Hujan jatuh tanpa dendam,
ia sekadar memenuhi titah langit.
Namun bumi merekah, sungai melampaui batas,
dan alam dituding sebagai biang kehancuran.
Padahal hutan telah lama dilucuti martabatnya,
ditebang atas nama kemajuan yang timpang.
Akar-akar tercerabut dari perannya menjaga bumi,
tanah pun kehilangan penyangga kesetiaannya.
Ketika rumah hanyut dan nyawa terhitung,
pertanyaan menggantung di udara yang basah.
Apakah bencana lahir dari kemurkaan alam,
atau dari kelalaian manusia yang abai pada batas?
Sumatera meratap dalam senyap,
sebab jeritannya kalah oleh pidato dan laporan.
Korban disebut sebagai angka,
sementara luka dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Bencana lalu disematkan pada kata takdir,
agar kesalahan tak perlu dicari akarnya.
Padahal alam hanya mengembalikan
apa yang telah lama direnggut darinya.
Maka jika hari ini tanah bergeser dan air meninggi,
itu bukan amarah, melainkan peringatan terakhir.
Bahwa Sumatera tak pernah mengundang petaka,
manusialah yang terlalu lama memeliharanya.