Dahulu, zamrud khatulistiwa itu bernama Andalas
Tempat harimau mengaum di balik rimbun yang lebat
Akar-akar perkasa memeluk bumi dengan ikhlas
Menjaga air dalam dekapan tanah yang hangat.
Namun, tangan-tangan serakah datang membawa belati
Baja tajam menderu, merobohkan raksasa hijau
Hutan yang teduh kini mati sunyi
Hanya menyisakan tunggul-tunggul yang merintih parau.
Hutan mereka curi, kayu mereka rampas
Tanah dikuliti hingga tak lagi bernapas
Demi pundi-pundi yang tak pernah cukup terisi
Mereka abaikan nyawa yang sebentar lagi terancam mati.
Lalu langit pun murka…
Awan hitam menggulung, menurunkan tangis yang deras
Tanpa akar penahan, air meluncur tanpa batas
Membawa lumpur, batu, dan dendam yang keras.
Banjir bandang datang menyapu dalam sekejap
Rumah-rumah hancur, harapan senyap dalam senyap
Harta benda karam dalam arus yang garang
Meninggalkan duka di tanah yang dulu tenang.
Kini Sumatera menangis di sisa-sisa reruntuhan
Melihat alamnya robek oleh keserakahan manusia
Hutan bukan lagi pelindung, melainkan kenangan
Sebab ia telah dikhianati oleh mereka yang mendamba baka di atas luka dunia.
