Merakit Pilihan

ar1

Jarak antara kosanku dengan tempat menuntut ilmu itu sangat dekat, tak perlu menggunakan kendaraan. Pernah aku ukur saat itu, hanya perlu melakukan 10 langkah untuk masuk ke gerbang SMA yang selalu kubanggakan, dari gerbang kosanku. Bisa saja kosanku ini masuk kedalam predikat kosan paling dekat se-Provinsi Lampung jika memang predikat itu ada. Banyak orang bilang masa SMA adalah masa yang paling indah dan menyenangkan, akan begitu banyak kenangan yang tak telupakan dan memberikan kesan yang akan selalu disimpan. Aku percaya akan hal itu karena menurutku, apapun yang telah kita lalui akan selalu banyak kenangan baik itu masa SD, SMP,SMA, dan Perguruan Tinggi. Masuk ke SMA yang kumau adalah salah satu hal yang ingin kucapai dan saat ini aku sudah mencapai hal tersebut, sangat bahagia begitu bersyukurnya aku bisa masuk SMA yang selalu kumimpikan, dengan niat yang sangat tinggi aku ingin membuktikan bahwa 3 tahun masa SMA-ku akan kubuat sangat menyenangkan indah dan tak terlupakan.

Aku awalnya memiliki sedikit niatan untuk bisa masuk ke kelas percapatan, ada banyak rumor yang mengatakan kalau kamu ikut kelas percepatan kehidupan SMA-mu tak akan menyenangkan. Rumor tersebut ternyata sangat berpengaruh bagiku sehingga aku menganggap kakak kelasku yang hanya bersekolah 2 tahun itu tak memiliki kehidupan yang menyenangkan. Namun siapa sangka setelah satu semester kulalui aku dan 30 temanku dari kelas lain dikumpulkan di aula, rasanya sangat deg-degan seperti mau copot jantungku rasanya, jujur aku sudah memliki firasat akan dikumpulkan seperti ini, karena sebelumnya sudah diberi bocoran dari wali kelasku bahwa akan diadakan kelas percepatan. Aku dan temanku Rachel saling duduk bersampingan, Rachel ini teman sekelasku yang juga menjadi teman sekamarku bahkan kita satu eskul bersama, sangat mengejutkan bukan. Rachel langsung setuju dan memang berniatan untuk masuk kelas percepatan beda denganku yang bimbang dan harus berdiskusi matang-matang dengan kedua orangtuaku, meminta saran dari kakakku dan akhirnya aku menyetujui dan memilih untuk masuk ke dalam kelompok belajar cepat tersebut.

Kata siapa anak kelas percepatan tak bisa menikmati masa SMA, sungguh aku ingin bertanya kepada penyebar rumor yang dulu juga telah mempengaruhiku, akan kuceritakan bagaimana sebenarnya masa SMA anak kelas percepatan. Selain sistem belajar kupikir kelas kami tak ada bedanya juga dengan kelas lain malah kelas kami memiliki sistem yang fleksibel dan cukup memudahkan siswanya dalam belajar, kami juga tetap bisa mengikuti eskul dan kegiatan lomba seperti yang lain. Kompak, jujur, baik, dan lucu itulah kata-kata yang bisa mendeskripsikan kelasku. Hal tersebut sangat kontradiktif dengan rumor yang beredar di lingkungan sekolah. Sampai akhirnya kami memasuki puncak beban pikiran. Bulan September, saat itu aku baru memasuki semester 4 dan ada beberapa mata pelajaran yang sudah semester 5, yang menjadi bebanku saat itu adalah kelas kami sudah diminta untuk data prodi SNMPTN.

Terlalu awal bagiku data tersebut diminta saat kami masih sangat sibuk mengejar ketertinggalan sks dibeberapa mata pelajaran dan juga banyaknya jadwal ujian yang harus kita tempuh. Kami dibimbing oleh guru yang sangat berjasa yaitu Bapak Hn. Beliau merupakan guru yang mendampingi kelas kami dalam pendataan prodi untuk SNMPTN, masih terekam jelas diingatanku setiap hari Kamis di jam mata pelajaran beliau, kami selalu konsultasi tentang bakat dan prodi yang kami ingin pilih kepada beliau. Aku cukup bingung akan pilihanku, pilihan pertamaku adalah prodi farmasi bukan tanpa alasan atau hanya ingin sok keren saja, aku yang pernah bergabung dengan olimpiade kimia merasa bahwa prodi tersebut cocok dengan bakat dan keterampilanku. Aku juga merasa bahwa Pak Hn akan mendukung pilihanku tersebut, saat konsultasi dengan Pak Hn beliau bertanya dimana Perguruan Tinggi yang akan aku pilih untuk pendaftaran SNMPTN aku dengan percaya diri menjawab akan mendaftar ke salah satu Univeritas Top di Semarang atau Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta jawabku kepada beliau, namun bukan jawaban yang mengenakan yang kudapat tetapi, beliau tak percaya pada jawabanku tersebut dan lebih merekomendasikan untuk mendaftar prodi farmasi di Perguruan Tinggi Negeri di Lampung. Aku mendapat alasan yang logis kenapa beliau lebih menyarankan untuk mendaftar di univeristas tersebut, namun aku hanya diam saat beliau menyarankan itu. Hari berganti sampai akhirnya Bulan Januari, aku menyiapkan banyak berkas untuk pendaftaran masuk perguruan tinggi dengan jalur akademik, ada 3 Perguruan Tinggi di Jogja yang kudaftar dengan prodi pilihan pertamaku yaitu farmasi adapun pilihan kedua aku mendaftar untuk prodi akuntansi. Sembari menunggu pengumuman perguruan tinggi dan pengisian data untuk SNMPTN di Portal LTMPT aku memberanikan diri untuk berkonsultasi lagi dengan Pak Hn, beliau berkata pilihanku untuk mendaftar mandiri di Perguruan Tinggi di Jogja itu merupakan pilihan yang tepat dan Alhamdulillah aku diterima di ketiga perguruan tinggi di Jogja itu tapi cukup mengecewakan karena bukan pilihan pertamaku yang lolos melainkan pilihan keduaku, sedih bercampur bahagia aku cukup tertekan dan tak mengerti kenapa aku tidak lolos pilihan pertamaku.

Jumat, Latihan Ujian Sekolah hari pertama. Pak Hn datang ke lab komputer dimana kelasku tersebut melakukan Latihan Ujian Sekolah. Beliau kemudian memanggilku, aku yang merasa tidak memiliki janji dengan beliau kemudian bertanya, “Bagaimana Pak, apa ada sesuatu yang berkaitan dengan saya.” tanyaku. Beliau menjawab seperti ini, “Kamu tertarik tidak untuk mendaftar PMDK di Univeristas di Surakarta ada prodi yang saya rekomendasikan dan akan cocok dengan bakat serta keterampilanmu, prodi tersebut adalah Program studi D-4 Demografi dan Pencatatan Sipil, kalau kamu tertarik coba lengkapi berkasnya dan segera mendaftar, nanti akan dibantu oleh Bu Eka untuk proses pendaftarannya.”Aku yang sebenarnya belum tau prodi tersebut kemudian menjawab iya dan akan mencari tau lebih dulu tentang prodi itu kemudian akan mendaftar jika memang dirasa cocok. Sepulang sekolah aku langsung mencari informasi tentang prodi tersebut dan ternyata Program studi Demografi dan Pencatatan Sipil sangat menarik, langsung kuhubungi ayahku untuk meminta restu bahwa ingin mendaftar prodi ini. Alasanku memilih untuk mendaftar karena kurasa prodi ini sangat unik, faktanya prodi Demografi dan Pencatatan Sipil merupakan prodi pertama yang ada di Indonesia dan hanya ada di Kota Surakarta. Program Studi Demografi dan Pencatatan Sipil mempelajari tentang administrasi dan kependudukan, memiliki program kuliah praktik yang sangat menarik, diajar langsung oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan lulusan dari prodi ini akan menjadi tenaga kerja profesional di bidang pencatatan sipil.Tenaga kerja di bidang ini juga masih belum banyak sehingga peluang kerja yang didapatkan masih luas.

Pengumuman SNMPTN dan PMDK hanya berbeda 2 hari, aku memutuskan untuk melihat pengumuman tersebut di hari yang sama, yaitu saat pengumuman PMDK. Warna merah itu yang dapat kulihat dalam pengumuman SNMPTN, kemudian aku meminta ayahku untuk membuka pengumaman PMDK. “Selamat! Anda dinyatakan lolos Seleksi SPMB jalur PMDK.” begitu kata ayahku, bersyukur sekali ada sedih juga bahagia. Memang bukan pilihan pertamaku yang kudapat tapi aku merasa apa yang kupilih merupakan sebuah peluang dan bagian dari sebuah cita-cita, hal yang kuinginkan dan akan kuraih. Sekarang aku sudah menjadi Mahasiswa Program studi Demografi dan Pencatatan Sipil. Menjadi bagian dari prodi ini merupakan sebuah pilihan yang berdampak besar memiliki banyak sekali pelajaran dan kenangan, bertemu teman-teman dari berbagai wilayah dan belajar mata kuliah yang berkaitan tentang sosial merupakan hal yang sangat baru dan menyenangkan. Aku merasa enjoy dan menikmati kuliah di prodi ini, sangat tidak sabar untuk bisa belajar secara langsung dan dapat mengunjungi kampus. Untuk semester selanjutnya aku berharap diberi kelancaran dalam kegiatan kuliahku, menjadi mahasiswa yang lebih aktif, berprestasi, melatih keterampilan diri, dan cara berkomunikasi , sehingga dapat menjadi penunjang untuk menjadi tenaga kerja yang profesional dan dapat bergabung menjadi ASN di instansi pemerintah. Menjadi orang yang menginspirasi dan dapat membanggakan orangtua adalah hal yang selalu ingin kucapai dan tujuanku. Ini bukan lagi tentang pilihan satu atau pilihan dua tapi ini merupakan keputusan dalam pilihanku.

ar2 (2)