Pela Gandong: Cara Orang Maluku Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak perbedaan, baik suku, agama, maupun budaya. Keberagaman ini sering dianggap sebagai kekuatan bangsa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan tersebut tidak selalu berjalan harmonis.

Pada kenyataannya, perbedaan justru kerap menimbulkan kesalahpahaman dan konflik yang dapat memecah hubungan antar masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa hidup rukun di tengah perbedaan masih menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia.

Salah satu penyebab utama dari persoalan tersebut adalah cara pandang masyarakat terhadap perbedaan itu sendiri. Identitas sering kali dijadikan pembatas antarindividu, bukan sebagai ruang untuk saling memahami. Fanatisme berlebihan, prasangka, dan stereotip negatif kemudian tumbuh dan membuat hubungan sosial menjadi renggang, Jika tidak diimbangi dengan nilai kebersamaan dan saling menghargai, keberagaman justru berpotensi berubah menjadi sumber perpecahan.

Di tengah kondisi tersebut, saya melihat bahwa beberapa daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang mampu menjaga keharmonisan masyarakatnya secara turun-temurun. Salah satunya terdapat di Indonesia bagian timur, tepatnya di Maluku, melalui sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Pela Gandong. Tradisi ini merupakan ikatan persaudaraan antardesa yang tidak didasarkan pada kesamaan agama maupun latar belakang sosial, melainkan pada kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara. Melalui Pela Gandong, masyarakat Maluku diajarkan untuk saling menjaga dan membantu tanpa memandang perbedaan. Ikatan ini sering menghubungkan desa-desa dengan latar belakang agama yang berbeda. Masyarakat Muslim dan Kristen hidup berdampingan dalam hubungan persaudaraan yang erat. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dan hidup rukun dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai Pela Gandong tersebut juga saya rasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Di Desa Mesiang, Kecamatan Aru Tengah Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku—desa tempat saya berasal—masyarakat hidup dalam keberagaman agama, marga, dan latar belakang keluarga. Meskipun demikian, hubungan sosial antarwarga tetap terjaga dengan baik hingga sekarang. Nilai persaudaraan Pela Gandong dapat terlihat jelas, terutama saat perayaan hari besar keagamaan, di mana seluruh masyarakat saling terlibat dan mendukung satu sama lain. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang telah diwariskan oleh leluhur kami sejak dulu.

Melalui Pela Gandong, masyarakat Maluku menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari kehidupan bersama. Tradisi ini mengajarkan bahwa persaudaraan dapat tumbuh dari sikap saling menghargai, menjaga, dan menghormati satu sama lain.

Dengan demikian, Pela Gandong menjadi contoh kearifan lokal yang masih relevan bagi masyarakat Indonesia hingga saat ini. Di tengah keberagaman yang sering memicu konflik, nilai-nilai Pela Gandong mengingatkan bahwa hidup rukun di tengah perbedaan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.