Perjalanan Hidup Ditolak UNDIP Tercinta



Hari pengumuman kelulusan SNBP di sekolah menjadi momen yang sangat mendebarkan. Dengan rasa cemas bercampur harapan, aku mencari namaku dalam daftar. Ketika akhirnya menemukannya, aku merasa sangat lega—seolah beban berat yang selama ini kupikul terangkat. Setelah itu, aku berkonsultasi dengan guru BK. Karena aku bersekolah di SMK, beliau menyarankan untuk memilih program diploma. Awalnya aku ragu, namun guru BK meyakinkan bahwa jenjang diploma tetap membuka banyak peluang kerja dan pendidikan lanjutan. Pada hari pendaftaran, aku memilih Universitas Diponegoro, walaupun sebenarnya aku kurang percaya diri karena nilai yang pas-pasan dan persaingan yang ketat.

Hasilnya, aku tidak dinyatakan lolos. Meskipun sudah menduga kemungkinan itu, rasa kecewa tetap datang—apalagi aku telah berjuang sejak kelas 11 dan memimpikan kampus tersebut. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Namun aku menyadari bahwa perjalanan belum berakhir. Masih ada jalur SNBT yang dapat dicoba, sehingga aku mencoba kembali membangkitkan semangat.

Sayangnya, aku tidak dapat mengikuti les karena kondisi ekonomi keluarga sedang menurun. Aku akhirnya belajar mandiri bersama teman-teman sesama pejuang SNBT dan mengikuti Try Out online. Walaupun tetap ada biaya, jumlahnya tidak sebesar mengikuti bimbingan intensif. Belajar mandiri memiliki banyak tantangan—mulai dari rasa malas, kurangnya motivasi, hingga kesulitan memahami materi tanpa bimbingan langsung. Terkadang aku mencari penghiburan melalui media sosial, namun justru semakin tertekan karena merasa tidak cukup mampu. Aku sempat mengalami burn out dan merasa tidak berharga, tetapi dengan tekad serta doa, masa itu berhasil kulalui.

Hari pelaksanaan SNBT akhirnya tiba. Aku sangat gugup karena mendapat jadwal pada hari pertama, meski sesi kedua. Ujian berjalan cukup lancar, walaupun setelah keluar ruangan rasanya seperti kehilangan tenaga. Malam harinya, aku terkejut ketika melihat kabar bahwa soal-soal ujian beredar luas di media sosial. Ada perasaan tidak adil, tetapi aku berusaha menyerahkannya kepada Tuhan dan tetap berharap yang terbaik.

Waktu pengumuman SNBT tiba pada pukul 15.00. Untuk menenangkan diri, aku sholat terlebih dahulu. Ketika teman-temanku memberi kabar bahwa mereka lulus, jantungku berdegup semakin kencang. Setelah akhirnya membuka hasilnya, aku dinyatakan diterima—bukan di Universitas Diponegoro, melainkan di Universitas Tidar. Perasaanku campur aduk antara lega dan kecewa. Dua kali aku bermimpi diterima di Universitas Diponegoro, sehingga hasil ini sempat terasa berat. Terkadang aku masih menangis dan merasa iri melihat teman yang berhasil masuk kampus impiannya. Namun di sisi lain aku bersyukur karena setidaknya tidak perlu membebani orang tua dengan biaya tes mandiri yang besar.

Perlahan-lahan, seperti langkah keong dan kura-kura, aku belajar menerima takdir berkuliah di Universitas Tidar—sebuah pilihan yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku mulai membuka hati dan pikiran, meyakini bahwa setiap tempat membawa ilmu dan pengalaman berharga. Saat ini harapan terbesarku adalah dapat menimba ilmu yang berkah dan bermanfaat di sana, serta membuktikan bahwa meskipun jalanku berbeda, aku tetap bisa sukses dan membanggakan keluarga serta diri sendiri.