Mengikuti Tradisi Saparan di Desa Balesari Sebagai Wujud Syukur dan Kebersamaan

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti tradisi saparan di desa saya, yaitu Desa Balesari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Tradisi saparan merupakan salah satu warisan budaya yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini. Setiap tahun, warga selalu menantikan momen ini karena menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kegiatan saparan juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga serta menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, sehingga disebut “saparan”. Umumnya dilakukan setelah musim panen, ketika masyarakat merasa lega dan ingin mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Sejak pagi hari, suasana desa sudah ramai. Warga berbondong-bondong datang ke makam leluhur untuk berdoa bersama. Saya datang bersama keluarga, duduk lesehan di sekitar makam sambil mengikuti lantunan doa dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Suasananya terasa khidmat, namun juga hangat karena hampir seluruh warga hadir tanpa memandang usia maupun status sosial.

Setelah acara doa bersama selesai, warga berkumpul di masjid untuk makan bersama. Makanan yang disajikan berasal dari hasil bumi warga sendiri. Ada nasi, sayur lodeh, tempe goreng, sambal, dan lauk sederhana lainnya yang dibawa dari rumah masing-masing. Momen makan bersama ini menjadi saat yang menyenangkan karena penuh dengan keakraban dan canda tawa. Semua warga duduk berbaur tanpa membedakan siapa pun, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Siang harinya, acara dilanjutkan dengan arak-arakan hasil bumi. Warga membawa berbagai hasil pertanian seperti padi, jagung, sayur-mayur, buah-buahan, dan hasil ternak yang dihias menarik. Arak-arakan tersebut berjalan mengelilingi desa diiringi tabuhan kentongan dan gamelan sederhana. Saya ikut berjalan bersama teman-teman sebaya sambil membawa bendera kecil. Banyak warga yang menonton di pinggir jalan dengan wajah gembira, melambaikan tangan, dan tersenyum bangga melihat tradisi yang diwariskan turun-temurun ini.

Menjelang sore, digelar pertunjukan kesenian sebagai penutup acara. Di Desa Balesari, kesenian yang biasa ditampilkan adalah jathilan dan wayang kulit. Pertunjukan jathilan berlangsung dari sore hingga menjelang malam, menampilkan para penari yang bergerak penuh semangat diiringi alunan gamelan khas Jawa. Setelah itu, malam harinya dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit yang menjadi acara puncak dan paling ditunggu oleh warga. Lapangan desa dipenuhi penonton, sementara di sekitarnya banyak pedagang yang menjajakan berbagai makanan dan minuman, membuat suasana semakin meriah. Saya sangat menikmati momen itu karena terasa sekali semangat dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

Bagi masyarakat Balesari, saparan bukan hanya sekadar acara tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur dan wujud rasa syukur kepada Tuhan. Kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Dalam setiap pelaksanaannya, semua orang saling membantu mulai dari persiapan hingga akhir acara tanpa pamrih. Semangat gotong royong inilah yang membuat tradisi ini tetap hidup hingga sekarang.

Dari pengalaman mengikuti tradisi saparan, saya belajar bahwa budaya lokal memiliki makna yang sangat dalam. Saparan bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi seperti ini perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Dengan cara itulah, kita dapat menunjukkan rasa cinta terhadap budaya sendiri dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.