Satu hari itu, suara hujan terdengar begitu mencekam
Setiap denyut nadi di temani dengan rasa takut yang menancap amat dalam
Terdengar gemuruh yang menandakan tanah luruh begitu cepat
Seketika waktu hanya di penuhi dengan suara tangisan dan jeritan
Dimana engkau?
Wahai hutan yang rindang, yang memberikan keamanan dan kehangatan
Yang memeluk setiap air hujan yang jatuh dengan nyaman dalam pelukan
Menjaga setiap bukit agar terus berdiri kokoh, perkasa menjaga keseimbangan
Lihatlah ketika setiap rumah hancur bahkan hilang tak di temukan
Setiap nyawa yang hilang, melayang tanpa penghalang
Setiap sepasang mata kecil yang menatap penuh dengan kebingunggan
Ulah siapa sebenarnya?
Coba tanyakan kepada gergaji dan kapak yang membisu di pinggir hutan
Siapakah yang telah membuat setiap raksasa hijau itu rebah bergelimpangan?
Hanya untuk sebuah angka - angka yang katanya akan membawa sebuah pertumbuhan
Ketika langit menumpahkan tangisnya yang paling dalam
Seketika semuanya terdiam
Menatap kehancuran yang begitu menyakitkan
Air menyerbu tanpa batas menyeret apapun yang menjadi penghalang
Lumpur, kayu, bahkan Nyawa hanyut tak terhentikan
Ini, bukan hanya amarah awan yang menumpahkan tangisan
Tetapi sebagai buah pahit setiap perlakuan yang di kerjakan oleh tangan-tangan tanpa sebuah perizinan
Yang membabi buta membabat setiap kekayaan yang ada
Hanya untuk kepentingan dan kesenangan semata
