Pertama kali mengikuti kuliah daring

image

Tidak terasa sudah satu tahun lebih Pandemi Covid-19 melanda negeri kita Indonesia. Bahkan tidak hanya di Indonesia saja, hampir di seluruh penjuru bumi juga mengalami peristiwa yang sama yaitu Pandemi Covid-19. Peristiwa ini membuat hampir sebagian besar kegiatan manusia di muka bumi ini dilakukan dari rumah masing-masing secara online, termasuk aktivitas perkuliahan yang dilaksanakan secara daring untuk mencegah resiko penularan virus corona.

Semua pelajar lulusan tahun 2020 yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pasti menjalankan perkuliahan secara online untuk pertama kalinya. Termasuk saya sebagai mahasiswa baru Angkatan Corona (2020) ini merupakan sejarah yang belum pernah saya temukan selama saya menempuh Pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat atas untuk mengikuti pembelajaran daring.
Di dalam saya menjalankan perkuliahan daring untuk pertama kalinya mungkin bisa di bilang memberikan keuntungan bagi saya, namun di sisi lain juga ada kekurangan atau kendalanya dalam mengikuti perkuliahan daring ini. Menurut pribadi saya perkuliahan daring ini menguntungkan karena pertama, saya tidak perlu pergi ke kampus untuk mengikuti perkuliahan yang memerlukan ongkos transport mengingat rumah saya berada di luar domisili dari kampus saya. Kedua, perkuliahan daring juga fleksibel baik itu dari segi tempat maupun waktu. Dari segi tempat, perkuliahan daring bisa saya di lakukan dimana saja selain dirumah misalnya kalau saya sedang dalam perjalanan darurat bisa dilakukan di kendaraan (motor, mobil, maupun kereta api). Pengalaman lain yaitu ketika saya sedang menunggu ayah saya yang dirawat di rumah sakit pasca operasi, saya bisa mengikuti perkuliahan daring di rumah sakit. Dari segi waktu, perkuliahan daring memiliki waktu yang fleksibel dalam artian ketika kelas bertepatan dengan tanggal merah atau jika dosen mengalami kendala melaksanakan perkuliahan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, maka perkuliahan bisa digantikan di hari lain sesuai kesepakatan dosen dengan mahasiswa. Ketiga, selama perkuliahan daring saya tidak hanya menuntut ilmu di bidang akademik saja tetapi juga non akademik. Saya dapat memaanfaatkan perkuliahan daring ini untuk menjalin relasi dan menambah pengalaman dengan bergabung di dua unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan ikut kepengurusan yang ada didalamnya dan ikut kepanitiaan di salah satu acara UKM tersebut. Selain itu, meskipun dari jarak jauh (daring) saya juga dapat pengalaman dan wawasan dengan mengikuti project yang diadakan salah satu UKM yang saya ikuti secara online yaitu project cover lagu secara virtual dan mengiringi paduan suara UKM tersebut mempersembahkan lagu dalam rangka dies natalis kampus saya serta bisa mengaplikasikan materi kuliah Bahasa Indonesia tentang proposal kegiatan dalam kepanitiaan saya sebagai anggota divisi dana usaha.

Walaupun perkuliahan daring memberi keuntungan sedikit dalam hal finansial. Tetapi perkuliahan daring juga menimbulkan banyak kekurangan dan kendala. Kendalanya yaitu pertama, ketika kegiatan belajar mengajar dikelas melalui video conference terkadang suara yang masuk terdengar putus-putus karena jaringan internet yang kurang stabil, sehingga perlu mencari lokasi yang memiliki jaringan internet yang baik dan memadai namun tetap terkadang terganggu suara aktifitas lain. Kedua, dalam perkuliahan daring saya juga sering duduk dengan menatap layar dalam waktu cukup lama. Untuk mengikuti perkuliahan daring saya selalu menggunakan dua device yaitu handphone dan laptop. Handphone digunakan sebagai akses internet yang dihubungkan ke laptop (tathering hotspot) dan laptop digunakan sebagai device untuk mengikuti perkuliahan video conference. Penggunaan dua device sekaligus dalam waktu lama juga membutuhkan daya baterai, sehingga mau tidak mau harus sedia arus listrik di dekat saya untuk mengisi baterai device. Saya pernah sampai lupa mengisi absensi perkuliahan di website kampus saya dikarenakan daya baterai kedua device saya habis dan kebetulan listrik sedang padam sehingga dilaman website presensi saya tertulis alpa. Ketiga, membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Meskipun mendapat bantuan kuota pendidikan dari Kemendikbud yang hanya dikirimkan sebulan sekali, sehingga saya pribadi perlu membeli lagi untuk menambahkan agar bisa tetap mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas diluar kelas perkuliahan. Keempat, perkuliahan daring menurut saya perlu konsentrasi yang tinggi untuk memahami materi. Namun yang menjadi tantangan ke depan adalah gangguan eksternal yang membuat rasa jenuh atau malas ketika menatap layar laptop yang cukup lama. Contohnya kelas perkuliahan yang seharusnya dilaksanakan dua atau tiga pertemuan di jadikan satu kali pertemuan, kemudian dosen yang hanya memberikan materi saja tanpa ada penjelasan. Menurut saya meskipun mahasiswa menatap layar dengan waktu lama untuk menyimak materi belum tentu dapat memahaminya. Apalagi jika dosen yang hanya menyebarkan absen dan memberikan materi saja tanpa memberikan penjelasan lalu tiba-tiba datang-lah ujian akhir. Ini yang menurut saya kurang efektif, mungkin bukan bagi saya saja tetapi juga untuk mahasiswa lain bisa merasakan hal yang sama.

Demikianlah suka duka yang aku alami saat kulon (kuliah online) ini. Hal itu mungkin bisa menjadi sebuah tantangan bagi saya dan setiap kita yang mengikuti perkuliahan daring. Semoga kita tetap semangat untuk berusaha dan selalu berdoa supaya keadaan kedepannya menjadi lebih baik. Jangan pernah menyerah, tetap semangat menggapai cita-cita dalam segala keterbatasan kondisi apapun. Harapanku pandemi covid-19 ini cepat berlalu dari muka bumi ini agar semuanya kembali normal dan suatu saat kita bisa bertemu kembali di kampus dengan keadaan sehat walafiat.
#stayhealth
#staysafe
#stayathome

1 Like