Rintik yang membawa ingat

Hujan turun seperti tak mengenal payah, sejak malam hingga pagi. Langit di Sumatera seolah murka dan lupa cara berhenti menangis. Sungai Batang Hari yang biasanya jinak kini meluap, menyapu apa saja yang berdiri di jalurnya seperti pohon, pagar, bahkan mimpi-mimpi kecil warga Desa Bukit Harapan. Tak ada lagi akar-akar besar yang dulu menahan tanah. Hutan primer yang selama ratusan tahun menjadi pelindung, kini tinggal cerita. Suara mesin gergaji menggantikan kicau burung, penebangan ilegal berlangsung diam-diam, disusul kebakaran yang sengaja dibiarkan agar lahan mudah dikuasai. Jutaan hektare hutan primer pun lenyap, bersama kemampuan alam menjaga keseimbangannya.

Ketika hujan deras datang, tanah yang gundul tak lagi mampu menahan beban air. Lereng-lereng bukit runtuh, menyeret apa saja yang ada di bawahnya. Longsor menutup jalan desa, memutuskan harapan warga untuk menyelamatkan diri. Banjir pun menyusul, menenggelamkan sawah dan rumah-rumah sederhana yang dibangun dengan susah payah.

Para korban hanya bisa menatap tanpa arah. Tangannya gemetar saat memegang foto keluarga yang berhasil ia selamatkan dari air.
“Pak… rumah kita habis,” gumamnya lirih, seolah suaminya bisa mendengar dari kota tempat ia bekerja.

Dari kejauhan, terdengar tangis anak-anak dan teriakan warga yang saling memanggil. Banyak mayat yang terbawa oleh arus air yang sangat deras itu. Desa yang dulu penuh tawa kini dipenuhi kepanikan. Listrik mengalami gangguan, sinyal hilang, dan malam terasa lebih panjang dari biasanya. Rumah tetangga di seberang sungai sudah roboh, tertimbun lumpur yang turun tanpa ampun.

“Ini bencana alam,” kata seorang lelaki tua sambil duduk di balai darurat.
“Bukan cuma alam,” sahut yang lain dengan suara berat.
“Hutan digunduli, sungai disempitkan. Alam cuma membalas.”
Wulan terdiam. Kalimat itu mengingatkannya pada tayangan berita yang pernah ia lihat.

Ratusan warga berkumpul, sebagian luka, dan sebagian ada yang kehilangan. Seorang ibu memeluk erat anaknya yang demam, seorang kakek menatap kosong ke arah bukit yang dulu hijau, kini gundul dan runtuh. Relawan datang membawa selimut dan makanan hangat. Di tengah kelelahan, secercah harapan menyelinap. Siang hari, perahu karet datang membawa para relawan, seorang pemuda berjaket oranye menghampiri Wulan.

“Ibu, ayo ikut ke pos pengungsian. Di sini sudah tidak aman,” katanya lembut.
Wulan mengangguk. “Apa desa kami bisa pulih lagi?” tanyanya ragu.
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Kalau kita mau belajar dan menjaga alamnya, Bu… bisa.”
Malam di pengungsian terasa panjang. Bau tanah basah dan lumpur masih melekat di pakaian semua orang. Anak-anak tidur beralaskan tikar, sementara orang dewasa berbincang pelan.

Malam berlalu dengan lantunan doa dan dzikir. Di sela kelelahan, Wulan merasakan damai yang tak bisa dijelaskan. Ia tahu, tidak semua doa langsung dijawab dengan kebahagiaan, tetapi setiap doa selalu didengar.

Wulan menatap langit dengan tatapan kosong melalui celah tenda. Hujan mulai melemah, berubah menjadi rintik. Untuk pertama kalinya sejak bencana itu datang, ia merasa sedikit lega.

Keesokan paginya, matahari muncul malu-malu di balik awan. Air perlahan surut, meninggalkan lumpur dan puing-puing. Wulan kembali ke rumahnya. Meski rusak, rumah itu masih berdiri seperti dirinya. Desa itu rusak, berlumpur, dan penuh bekas air mata. Namun di antara reruntuhan, terdengar salam, takbir, dan ajakan saling membantu. Warga bangkit, menguatkan satu sama lain, yakin bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan.

Ia mengambil sapu, mulai membersihkan sisa lumpur. Tak lama, tetangganya datang membantu. Tak ada lagi debat, tak ada lagi teriakan saling menyalahkan. Hanya kerja diam-diam dan napas yang berirama.

Wulan berhenti sejenak, menatap sungai yang kini lebih tenang.
“Kalau hujan bisa memberi pelajaran,” katanya dalam hati, “maka manusia seharusnya mau mendengarkan.”

Di tengah puing-puing dan tanah basah, ia menemukan sesuatu yang belum hanyut harapan. Dan kali ini, ia berjanji, harapan itu akan dijaga bersama alam, bukan melawannya.

Ia mengucap syukur dalam hati.
“Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih memberi kami kesempatan untuk bertahan, berdoa, dan percaya.”

Di tengah banjir dan longsor, mereka belajar satu hal yaitu ketika dunia runtuh, hanya iman dan doa yang menjadi tempat paling kuat untuk bersandar.