Fulan Fehan sering disebut sebagai “serpihan surga yang terjatuh di Timor” Berada di lereng Gunung Lakaan, Desa Dirun, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kawasan ini menyajikan panorama yang seakan-akan mengantar kita menjauh dari kesibukan kehidupan perkotaan. Luasnya padang sabana ini bukan hanya sekadar tempat wisata biasa; ia merupakan gabungan dari keindahan alam, warisan sejarah yang abadi, dan keseimbangan antara manusia dan hewan ternak.
Foto by:travel.tribunnews.com
Pernahkah kalian membayangkan berada di sebuah lapangan rumput yang sangat luas, dikelilingi oleh bukit-bukit, dengan kuda-kuda liar berlari dengan bebas, sementara kabut halus menyentuh bahu kalian?
Jika kalian berpikir bahwa pemandangan ini terdapat di Swiss, maka kalian salah. Keindahan ini terletak di Fulan Fehan, Nusa Tenggara Timur. Ada satu pemandangan yang sangat khas dan tak akan kalian temui di tempat lain:yaitu kombinasi antara padang rumput hijau yang lembut dan ribuan kaktus (Opuntia elatior) yang tumbuh dengan liar.
Kaktus-kaktus ini seolah menjadi dekorasi alami yang memperindah setiap bagian Lembah. Selain itu,adanya kumpulan kuda dan sapi milik penduduk setempat yang dibiarkan berkeliaran memberikan nuansa “liar” namun tetap menenangkan.Melihat kuda-kuda tersebut dengan latar belakang deretan bukit yang menjulang adalah Gambaran nyata dari proses penyembuhan.
Fulan-Fehan tidak hanya berkaitan dengan keindahan visual.bagi warga Belu,Lokas ini merupakan tanah nenek moyang yang penuh makna spiritual. Tidak jauh dari lahan hijau, ada Benteng Makes, sebuah benteng tradisional yang terdiri dari tujuh lapisan yang dibangun dengan batu karang. Benteng ini menjadi saksi sejarah perjuangan masyarakat Timor yang heroik dimasa lampau. Melangkah di antara puing-puing batunya memberikan pengalaman seolah-olah kita sedang mengarungi mesin waktu ke zaman kerajaan yang sudah lama berlalu.
Jika kalian beruntung, kalian mungkin dapat melihat ribuan penari Likurai tampil di tempat ini. Fulan Fehan sering kali menjadi lokasi bagi festival budaya yang berskala internasional Bayangkan ribuan orang menari mengenakan pakaian tradisional tenun ikat yang beragam warnanya di atas lahan rumput yang hijau sebuah pertunjukan besar yang pasti akan membuat kalian terpesona.
Waktu yang tepat saat kalian ingin berkunjung yaitu pada bulan November sampai juni (musim hijau)waktu terbaik untuk berkunjung dimana rumput akan berwarna hijau segar yang memberi kesan seperti di swiss jika kalian berkunjung pada bulan Agustus sampai oktober (musim Eksotis) dimana rumput akan berwarna kecoklatan memebuat Kesan aesthetic yang sangat khs dengan pulau timor. Jika kalian ingin melihat kabut datanglah pada padi hari(07:00-09:00) dan pada saat sore hari kalian bisa melihat matahari terbenam.
Fulan-Fehan juga memiliki beberapa yang harus dipatuhi saat berkunjung kesana antara lain tidak menggunakan Bahasa kotor dan tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh karena Di sekitar Fulan Fehan terdapat objek yang dianggap keramat (seperti Benteng Makes). Saat berkunjung Selalu minta izin pemandu lokal atau warga jika ingin memasuki area tertentu dan jaga sikap.
Fulan Fehan menunjukkan bahwa bagian depan Indonesia bukan hanya mengenai batas wilayah, tetapi juga mengenai keindahan alam yang siap untuk dijelajahi. Maka, kapan Anda akan mengemas tas dan berangkat ke perbatasan?
Defriani Erista Nahak
