Saat langit dan tanah berbicara

Langit sore di kota pesisir tampak merah terang, bukan karena indah, melainkan karena awan hitam tiba-tiba menyelimuti wilayah dari arah barat laut. Lahan pertanian, kebun, hutan, dan ladang kini berubah menjadi kolam lumpur cokelat yang sangat menakutkan. Hujan awalnya terlihat biasa saja seperti hujan pada hari biasanya. Namun hujan itu terus berlangsung tanpa henti hingga menyebabkan air meluap hingga betis. Bertahap hujan menjadi deras, berat, dan terus menerus menempel di atap seng rumah warga. Mereka terbangun dan terkejut ketika melihat air masuk melalui celah-celah pintu.

Tidak ada pilihan selain menyelamatkan diri dan orang-orang terdekat. Sungai-sungai meluap dan menghantam ratusan kecamatan. Tidak ada sirene, tidak ada peringatan. Warga hanya mengandalkan teriakan sambil lari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Sayangnya, tempat tertinggi juga terkena longsor, jadi warga memilih atap rumah sebagai tempat singgah sementara sampai bantuan datang.

Hujan yang awalnya dingin kini menjadi amukan alam yang merenggut nyawa ratusan orang. Anak-anak harus merasakan kehilangan di usia yang seharusnya mereka bermain dan bersenang-senang. Para ibu merasakan dampak dari kurangnya air bersih, memasak tanpa api, mencuci baju dengan air berwarna cokelat, serta berbagai kegiatan sehari-hari yang sulit mereka lakukan. Mereka berada di usia yang sangat rentan dan tidak mampu melakukan apa-apa ditinggalkan begutu saja. Para ayah yang menjadi kepala keluarga kehilangan pekerjaan, ternak, dan juga ladang pertanian mereka. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, kecuali bantuan dari para relawan, aktivis, hingga pemerintah.

Pagi hari tiba, wilayah Sumatera Barat dan Utara lengah total. Jalan utama rusak, listrik padam, dan jaringan internet nyaris tidak bisa digunakan. Rumah yang rusak parah, barang berharga seperti lemari, kasur, hingga berkas penting hanyut bercampur lumpur. Mungkin pertanyaan yang muncul adalah "BENCANA INI SALAH SIAPA?” apakah bencana ini terjadi secara alami atau akibat keputusan manusia yang lalai?

Di salah satu hutan yang berizin dari pemerintah, lahan dibuka tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan demi keuntungan sesaat bagi pejabat. Dulu hutan tersebut hijau dan rapat dengan pepohonan. Kini sebagian telah dibuka untuk perkebunan. Tanah terlihat cokelat, gundul, dan mudah longsor setiap kali hujan deras datang. Sungai yang dulu jernih kini dangkal karena endapan lumpur.

Bencana ini bukan hanya musibah, melainkan peringatan dari alam. Hal ini akibat dari penggundulan hutan yang disebabkan manusia sendiri. Hujan memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya seharusnya bisa dikurangi. Bencana tidak hanya meninggalkan kerugian materi, tetapi juga pertanyaan besar tentang tanggung jawab manusia terhadap alam.

Ketika hujan turun beberapa hari kemudian, rasa trauma warga masih ada. Bukan pada hujan, melainkan karena kemungkinan tidak ada yang belajar dari bencana ini.