Migrasi bahasa dan teori pendukungnya

Migrasi Bahasa
Migrasi bahasa memiliki kaitan penting dengan istilah wilayah atau area dan daerah atau region. Menurut Keraf (1996), berpendapat bahwa migrasi bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu usah pengumpulan asumsi, batasan, hipotesa yang membahas gerak dan arah migrasi bangsa-bangsa zaman prasejarah. Migrasi bahasa berbicara tentang penutur atau pemakai bahasa disuatu tempat tertentu.
Bahasa dapat dipakai oleh suatu masyarakat yang secara geografis bersinambung atau tempat yang secara geografis terpisah satu sama lain. Setiap tempat, entah itu terpisah secara geografis maupun tidak yang dihuni oleh penutur-penutur bahasa yang sama disebut daerah bahasa atau region. Berdasarkan penjelasan di atas, sebenarnya ada dua dalil yang menjelaskan tentang teori migrasi bahasa antara lain :
Wilayah asal bahasa-bahasa kerabat merupakan suatu daerah yang berkesinambungan;
Jumlah migrasi yang mungkin direkonstruksi akan berbanding terbalik dengan jumlah gerak perpindahan dari setiap bahasa.
Berdasarkan teori tersebut maka dapat disimpulkan bahwa teori (1) menjelaskan bahwa untuk menemukan suatu daerah asal yang merupakan daerah kesatuan bagi bangsa-bangsa yang terpisah letaknya sekarang. Sedangkan teori (2) menjelaskan tentang suatu kaidah gerak yang paling minimal, artinya jumlah gerak yang paling kecil memiliki peluang paling besar sebagai migrasi yang sebenarnya.

Teori Kulturkreis
Konsep dasar teori ini adalah asumsi tentang adanya Kulturkreis yang dapat diterjemahkan dengan lingkaran kebudayaan. Ada 3 pendapat yang menyatakan tentang teori kulturkreis, antara lain:
Sprachenkreis
Dari perbandingan kebudayaan (trait) yang ada, maka dapat ditarik suatu lingkaran (kreis) yang disebut dengan sprachenkreis.
Kriterion Kualitatif
Diperoleh dengan membandingkan tiap-tiap unsur kebudayaan (trait) dari dua kebudayaan atau lebih yang bertujuan untuk membedakan ciri-ciri khusus dari setiap pokok kebudayaan. Kesamaan kualitatif yang diperoleh antara dua kebudayaan menunjukkan ada hubungan historis antar unsur kebudayaan tersebut.
Kriterion Kuantitatif
Diperoleh dengan menjumlahkan semua kriterion kualitatif yang sama dari sejumlah trait yang dibandingkan. Bila unsur kesamaan itu secara kuantitatif banyak jumlahnya, maka terdapat hubungan historis yang kuat antara kedua bangsa tersebut.
Teori Asal Sederhana
Asal-usul bahasa merupakan salah satu topik kajian yang banyak diperdebatkan oleh para linguis. Dr. Jacob seorang linguis Prancis mengemukakan bahwa bahasa berkembang dari sistem tertutup menuju terbuka. Perkembangan pesat terjadi pada zaman pertanian mulai berkembang di kalangan manusia pada saat itu.
Secara garis besar teori asal sederhana timbulnya umat manusia mengenal sebuah bahasa dikelompokkan ke dalam dua fase yaitu :

(1) Divine Origin Phase / Fase Kedewaan
Pada fase ini manusia dianggap masih memiliki kebudayaan primitif. Fase ini terjadi pada sebelum abad ke-18. Teori antripologi menjelaskan tentang fase ini yakni manusia zaman fase ini masih banyak yang memiliki keyakinan bahwa permulaan sejarah bahasa manusia berasal dari Tuhan, Dewa, Nabi atau lain sebagainya. Manusia zaman ini selalu mengkaitkan hal berbau mistik, gaib dan tahayul dalam mempelajari bahasa.
(2) Organic Phase
Fase ini dimulai pada akhir abad ke-18. Manusia mulai menggunakan logika dan hasil observasi dalam memelajari sebuah bahasa. Hasil observasi yang dilakukan dirasa lebih akurat dan dapat diterima secara logika karena lebih bersifat ilmiah. Pada fase organis ini muncul teori asal usul bahasa, antara lain :

  1. Teori Tekanan Sosial
  2. Teori Onomatopetik atau Ekoik
  3. Teori Pooh-Pooh/Teori Interjeksi
  4. Teori Dingdong/Teori Nativistik
  5. Teori ‘Yo-He-Ho’
  6. Teori Isyarat/Teori Isyarat Oral
  7. Teori Permainan Vokal
  8. Teori Kontrol Sosial
  9. Teori Kontak
  10. Teori Hockett-Ascher