggak pernah bohong,” jawab Rimba mantap.
Sore itu langit menggelap lebih cepat. Awan tebal menggantung rendah di atas perbukitan Tapanuli Tengah. Gerimis turun, lalu berubah menjadi hujan yang rapat. Awalnya biasa. Kami sudah sering kehujanan di hutan dan selalu pulang dengan selamat. Namun hujan kali ini terasa berbeda.
Lebih lebat dari biasanya. Dinginnya sampai ke tulang.
Yeri berhenti melangkah. “Kalian dengar itu?” Mahen mengangguk.
Dari kejauhan terdengar gemuruh panjang. Bukan petir. Bukan angin. Seperti sesuatu yang sedang bergerak pelan, tapi tak bisa dihentikan.
“Kita pulang,” kata Yeri tegas. “Sekarang.”
Mahen langsung setuju. “Iya, Rim. Perasaanku nggak enak.”
Rimba justru melangkah mendekati sungai yang mulai meluap. Airnya coklat, membawa ranting dan tanah dari hulu.
“Jarang-jarang naik setinggi ini. Aku mau lihat sebentar.”
“Rimba!” suara Yeri meninggi. “Ini nggak aman!”
Rimba menggeleng. “Kalian aja yang pulang dulu. Aku nyusul.”
Tanah tiba-tiba bergetar. Gemuruh berubah menjadi raungan.
“RIMBA, LARI!”
Bukit di seberang runtuh. Air, lumpur, dan batu meluncur dari lereng yang telah lama kehilangan pohon. Yeri terjatuh. Mahen terseret arus kecil. Ketika mereka bangkit, jalur sudah tertutup longsor.
Rimba tidak ada.
Malam itu, sungai-sungai yang mengalir ke Sibolga meluap bersamaan. Air masuk ke rumah-rumah tanpa permisi. Tidak ada satu pun rumah yang selamat. Lemari, kasur, lumbung padi semua hanyut atau tertimbun lumpur. Orang-orang berlari menyelamatkan diri dengan pakaian di badan.
Pencarian dilakukan seadanya. Ayah Rimba menyusuri jalanan yang sudah penuh dengan lumpur dan kayu gelondongan, memanggil nama anaknya sampai suaranya habis.
“Rimba… pulang, Nak…”
Tak ada jawaban.
Hutan tertutup longsor. Jalan menuju desa-desa di Tapanuli putus. Jembatan hanyut. Akses benar-benar terisolasi.
Hari keempat setelah banjir, desa itu tak lagi menyerupai desa. Yang tersisa hanyalah lumpur, puing kayu, dan bau anyir yang melekat di udara. Tak ada ladang. Tak ada perabot. Tak ada yang bisa diselamatkan.
Yeri duduk di sudut pengungsian bekas sekolah dasar di pinggir yang dindingnya retak dan atapnya bocor. Perutnya melilit. Sejak pagi mereka hanya meneguk air hujan dari ember bekas.
“Mahen,” bisiknya, “aku lapar.”
Mahen menunduk. “Semua juga.”
Tangis anak-anak terdengar lirih dan panjang. Para ibu mencoba menenangkan, meski tangan mereka kosong.
“Beras sudah habis,” kata seorang perempuan tua.
“Bantuan belum datang.”
Relawan yang masuk lewat jalur darurat hanya bisa menggeleng.
“Statusnya belum bencana nasional,” kata mereka pelan.
“Bantuan besar belum bisa turun.”
Hari keenam, kabar menyebar cepat. Gudang beras di kota Sibolga masih penuh.
“Anak-anak kita kelaparan,” kata seorang bapak dengan suara pecah.
“Kita mau nunggu sampai mati?”
Malam itu, sebagian warga berangkat. Bukan dengan niat mencuri, melainkan karena perut kosong dan rasa putus asa. Mereka kembali membawa karung beras dan mi instan. Wajah mereka bukan wajah orang menang, melainkan wajah orang yang terpaksa memilih.
Keesokan harinya, berita menyebutnya penjarahan.
Tak ada yang menyebut bahwa mereka telah kehilangan rumah, ladang, dan masa depan lebih dulu.
Hari-hari berlalu. Bantuan datang terlambat, tidak cukup, dan tidak merata. Penyakit mulai muncul. Anak-anak demam. Orang tua batuk tanpa obat. Rimba tetap dinyatakan hilang. Tidak ditemukan. Tidak kembali.
Di pengungsian, Yeri dan Mahen berdiri memandangi bukit di kejauhan perbukitan Tapanuli yang kini botak dan rapuh.
“Ini bukan sekadar bencana alam,” kata Yeri dengan suara yang tak lagi kekanak-kanakan. “Ini peringatan.”
Mahen mengepalkan tangan. “Kalau kita besar nanti, kita jangan diam.”
“Biar Rimba nggak cuma jadi angka,” lanjut Yeri.
“Biar anak-anak lain nggak kehilangan segalanya.”
Hujan turun lagi malam itu di Sibolga.
Tak ada yang berlari keluar.
Tak ada yang bermain.
Karena semua orang kini tahu bencana ini tidak datang tiba-tiba.Ia disiapkan lama. Dan ketika akhirnya datang, yang pertama diambil adalah masa kecil, lalu rumah, lalu rasa aman, dan akhirnya harapan.
