Perkembangan Pengajaran dan Metode Bahasa Yang Digunakan Dari Waktu ke Waktu

20191115_0822531
Sumber Gambar: http://pps.uny.ac.id
Stern (1983:452) mengemukakan bahwa ilmu pengajaran bahasa sebenarnya telah berkembang semenjak zaman Yunani Kuno berabad-abad yang lalu. Bahkan jauh sebelum itu, kaum Brahma juga telah mendapatkan pelajaran. Bedanya, pelajaran bahasa kaum Brahma didapatkan para ahli bahasa mereka, dan tujuan pelajaran bahasa kaum Brahma yaitu untuk mempelajari struktur bahasa yang mereka gunakan dengan cara observasi, analisis, penyimpulan dari hasil analisis, dan menuliskan kaidah-kaidah bahasa yang diperoleh. Sedangkan pengajaran bahasa yang terdapat di Yunani Kuno, tidak dikerjakan oleh para ahli bahasa, melainkan para filsuf yang mendasarkan studinya atas spekulasi pribadi, bukan pada observasi dan hasil analisis. Contohnya Aristoteles dan Plato yang mengutarakan pendapatnya mengenai bahasa memlalui kacamata filsuf.
Terbitnya buku Meidinger berjudul Praktische Franzosische Gramatik sekitar tahun 1783, menandai adaanya konseptualisasi pengajaran bahasa. Mulai sejak itu, muncul banyak jenis metode yang pernah dan sedang mendominasi dunia pengajaran bahasa. Beberapa metode yang terkenal yaitu, metode tatabahasa terjemahan, metode langsung, metode membaca, metode audiolingual, dan metode komunikatif.

  1. Metode tatabahasa terjemahan
    Metode ini menekankan penganjaran tatabahasa dengan teknik menterjemahkan bahasa asing ke bahasa yang diajarkan. Metode tatabahasa terjemahan populer pada abad delapan belas sampai awal abad sembilan belas, bersamaan dengan terbitnya buku Meidinger. Penerapan metode ini dapat dilihat pada buku teks pelajaran bahasa yang ditulis oleh Ollendroff.
  2. Metode langsung
    Metode ini muncul karena ketidakpuasan terhadap metode tatabahasa terjemahan yang dikritik habis-habisan dan dianggap sebagai biang kegagalan pengajaran bahasa asing. Ditambah pada paruh abad ke-19, di Eropa mulai berkembangnya era industri yang berdampak terjadinya pergaulan antar bangsa-bangsa di Eropa. Metode ini menganut dasar teoritis bahwa pembelajaran bahasa asing seharusnya dianalogikan dengan pembelajaran bahasa pertama atau bahasa mereka sendiri.
  3. Metode membaca
    Metode ini muncul karena adanya kebutuhan kemampuan berbahasa yang bersifat khusus, yaitu kemampuan membaca literatur berbahasa asing. Metode membaca menganut dasar teoritis bahwa aktivitas pendidikan seharusnya diarahkan pada keterampilan-keterampilan yang bersifat praktis.
  4. Metode audiolingual
    Metode ini muncul karena metode sebelumnya yaitu metode membaca mendapatkan kritik dari para ahli ketika diterapkan di Amerika pada perang dunia kedua. Metode audiolingual berawal dari metode belajar bahasa yang dipergunakan oleh para tentara Amerika. Ciri-ciri umumnya yaitu, menggunakan dialog sebagai pengajaran utama, menggunakan teknik seperti meniru, menghafal, dan latihan pola, yang terakhir teori linguistik dan psikologi digunakan sebagai dasar metode.
  5. Metode komunikatif
    Tahun 1970an, para ahli bahasa mempertanyakan keberhasilan penggunaan metode-metode sebelumnya. Dari ketidakpuasan terhadap metode-metode lama, menyebabkan orang-orang mulai mencari dan menemukan metode yang lebih dapat diandalkan, yang kemudian mengantarkan kepada metode komunikatif.
  6. Metode kontemporer
    Metode komunikatif yang terus berkembang selama du dekade terakhir, memunculan beberapa turunan yang bisa disebut dengan metode kontemporer. Metode ini menggunakan pembelajaran bahasa berbasis tugas yang dipelopori oleh David Nunan.

Daftar referensi:
Atmowardoyo, H. (2019). PENGAJARAN BAHASA DARI WAKTU KE WAKTU: Sebuah Tinjauan Filosofis (pp. 9–14).
Samsuri. (1994). Analisis Bahasa Cetakan ke-4. Jakarta: Penerbit Erlangga. (hal: 40 – 49)