Sheren dan Perjuangan Kecilnya

Halo semua yang sedang membaca ceritaku ini, mungkin aku tidak perlu memperkenalkan diri karna pasti sudah mengenal aku semua. Di Sini, aku akan membagikan ceritaku tentang perjuanganku yang bisa dibilang berat, hingga sampai ke titik ini dalam aspek akademik.
Saat SMA, aku masuk ke jurusan IPA. Aku dulu sangat tertarik dengan pelajaran eksakta, terutama fisika dan matematika. Selama SMA, aku tidak pernah mengulang pelajaran fisika. Nilaiku selalu bagus dalam mata pelajaran fisika. Sayangnya, berkebalikan dalam mata pelajaran kimia. Aku pernah mendapatkan nilai 0 saat ulangan kimia. Sejak saat itu, aku selalu tertekan setiap belajar eksakta. Saat naik ke kelas 12, aku dilanda dilema. Haruskah aku kuliah di jurusan SOSHUM? haruskah aku meninggalkan SAINTEK? akhirnya, aku memutuskan untuk kuliah di rumpun SOSHUM. Mengambil keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah untukku, karena aku memiliki cita-cita dari SMP untuk menjadi seorang insinyur.
Setelah itu, aku lulus tahun 2020, tahun dimana pandemi COVID-19 menyerang. Aku lulus dengan nilai yang biasa saja. Dibilang bagus nggak, dibilang jelek juga nggak. Setidaknya, aku bersyukur bisa menamatkan pendidikan menegah akhirku. Aku sudah tau mau kuliah jurusan apa. Jurusan Hubungan Internasional adalah salah satu jurusan yang aku incar saat itu. Aku orang yang sangat idealis dan ambis dalam meraih cita-cita. Saat SBMPTN 2020 aku memilih UGM dan UPNVY sebagai kampus pilihan, dengan jurusan keduanya adalah Hubungan Internasional. Sayangnya, itu bukan rejekiku. Saat itu aku merasa sedih sekali, UGM adalah “my first love university”. Sudah menjadi cita-citaku untuk kesana sedari SMP. Dengan idealismeku, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba lagi tahun depan demi UGM. Sebenarnya aku sudah diterima di Hubungan Internasional UII, tapi dengan pertimbangan biaya yang sangat mahal, lebih baik untuk mengundurkan diri. Aku belajar terus-menerus dan tak lupa berdoa. Disela-sela waktu senggangku, aku melamar volunteer menjadi seorang content writer. Aku mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru tentang menulis, copywriting, dll. Ah, satu tahun yang sangat berharga, yang mana aku belajar tentang public speaking, berbicara bahasa inggris dengan lancar, memiliki teman baru yang hebat untuk berjuang bersama menggapai kampus impan, dan lain-lain.
Tiba saatnya SBMPTN 2021, aku memilih UGM lagi sebagai pilihan pertama dan UNS sebagai pilihan kedua. Alhamdullilah, UNS menerimaku sebagai mahasiswanya. Sebenarnya, aku juga sangat ingin berkuliah di UNS sejak kelas 10. Sayangnya, orang tua tidak merestuiku untuk merantau walau hanya ke kota sebelah. Tapi akhirnya, orang tuaku menyetujuinya. Aku sangat bangga dengan aku bisa mewujudkan salah satu mimpiku walaupun bukan mimpi terbesarku. Mungkin ini yang terbaik untukku.