Ngekos atau Laju? Kebimbangan Seorang Mahasiswa Terhadap Jarak Rumah

Kalian pasti sudah tidak asing lagi bukan dengan Mahasiswa yang Ngekos dekat kampus mereka agar lebih cepat datang ke Kampus dan lebih dekat dengan akses ke Kampus. Tapi banyak yang tidak sadar bahwa banyak juga Mahasiwa yang nge-laju karena jarak rumah mereka yang masih dekat dengan area kampuss, sekitar 1-5 KM. Lalu bagaimana dengan Mahasiswa yang jarak rumahnya lebih dari 20 KM dari Kampus yang juga laju dari rumah?

Sudah 3 bulan lamanya perkuliahan di Universitas Sebelas Maret dilaksanakan secara tatap muka 100%. Tidak ada lagi zoom, google meet,dsb atau pembelajaran secara daring. Hal ini merupakan berita gembira dan sangat membuat para mahasiswa hingga para jajaran dosen antusias dan semangat belajar tentunya. Berita ini tidak luput dari perhatian para mahasiswa baru atau kerap disapa MABA yang menunggu antusiasme PKKMB. Mereka menunggu kepastian apakah PKKMB dilaksanakan secara online/offline. Karena para mahasiswa luar kota harus mempersiapkan banyak keperluan untuk kuliah kedepannya. Salah satunya adalah mencari kos. Mencari kos di UNS bukanlah hal yang mudah karena mencari kamar di waktu ini berbarengan dengan mahasiswa semester atas yang juga mencari kos-kosan untuk mereka kuliah di Bulan Agustus nanti.

Setelah dikabari PKKMB akan dilaksanakan secara offline tentunya mereka sangat antusias mencari kos dan mulai pindahan. Hal ini tidak luput dari si A seorang maba yang jarak rumahnya 52 KM dari kampus, yaitu Gemolong,Sragen. Ketika melewati Jalan provinsi jarak tempuh hanya butuh 40 menit apabila jalan lancar (tidak macet). Tetapi pada bulan Juni-September terdapat pembangunan jalan di daerah Gondangrejo, Karanganyar yang membuat jarak tempuh perjalanan mencapai 1 jam lebih apabila tidak bersamaan dengan anak sekolah dan berangkat/pulang kerja.

Ketika awal-awal PKKMB (bulan Agustus) si A masih merasa bahwa ia mampu melaju dari rumah ke kampus apabila tidak ada pekerjaan jalan. Karena tetangganya banyak yang kuliah dan kerja di Kota Solo dan mampu pulang pergi setiap hari tanpa mengeluh. Ia merasa bahwa Solo masih dekat apabila dengan Kota Jogja yang harus ditempuh 2 jam. Si A juga bernegosiasi dengan ibunya apakah ia perlu kos pada saat kuliah nanti atau tidak. Tetapi ibunya juga menyarankan hal yang sama dipikirannya.

Si A juga sadar bahwa tidak dia saja yang laju. Banyak teman SMA dia juga yang laju dan akhirnya berangkat dari Gemolong bersama-sama pada saat awal PKKMB. Tapi seiring berjalannya waktu jadwal kuliah mereka tidak berbarengan dan akhirnya si A laju setiap hari sendirian. Perkuliahan dimulai dan terdapat waktu-waktu sulit yang A rasakan. Terkadang terdapat dosen yang membatalkan jadwal kuliahnya pada saat dia mulai berangkat dan sialnya ia membuka pesan dosenya di jalan hingga pernah ia membukanya saat di Kampus. Sangat membuang-buang waktu, tenaga, dan juga uang. Tapi itu semua merupakan resiko karena ia memilih pilihan tersebut.

Permasalahan lain yang dirasakan oleh A adalah musim hujan. 3 minggu mendekati bulan November Si A pernah pulang 1 minggu berturut-turut kehujanan saat ingin pulang dari kampus. Jika dulu ia pulang menunggu awan sore. Sekarang ia memilih segera pulang agar tidak terjebak hujan saat mengendarai kendaraan. Pernah satu kali ia lupa membawa jas hujan dan sudah pukul 4 sore ia pulang kehujanan. Akhirnya ia menunggu hujan reda. Pernah sekali juga ia terjebak macet di saat pekerjaan jalan karena para pengendara motor, truk, dan mobil tidak ada yang mau mengalah. Sudah hujan, semua kendaraan macet menjadi satu tidak ada yang mau mengalah, belum sampai rumah diomeli orang tua karena tidak segera pulang.

Jika dibandingkan, Ngekos atau laju lebih banyak boros ketika Si A laju. Pada saat Ngelaju Si A harus mengisi bensin 2-3 hari sekali. Jika kos paling tidak seminggu seharusnya bensin dapat terjaga. Lalu uang makan, ketika Si A nge laju paling tidak ia harus mengeluarkan Rp. 50.000 sehari untuk makan. Ketika Si A kos banyak pertimbangan hemat dengan memasak nasi dan lauk sendiri. Juga ketika pulang kuliah pada sat hujan ia tidak perlu 1 jam perjalanan untuk pulang dengan keadaan basah kuyup. Tetapi jika ia tetap laju, setiap hari ia bertemu dengan sanak keluarga (ayah,ibu,adik dan kakak), makan terjamin, ada yang mengingatkan makan, ada yang diajak cerita,dll yang pada saat kos harus dilakukan sendiri tanpa ada bantuan dari orang lain.

Selain itu ketika mahasiswa Ngekos, semua barang-barang harus dibeli sendiri tanpa bantuan ibu, dari kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi,odol,dll. Ia haru menyiapkan makananya sendiri dari membuat/membeli makan hingga membersihkan alat makannya sendiri, membersihkan kamar kos sendiri, dan mencuci baju sendiri (agar hemat). Anak kos juga harus berhemat agar uang yang diberi oleh orang tua cukup sampai akhir bulan nanti. Semua itu tidak akan dipikirkan ketika kita di rumah karena sudah diurusi oleh ibu dan ayah.

Jadi bisa disimpulkan bahwa nge kos atau laju sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing bagi mahasiswa. Jika ingin dekat dengan orang tua dan keluarga maka tinggal bersama orang tua dengan 1 jam perjalanan. Tetapi jika ingin dekat perjalanan ke kampus dan mengehemat bensin maka Ngekos solusinya. Tetapi semua itu kembali ke pribadi masing-masing karena yang menjalani ia sendiri. Menurut kalian bagaimana? Apakah Si A harus Ngekos/ tetap laju?